Selasa, 24 Februari 2009

SI BLACK: Mahalnya menjadi Katolik


Suatu hari Jeng Maria (JM) sedang curhat sama suaminya, Si BLACK (SB) yang baru pulang dari rapat di gereja. Ia mengeluh dan seringkali berpikir koq hidup menggereja ini rasa-rasanya semakin berat saja, tidak hanya ditutut untuk terlibat dalam kegiatan menggereja tetapi juga harus nyumbang ini itu - ini itu.
JM : Pakne!! Coba dech diitung-itung. Kita ini menjadi orang katolik koq makin susah aja ya!!
SB : Susah gimana to maksudmu ki, bune??
JM : Ya susah....coba dech dipikir...bapak wae nek rapat pulangnya malam-malam gini...lum sempat istirahat habis kerja tadi..bahkan seminggu bisa rapat berkali-kali di gereja lah, di wilayah lah di lingkungan lah..dimana-mana lah...ga ada waktu untuk keluarga..ner ga?
SB : ini khan pelayanan to, bune...Gusti yang bakal nyukupi koq. Mbok ya santai wae pikirane!!
JM : Santai gimana to pakne ki...lha ki wes pirang-pirang dino dianggurke gini loh...nek mbengi apa maneh yen udan...rasane adem...padahal yo duwe bojo...tapi koq ra digatekke....aku ki kangen......(ups...disensor!!!).
SB : Halah bune ki loh...
JM : lum lagi, pakne...yen dipikir-pikir, awake dewe ki ternyata akeh duwite loh nek dadi wong katolik..coba dietung, pakne. Berangkat ke gereja khan mbecak PP 10.000, durung tuku pepadhang nek hanya 500 khan yo ngisin-isini, pakne, jadi ya 1000. Kolekte..mosok yo mung 1000..mestine yo 5000 minimal. Wes piro kuwi pakne.
SB : Lha berapa bune...10.000+1000+5000= 16.000. Njur?
JM : Kuwi khan misa sekali doank to..lha nek sesasi berarti khan dikalikan empat to, pakne...berarti 64.000. coba bayangke??
SB : sik..sik..bune, tak bayangke dhisik...
JM : durung maneh...amplop persembahan 10.000, dadine 70.000 sesai kanggo greja. Lha iki mangsa prapaskah mestine yo ana amplop panitia paskah...lha yo sasi iki bisa-bisa habis 100.000 no pakne..
SB : Halah..bune ki loh, itungan banget...itu ga seberapa bune...dibanding dengan rahmat Tuhan yang kita terima. Seharusnya kita itu isin...nek baru segitu wae wez mengeluh dan mengeluh....bersyukur to bune..
JM : bersyukur gimana to pakne iki??
SB : mosok kanggo Gusti, kita mau etung-etungan??? Emang berani?? Kita ini harusnya bersyukur bune..bersyukur.Jeng Maria akhirnya diam..tidak tahu harus gimana lagi....di hatinya bertanya-tanya...bersyukur??? bersyukur?? Benarkah aku harus bersyukur???mengapa???

Minggu, 22 Februari 2009

Seruan Bersama PGI-KWI Dalam Rangka Pelaksanaan Pemilu 2009

Saudara-saudara terkasih di dalam Yesus Kristus,


1. Kita patut menaikkan syukur ke hadirat Allah dalam Yesus Kristus, sebab atas anugerah-Nya bangsa dan negara kita dapat mengukir karya di tengah sejarah, khususnya dalam upaya untuk bangkit kembali serta membebaskan diri dari berbagai krisis yang mendera sejak beberapa tahun terakhir ini. Anugerah, penyertaan dan bimbingan Tuhan bagi perjalanan sejarah negeri ini, sebagaimana yang terus-menerus dimohonkan melalui doa-doa syafaat kita sebagai Gereja, adalah modal utama dan landasan yang amat kokoh bagi bangsa dan negara kita untuk berjuang lebih gigih dalam mencapai cita-cita proklamasi. Sejalan dengan itu Pemerintah dan seluruh komponen bangsa harus berupaya dengan lebih setia dan bersungguh-sungguh agar keinginan luhur bangsa sebagaimana diamanatkan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 yaitu merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, sejahtera dan damai, dapat diwujudkan.


Pemilihan Umum (Pemilu), baik untuk memilih anggota-anggota legislatif, maupun memilih Presiden dan Wakil Presiden akan dilaksanakan pada bulan April dan Juli 2009. Persiapan-persiapan pelaksanaannya telah dimulai sejak beberapa waktu yang lalu melalui proses penyusunan perangkat perundang-undangan, pendaftaran dan verifikasi partai-partai politik calon peserta Pemilu, serta pencalonan bakal anggota-anggota legislatif dan berbagai persiapan lainnya.


Undang-undang Pemilu kali ini mensyaratkan beberapa hal baru dan mendasar yang sangat perlu dipahami oleh seluruh anggota masyarakat. Untuk mengawal proses Pemilu yang penahapannya sangat panjang dan mengandung beberapa ketentuan baru, kami mengajak seluruh umat kristiani untuk mempelajari aturan perundang-undangan itu dengan cermat dan cerdas agar keterlibatan dalam Pemilu sungguh-sungguh menghasilkan wakil-wakil rakyat yang berkualitas dan memiliki tanggungjawab terhadap kelangsungan hidup bangsa Indonesia bahkan mampu melahirkan pemimpin yang benar-benar memiliki wibawa karena didukung sepenuhnya oleh rakyat.


Mengingat pentingnya peristiwa nasional ini, Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPH-PGI) dan Presidium Konferensi Waligereja Indonesia (Presidium KWI) menyampaikan Seruan Bersama bagi umat kristiani baik yang ada di Tanah Air maupun yang berdomisili di luar negeri.


2. Kami memahami bahwa pelayanan Gereja pertama-tama adalah sebagai tanda kasih Allah bagi umat manusia. Politik adalah salah satu bidang pelayanan yang seharusnya juga ditujukan bagi perwujudan kasih Allah itu. Kasih Allah itu kian nyata dalam upaya setiap warga mengusahakan kesejahteraan umum. Alkitab menyatakan, "Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu" (bdk.Yeremia 29:7). Karya seperti itu dijalankan dengan mengikuti dan meneladani Yesus Kristus, Sang Guru, Juruselamat dan Tuhan, yang secara khusus menyatakan keber-pihakan-Nya terhadap kaum yang kecil, lemah, miskin, dan terpinggirkan.
Dalam semangat mendasar ini Gereja mendukung pelaksanaan Pemilu yang berkualitas, yang diharapkan akan menghasilkan wakil-wakil rakyat dan pejabat-pejabat pemerintah yang benar-benar memiliki kehendak baik untuk bersama seluruh rakyat Indonesia mewujudkan kesejahteraan umum.


Atas dasar pertimbangan di atas kami menyerukan agar hal-hal berikut diperhatikan dengan saksama:
Pertama, perlu disadari bahwa melalui peristiwa Pemilu hak-hak asasi setiap warga negara di bidang politik diwujudkan. Oleh karena itu setiap warga negara patut menggunakan hak pilihnya secara bertanggungjawab dan dengan sungguh-sungguh mendengarkan suara hati nuraninya. Bagi kita, Pemilu pada hakikatnya adalah sebuah proses kontrak politik dengan mereka yang bakal terpilih. Tercakup di dalamnya kewajiban mereka yang terpilih untuk melayani rakyat, dan sekaligus kesediaan untuk dikoreksi oleh rakyat. Keinginan dan cita-cita bagi adanya perubahan serta perbaikan kehidupan bangsa dan negara dapat ditempuh antara lain dengan memperbarui dan mengubah susunan para penyelenggara negara. Sistem Pemilu yang baru ini membuka peluang untuk mewujudkan cita-cita perubahan dan perbaikan itu dengan memilih orang-orang yang paling tepat. Alkitab menyatakan: "...pilihlah dari antara mereka orang-orang yang cakap, setia, dan takut akan Tuhan, dipercaya dan benci pada pengejaran suap... " (bdk. Keluaran 18:21).
Kedua, masyarakat perlu didorong untuk terus-menerus mengontrol mekanisme demokrasi supaya aspirasi rakyat benar-benar mendapat tempat. Sistem perwakilan yang menjadi tatacara pengambilan keputusan ternyata sering meninggalkan aspirasi warga negara yang diwakili. Hal ini disebabkan karena para politisi wakil rakyat itu dalam menjalankan tugasnya ternyata tidak mampu secara optimal mewujudkan keinginan rakyat bahkan mengingkari janji dan komitmen mereka. Tindakan mereka tidak dapat dipantau sepenuhnya oleh rakyat bahkan tidak sedikit dari mereka yang ingin terpilih, beranggapan bahwa dengan jabatan itu mereka akan memperoleh keuntungan.
Ketiga, hasil-hasil Pemilihan Umum harus benar-benar menjamin bahwa Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 tetap dipertahankan sebagai dasar negara dan acuan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Pemilihan Umum seharusnya memberikan jaminan bagi kelestarian Negara Kesatuan Republik Indonesia, jaminan pelaksanaan kebebasan beragama, terwujudnya pemerintahan yang adil, bersih dan berwibawa.
Hasil-hasil Pemilihan Umum harus menjamin terwujudnya kehidupan politik yang makin demokratis, pembangunan yang menyejahterakan rakyat, adanya kepastian hukum dan rasa aman dalam kehidupan masyarakat.


3. Kita mengambil bagian dalam Pemilihan Umum sebagai warga negara yang bertanggungjawab dan sekaligus sebagai warga Gereja yang taat kepada Tuhan. Dapat saja terjadi bahwa di dalam suatu Jemaat atau Gereja, terdapat anggota-anggota yang berdasarkan hati nurani dan tanggungjawab masing-masing menerima pencalonan diri dan atau menjatuhkan pilihannya kepada kekuatan-kekuatan sosial politik yang berbeda-beda. Dalam hal demikian, maka pilihan-pilihan yang berlain-lainan itu yang dilakukan secara jujur, tidak boleh mengganggu persekutuan dalam Jemaat dan Gereja; sebab persekutuan dalam Jemaat dan Gereja tidak didasarkan atas pilihan politik yang sama, melainkan didasarkan atas ketaatan terhadap Tuhan yang satu. Dalam upaya menjaga netralitas dan obyektivitas pelayanan gerejawi maka pimpinan Gereja/Jemaat tidak dapat merangkap sebagai pengurus partai politik. Amanat Tuhan agar umat-Nya menjadi garam dan terang dunia, dapat dijalankan dalam wadah kekuatan-kekuatan sosial-politik yang berlain-lainan sesuai dengan hati nurani dan pilihan yang jujur dari masing-masing anggota jemaat dan Gereja. Para warga Gereja yang melayani kepentingan rakyat dan negara melalui wadah-wadah yang berlainan harus selalu saling mengasihi dan hormat-menghormati, sebab mereka semuanya membawa amanat yang sama, yaitu untuk "berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah" (bdk. Mikha 6: 8).

Demikianlah Seruan Bersama kami. Kiranya Tuhan Allah, akan senantiasa memberkati bangsa kita dalam menapaki hari-hari cerah di masa depan. Semoga Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kita berkenan menyelesaikannya pula (bdk. Filipi 1:6).

JAKARTA, OKTOBER 2008
Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia

Ketua Umum,
ttd.
Pdt. Dr. A.A. Yewangoe,

Sekretaris Umum,
ttd,
dt. Dr. Richard M. Daulay

Konferensi Waligereja Indonesia

Ketua,
ttd.
Mgr. M.D. Situmorang, OFM.Cap.

Sekretaris Jenderal,
ttd,
Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, MSF

PERATURAN PUASA DAN PANTANG 2009

Mengacu Statuta Keuskupan Regio Jawa 1995 pasal 136 peraturannya ditetapkan sebagai berikut:
  1. Hari Puasa tahun 2009 ini dilangsungkan pada han Rabu Abu tanggal 25 Februari, dan Jumat Agung tanggal 10 April. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama masa Prapaskah sampai dengan Jumat Agung.
  2. Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berumur 18 tahun sampai awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang berumur genap 14 tahun ke atas.
  3. Puasa dalam arti yuridis, berarti makan kenyang hanya sekali sehari. Pantang dalam arti yuridis, berarti memilih tidak makan daging atau ikan atau garam, atau tidak jajan atau merokok.Karena peraturan puasa dan pantang cukup ringan, maka kami anjurkan, agar secara pribadi atau bersama-sama, misalnya oleh seluruh keluarga, atau seluruh Iingkungan, atau seluruh wilayah, ditetapkan cara puasa dan pantang lebih berat, yang dirasakan Iebih sesuai dengan semangat tobat dan matiraga yang ingin dinyatakan. Tentu saja ketetapan yang dibuat sendiri tidak mengikat dengan sanksi dosa.
  4. Hendaknya juga diusahakan agar setiap orang beriman kristiani baik secara pribadi maupun bersarna-sama mengusahakan pembaharuan hidup rohani, misalnya dengan rekoleksi, retret, latihan rohani, ibadat jalan salib, meditasi, dan sebagainya.
  5. Salah satu ungkapan tobat bersama dalam masa Prapaskah ialah Aksi Puasa Pembangunan atau APP, yang diharapkan mempunyai nilai dan dampak pembaharuan pribadi, serta rnempunyai nilai dan dampak peningkatan solidaritas pada tingkat paroki. keuskupan dan nasional.
Tema APP tahun 2009 ini berbunyi:“BERSAMA KAUM MUDA MEMBERDAYAKAN HUBUNGAN ANTAR UMAT BERIMAN”sebagaimana diuraikan dalam buku-buku yang diterbitkan oleh Panitia APP Keuskupan Agung Semarang.
Dalam rangka APP tersebut semua dana yang diperoleh dan aksi pengumpulan dana selama masa Prapaskah dari paroki, lembaga hidup bakti, lembaga-lembaga gerejawi, pendidikan dan kelompok-kelompok kategorial lainnya, termasuk kolekte Minggu Palma tanggal 4/5 April 2009, sesuai dengan Pedoman Keuangan Paroki Kauskupan Agung Semarang Tahun 1991 pasal 8.b, dan Pedoman Keuangan dan Akuntansi Paroki Keuskupan Agung Semarang 2008 Pasal 5 ayat 3.2, Pasal 10 ayat 1.2, dan surat Uskup Keuskupan Agung Semarang kepada Majelis Pendidikan Katolik, No. 052/A/XI/1 1/02, tanggal 28 Januari 2002, ditetapkan:25% tinggal di paroki / masing-masing sekolah; 75% dikirim kepada: PANITIA APP KASJl. Pandanaran 13, Semarang 50244
Jikalau dikirim melalui bank, harap melalui: BANK PURBA DANARTA ; Jl. Veteran 7, Semarang 50231Rekening Giro Nomor: 31-00006-9 an. PSE / APP KAS
Selanjutnya, dana 75% tersebut di atas akan disalurkan oleh Panitia APP KAS: 25% untuk kevikepan masing-masing; 20% untuk Panitia APP KAS; dan 30% untuk dana APP Nasional/DSAK.

Surat Gembala Prapaskah 2009

Para Ibu/Bapak/Suster/ Bruder/Kaum Muda/Anak-anak dan Remaja yang terkasih,

1. Beberapa hari lagi, kita akan memasuki masa Prapaska. Pada masa ini secara khusus kita diajak untuk menyadari bahwa kita adalah orang-orang berdosa. Keadaan kita sebagai orang berdosa diungkapkan oleh Nabi Yesaya ”…engkau memberati Aku dengan dosamu; engkau menyusahi Aku dengan kesalahanmu” (Yes 43:24). Keadaan yang sama disadari oleh pemazmur yang berseru, “…terhadap Engkau aku berdosa” (Mzm 41:5b). Kesadaran bahwa kita adalah orang berdosa dapat membuat kita kehilangan kepercayaan diri, tidak berdaya, lumpuh. Namun kesadaran yang sama dapat membuat kita menjadi semakin rendah hati: tidak mengandalkan kekuatan sendiri, melainkan menyandarkan diri pada kebaikan dan kerahiman Allah.

2. Selain menyadari diri sebagai orang berdosa, kita juga diajak mengalami masa Prapaska ini sebagai masa yang penuh rahmat dengan semakin menyadari bahwa Allah Mahabaik dan Maharahim terhadap kita. Sabda Tuhan yang diwartakan pada hari ini juga mengajak kita untuk percaya kepada Allah yang Mahabaik dan Maharahim, yang membaharui kehidupan: ”Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya?” (Yes 43:19). Hidup baru itu telah diperoleh bagi kita oleh Yesus, Anak Manusia yang berkuasa mengampuni dosa (Mrk 2:10). Nabi Yesaya menggambarkan hidup baru itu dengan sangat indah: ”Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara” (Yes 43:19). Hidup baru yang sama terwujud dalam diri orang lumpuh yang dibebaskan dari kelumpuhannya (Mrk 2:11-12). Pembaharuan hidup yang dikerjakan oleh Allah ini membuat orang-orang yang melihatnya takjub dan memuliakan Allah (Yes 43:21; Mrk 2:12).

Saudari-saudaraku yang terkasih,

3. Ada banyak beban hidup dan / atau dosa yang membuat seseorang dapat lumpuh dalam berbagai tataran arti: lumpuh semangatnya, lumpuh jiwanya, lumpuh hidup rohaninya. Salah satunya adalah hubungan-hubungan yang tidak baik dengan sesama. Ini dapat terjadi di antara kawan, keluarga, masyarakat dan bangsa. Surat Rasul Paulus yang kedua kepada jemaat di Korintus (Bacaan ke-2) menyadarkan kita akan hal itu. Rasul Paulus berkata, “Demi Allah yang setia, janji kami kepada kamu bukanlah serentak ‘ya’ dan ‘tidak’ “ (2 Kor 1:18). Rupanya jemaat di Korintus menganggap Rasul Paulus tidak dapat dipercaya karena ia tidak jadi datang ke Korintus. Dengan demikian hubungannya dengan jemaat menjadi tidak serasi lagi. Dalam keadaan seperti ini Rasul Paulus menulis, “Aku tidak (jadi) datang ke Korintus untuk menyayangkan kamu … kami mau turut bekerja untuk sukacitamu” (ay 23-24). Rasul Paulus, khususnya dalam hubungan dengan jemaat di Korintus “dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah … oleh kekuatan kasih karunia Allah” (ay 12). Dengan kata-kata itu, Rasul Paulus ingin membangun kembali hubungan yang tidak serasi atau rusak antara dirinya dengan jemaat di Korintus, karena salah paham dan berbagai macam alasan lain. Rasul Paulus menegaskan, bahwa dirinya tidak mempunyai maksud-maksud tersembunyi apapun. Ia hanya menghendaki yang baik bagi jemaat di Korintus. Dan ternyata berbagai usaha Rasul Paulus untuk memulihkan hubungan yang rusak dengan jemaat di Korintus berhasil. Setelah hubungan baik berhasil dipulihkan, Rasul Paulus dapat menggerakkan jemaat di Korintus untuk ikut terlibat dalam pelayanan kasih (bdk 2 Kor 8-9), mewujudkan semangat setiakawan dengan membantu saudara-saudara yang sedang menderita.


Saudari-saudaraku yang terkasih,
4. Tema Aksi Puasa Pembangunan tahun ini bertema, “Bersama Kaum Muda Memberdayakan Hubungan Antar Umat Beriman”. Jujur harus diakui, bahwa memberdayakan hubungan antara umat berbeda agama bukanlah hal yang mudah. Sejarah hubungan antar umat beragama bukanlah sejarah yang hanya baik dan mulus. Sejarah ini menyimpan berbagai macam konflik yang mengakibatkan luka-luka batin. Sejarah dan akibat-akibatnya ini perlu kita akui dan terima dengan hati yang tulus. Kita perlu menyembuhkan luka-luka sejarah itu. Kalau luka-luka itu dapat disembuhkan, hubungan-hubungan kita pun akan diperbaharui. Dan kalau hubungan-hubungan itu berhasil diperbaharui, bersama-sama dengan umat yang berbeda agama, kita dapat bekerjasama untuk membuat berbagai gerakan atau kegiatan: mengembangkan persahabatan antar umat yang berbeda agama, menolak segala macam bentuk kekerasan, bekerjasama untuk kebaikan bersama dan berbagai pelayanan kasih yang lain. Kegiatan-kegiatan yang lebih nyata tentunya perlu direncanakan bersama dan dengan belajar dari kawan-kawan atau komunitas lain yang sudah mempunyai pengalaman.

5. Akhirnya kepada para Ibu/Bapak/Suster/ Bruder/Rama/ Kaum Muda/Anak-Anak dan Remaja, saya ucapkan selamat memasuki masa Prapaska. Semoga pembaharuan hidup yang dijanjikan oleh Allah melalui Nabi Yesaya sungguh-sungguh kita alami dalam hidup pribadi, keluarga dan komunitas kita. Semoga usaha kita untuk memulihkan hubungan-hubungan yang tidak serasi antar kita, dalam keluarga dan komunitas diteguhkan oleh rahmat Allah. Semoga pembaharuan yang dikerjakan oleh rahmat ini membuat kita mampu membangun hubungan yang tulus dengan saudara-saudara kita yang berbeda agama dan bersama-sama saudara-saudara kita itu bekerjasama untuk kebaikan bersama. Salam dan Berkat Tuhan bagi para Ibu / Bapak / Suster / Bruder / Rama / beserta seluruh keluarga dan komunitas. Semoga Tuhan meneguhkan niat-niat baik kita.

Semarang, 21 Februari 2009

† Mgr Ignatius Suharyo pr

Uskup Agung Semarang

Surat Gembala Menyambut Tahun kaum muda 2009

Para Ibu/Bapak - Para Suster/Bruder/lmam - Kaum Muda/Anak-anak dan Remaja yang terkasih dalam Tuhan

  1. Meskipun sudah agak terlambat, lebih dahulu saya ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2009. Semoga pada tahun dengan tantangan-tantangan hidup yang semakin banyak ini, iman kita semakin kokoh, harapan kita semakin kuat dan kasih kita semakin dikobarkan. Melalui surat ini saya juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang tulus kepada anak-anak dan remaja serta pendamping yang telah mengisi Tahun Anak dan Remaja dengan berbagai kegiatan yang sangat menggembirakan hati dan membanggakan. Terima kasih secara khusus atas sekian banyak surat dari anak-anak dan remaja yang telah saya terima. Saya sangat terhibur dan memperoleh banyak inspirasi dari surat-surat itu. Semoga prakarsa-prakarsa yang baik ini tidak berhenti dengan selesainya Tahun Anak dan Remaja, melainkan diteruskan dengan prakarsa-prakarsa lain yang semakin kreatif.
  2. Bersama-sama dengan Gereja semesta, pada hari ini kita merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan. Menurut Nabi Yesaya, Tuhan yang mulia tampak ketika Umat Allah Perjanjian Lama bangkit dari rasa putus asa yang berkepanjangan (bdk Yes 60:1). Tuhan yang mulia juga tampak ketika keadilan berkembang dan damai-sejahtera berlimpah (bdk Mzm 72:7-8). Menurut St. Paulus, Tuhan yang mulia tampak ketika tidak ada lagi diskriminasi dalam bentuk apa pun (bdk Ef. 3:6) dan Tuhan yang mulia juga tampak ketika orang bersukacita karena telah menemukan Yesus yang didambakan dan dicari dengan tulus hati dan hati terbuka (bdk Mat. 2:1-12)
  3. Pada Hari Raya Penampakan Tuhan ini, kita mengawali Tahun Kaum Muda. Untuk melengkapi perhatian-perhatian utama pastoral yang telah digulirkan sejak tahun 2006, Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang menetapkan tahun 2009 sebagai Tahun Kaum Muda. Untuk maksud itu, Dewan Karya Pastoral telah menerbitkan Nota Pastoral yang berjudul, “Orang Muda Menggugah Dunia”. Seperti biasanya, Nota Pastoral ditawarkan sebagai bahan pembelajaran bersama, bukan sebagai “petunjuk” yang hams dilaksanakan huruf demi huruf. Dari pembelajaran bersama itu diharapkan akan muncul berbagai prakarsa pastoral khususnya bagi kaum muda. Prakarsa pastoral yang bermacam-macam itu diharapkan dapat membantu kaum muda khususnya, dan kita semua pada umumnya untuk menjadi pribadi yang semakin dewasa dan utuh serta semakin menyadari bahwa hidup adaiah anugerah, panggilan dan perutusan. Dengan demikian kita pun berharap agar prakarsa-prakarsa pastoral itu dapat membantu kaum muda untuk berkembang menjadi pribadi yang “menampakkan Tuhan yang mulia”.
  4. Pada Hari Kaum Muda sedunia tahun 2008, ada jenasah orang muda bernama Giorgio Frassati yang diterbangkan dari kota Torino, Italia dan disemayamkan di Katedral St. Maria, di kota Sidney, Australia, Giorgio Frassati lahir dari keluarga kaya dan mempersembahkan waktu luangnya untuk melayani orang sakit dan orang miskin. la senang berkumpul dan mendaki gunung dengan teman-temannya. Pada saat-saat itu ia membagikan pengalaman imannya kepada teman-temannya. la meninggal pada tanggal 4 Juli 1925, pada usia 24 tahun akibat penyakit dari orang yang dirawatnya. Saat meninggal, keluarga kaget karena datang ribuan orang miskin yang tidak tahu bahwa Frassati berasal dari keluarga kaya. Dengan menghadirkan jenasahnya di Sidney, Paus Benedictus XVI menawarkan Frassati sebagai teladan kaum muda yang telah mengalami kehadiran dan kasih Tuhan yang mengubah dan membarui hidupnya; dan yang juga berupaya untuk membagikan pengalaman itu kepada teman-temannya dengan harapan semoga hidup mereka pun diubah dan perbarui oleh Tuhan yang selalu mencintai. Giorgio Frassati, meski jauh dari kita, dapat kita pandang sebagai seorang, “Pribadi muda yang menggugah dunia” karena dengan daya hidupnya ia pun telah menampakkan kemuliaan Tuhan. Suatu pertanyaan bagi kita semua pada umumnya dan bagi kaum muda pada khususnya: apa yang perlu kita usahakan agar hidup dan pekerjaan kita pun dapat - meskipun hanya amat sedikit - menampakkan kemuliaan Tuhan?
  5. Pertanyaan ini dapat dijawab dengan memperhitungkan berbagai kerangka yang berbeda: kita dapat menjawabnya dengan memperhitungkan tema “berbagi lima roti dan dua ikan” dari Konggres Ekaristi Keuskupan Agung Semarang. Tetapi kita juga dapat menjawabnya dengan memperhitungkan masalah pemanasan bumi, pemutusan hubungan kerja, pendidikan, pelayanan kesehatan, krisis ekonomi dunia atau masalah-masalah sosial yang lain. Sekecil apapun niat dan usaha kita untuk hidup dan bekerja dengan baik dalam berbagai kenyataan hidup itu, kita menyatakan kemuliaan Tuhan. Semoga niat-niat baik dan usaha kita diteguhkan oleh Tuhan. Sambii mengenangkan St. Paulus, pribadi yang menggugah dunia, kita pegang teguh pesannya yang menguatkan hati: “Karena itu saudari-saudaraku yang kekasih, berdinlah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan, jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Kor 15:58). Saya ingin mengakhiri surat ini dengan ucapan terima kasih atas keikutsertaan anda semua dalam menghidupkan dan mengembangkan Gereja di Keuskupan Agung Semarang dengan berbagai cara dan keterlibatan. Semoga berkat Tuhan melimpah bagi Anda semua, keluarga-keluarga dan komunitas anda.

    Semarang, 3-4 Januari 2009


    Ignatius Suharyo
    Uskup Agung Semarang

Sabtu, 21 Februari 2009

Menjadi Imam yang Happy, Committed, dan Professional


Sebagai imam yang mendapatkan tugas melanjutkan studi di Kentungan, saya merasa konteks pelayanan dan pengalaman imamat berbeda dengan imam-imam yang berada di pastoral pelayanan kategorial maupun teritorial yang lainnya. Tugas imamat saya yang utama adalah belajar formal di fakultas, “umat” saya adalah buku dan aneka situasi kuliah, tetapi tidak menutup pelayanan lain, membantu di paroki-paroki sekitar dimana saya tinggal terutama pelayanan sakramental. Menjelang Satu tahun menjadi imam ini, bagi saya pribadi telah banyak memberikan pembelajaran dalam rangka terus menerus “menjadi imam”. Apabila ketika masih menjadi frater punya visi: menjadi imam. Ketika menjadi imam, visi tersebut berlanjut: menjadi imam yang seperti apa?
Beberapa waktu yang lalu, sejauh saya ingat, saya mendapat usulan tiga kali dari umat yang berbeda, yang mengatakan “Romo mbok tersenyum pas memimpin ekaristi!” kata salah satu umat seusai perayaan Ekaristi, atau “Wah jan, orang-orang mboro kuwi pancen larang tersenyum yo!” kata salah seorang guru sesaat sebelum saya memimpin perayaana Ekaristi penutupan rekoleksi salah satu SMK di Yogyakarta. Bagi saya, ini merupakan salah satu masukan yang berharga dari umat, selain belajar untuk mendengarkan dan menerima masukan dari orang lain juga menyadarkan saya akan keberadaan imamat saya: bagaimana membawakan ungkapan syukur Gereja sendiri dalam perayaan ekaristi dan hidup sehari-hari. Tersenyum! Kiranya menjadi salah satu sarana untuk membangun dan sebagai wujud sebuah imamat yang happy terutama dalam rangka pelayanan imamat Gereja. Akan tetapi, tersenyum itu pun bagi saya pribadi perlu terus menerus belajar, dengan pertama-tama membangun hati yang penuh syukur karena menyadari kebersamaan dengan Allah yang senantiasa menuntun dan memberikan diri-Nya.
Tersenyum mengandung makna simbolis yang dalam untuk menerima dan melakukan segala pelayanan dengan gembira hati, terbuka, dan tidak mengganggap diri sudah atau lebih sempurna, melainkan sebaliknya, mau terus menerus mendengarkan dan menghayati pelayanan dengan suka cita seperti Yesus sendiri yang terus menerus mengosongkan diri-Nya di dalam pelayanan Kerajaan Allah. Banyak hal telah dan akan dihadapi, terutama pengalaman pelayanan yang tidak sesuai dengan harapan diri sendiri. Dengan tersenyum, saya dapat menerima itu dan saling belajar bersama dengan umat dan orang lain, yang saling memperkaya. Hal ini tentu saja berkaitan erat dengan imamat yang dihidupi, imamat sebagai tanda yang menghadirkan karya penyelamatan Allah yang menggembirakan semua orang, membawakan sukacita Allah kepada manusia.
Tentu saja, sukacita Allah ini, diwartakan oleh imam adalah dalam kerangka imamat Gereja. Oleh karena itu, pelayanan yang diberikan oleh seorang imam pun, pertama-tama ditempatkan di dalam keberadaannya di dalam Gereja, yang berfungsi menghubungkan Allah dengan Gereja, Gereja dengan Allah, dan apabila diperluas, menghubungkan Allah dengan dunia, dunia dengan Allah, dengan pertama-tama sebagai pribadi, terus menerus membangun kebersamaan dengan Allah itu sendiri. Imamat seorang imam berasal dari Gereja dan diberikan untuk Gereja dan terbuka bagi semua orang. Sehingga, seluruh pelayanan imamatnya bukan untuk pelayanan pribadi-pribadi melainkan pelayanan kepada Gereja, dalam kerangka seluruh umat Allah, meskipun yang dilayani adalah seorang pribadi tertentu, misalnya.
Di sinilah kiranya, profesi imamat ditempatkan dan profesionalitas imamat dikembangkan. Profesi dan profesionalitas imamat berada dalam organisme Gereja meskipun secara sakramental, imamat tersebut dimeteraikan dalam pribadi seseorang yang dipanggil. Seorang imam, bagian dari Gereja dan yang dilayani adalah Gereja. Hal ini sangat nyata dalam pengalaman saya pribadi terutama saat memberikan pelayanan parokial meskipun belum berada di paroki. Membangun komunikasi dengan pastur paroki, yang bertanggungjawab secara resmi, sebelum memberikan pelayanan sakramental kepada umat menjadi penting agar pelayanan yang diberikan tetap berada dalam kerangka visi dan misi paroki dan Gereja setempat.
Dalam mewujudkan dan menghayati tugas perutusan yang utama yaitu belajar, bagi saya sungguh membantu dalam mengembangkan kerangka berpikir dan pelayanan meskipun kadang-kadang terasa lebih menggembirakan berjumpa dengan umat daripada berjumpa dengan buku-buku. Akan tetapi, di sinilah saya semakin merasakan dan mengembangkan hidup perutusan di dalam imamat sebagai “bukan lagi aku yang hidup” melainkan “Kristus yang hidup di dalam diriku” (bdk kata-kata Paulus: Gal 2:20). Belajar untuk setia, seperti Kristus sendiri setia kepada tugas perutusan Allah meskipun mengalami banyak penderitaan dan kesusahan bahkan kematian, merupakan spiritualitas hidup yang menguatkan untuk membangun komitmen terhadap tugas perutusan yang dipercayakan kepada saya. Kesetiaan yang dihidupi secara bertanggungjawab untuk menunaikan tugas yang diberikan sebagai cara mewartakan Kerajaan Allah di dalam tugas perutusan saya.
Akhirnya, menghidupi imamat tidak bisa lepas dari menghidupi Yesus Kristus sendiri di dalam kehidupan saya. Kristus menjadi sumber imamat, yang memberikan kekuatan dan sekaligus image imamat sejati yang dengan penuh kesetiaan menuntaskan tugas perutusan-Nya dan sekaligus dengan senantiasa merendahkan/ mengosongkan diri dalam usaha menegakkan Kerajaan Allah melalui pelayanan-Nya kepada semua orang. Ia juga senantiasa bersukacita bukan karena hasil karya-Nya yang menggembirakan banyak orang, melainkan karena semakin banyak orang percaya kepada Allah. Semua itu dilakukan-Nya di dalam kebersamaan dengan Allah Bapa-Nya dan juga manusia. Yesus Kristus sungguh berada bersama dan tinggal bersama-sama dengan manusia. Ia menjadi sumber dan teladan imamat yang happy, committed, dan profesional.(yk)

Nota Pastoral KAS 2009

Orang Muda Menggugah Dunia

Pengantar

01. Pada tahun 2009 Keuskupan Agung Semarang mengambil fokus pastoral melibatkan orang muda untuk pengembangan umat. Fokus ini merupakan satu rangkaian fokus pastoral yang dijabarkan dari Arah dasar Keuskupan Agung Semarang (Ardas KAS) 2006-2010. Oleh karena itu, melibatkan orang muda untuk pengembangan umat merupakan lanjutan dari pengembangan keluarga sebagai basis hidup beriman (2007), serta melibatkan anak dan remaja untuk pengembangan umat (2008).

02. Orang muda selalu menjadi penggerak perubahan. Sejarah bangsa Indonesia dari masa perjuangan sampai pada masa reformasi ditandai dengan keterlibatan orang muda. Gereja pun dibangun dan ditumbuhkan oleh orang-orang muda. St. Paulus yang tahun ini kita kenang secara istimewa adalah pribadi muda yang dengan penuh kobaran jiwa mewartakan Yesus yang wafat dan bangkit. Sekarang ini banyak kegiatan orang muda dalam kehidupan menggereja. Kegiatan-kegiatan orang muda ini ikut menggerakkan dinamika kehidupan Gereja, karena orang muda ”berada di jantung hati Gereja” (Nota Pastoral KAS 2003). Hal ini pantas disyukuri.

03. Orang muda hidup dalam dunia yang ditandai dengan arus globalisasi. Globalisasi yang yang dimotori tehnologi dan ekonomi di samping membawa kemudahan juga menawarkan pola hidup yang ditandai dengan persaingan bebas. Dalam suasana itu, mereka yang kalah akan tersingkir. Situasi seperti ini ikut menentukan gerak keterlibatan orang muda dalam Gereja dan masyarakat.

04. Nota Pastoral tahun 2009 ini disampaikan kepada seluruh umat – khususnya orang muda – sebagai ajakan untuk terlibat dalam tugas perutusan Gereja untuk mewartakan Kerajaan Allah yang memerdekakan. Nota Pastoral ini terdiri dari : I. Orang muda dan dunianya; II. Tanggung Jawab Gereja; III. Meneladan St. Paulus, Gelora Orang Muda, untuk menggugah Dunia.; IV. Melibatkan Orang Muda dalam Pengembangan Hidup beriman; dan V. Sapaan Pastoral.

Wajah Gereja

Si BLACK BERANDAI - ANDAI

Si BLACK (SB) adalah ikon baru dalam dunia pepadhang. Wajahnya yang hitam namun kerap memberi pepadhang bagi orang yang bertemu dengannya. Tapi, lagaknya yang suka usil membuat orang yang bertemu dibikin gemes pengin njitak ato sebaliknya pengin meluk. Hari itu, ia sedang bengong, ga seperti biasanya. Jeng MARIA (JM) yang hendak pergi ke pasar menegurnya.
JM: BLACK, kowe ki ngapa, ada apa cih koq bengong gitu?
SB: Eh, jeng MARIA, badhe tindak pundi punika?... Wah, gimana ya Jeng, aku denger-denger, Gereja kita mau beli tanah lagi ya? Apa emang mampu to kita-kita ini membeli tanah setinggi itu harganya? Berapa Jeng kemarin romo bilang itu?
JM: Wah, aku juga lupa, pas romo ngendika kemarin aku lagi nerima sms (hehe...sori lho rom!, batin jeng MARIA). Kalo ga salah denger sih, 735 juta-an gitu. Tapi denger-denger lagi, ga jadi koq. ternyata dah dibeli pihak lain gitu.
SB: weitz...yang bener, Jeng!!!! Lha koq bisa to? wah, sayang ya Jeng nek gitu. Khan S’tulnya harganya cuma segitu.
JM: Lho koq kamu bilang “cuma segitu”, uang segitu itu dari mana to BLACK. Emang gereja punya uang po? Lha wong KAS-nya wae cuma 200 juta, itu aja sebagian stt.....stt...tp jangan bilang-bilang loh BLACK, itu uang pinjaman!!!
SB: oya?? Kita ini MINJAM??? Oalahhh....Aku ki sedang ber-ANDAI-ANDAI, Jeng. Coba dech nek dipikir. Umat kita ini khan banyak, kurang lebih 800 Ka-Ka. Coba misalnya, per Ka-Ka itu gelem nyumbang ato modali SATU JUTA..lha yo wez turah-turah to? Ner ga????
JM: Wah, tul sekali kowe BLACK, koq ga biasanya pikiranmu cerdas gitu?? Lha tapi, khan ga semua umat ki mampu, BLACK. Nek dipukul rata gitu..kasian donk umat yang ga mampu??
SB: Sapa dulu gitu loh....Si BLACK!!! Santai-santai....!!Gereja khan mengajarkan semangat cinta kasih...dan lebih lagi..itu ukiran gambar yang indah di deket locker itu?? Tau Ga? Jangan-jangan Jeng Maria malah ga tau: lima roti dua ikan. Ingat kisahnya?
JM: Maksudmu...BERBAGI???
SB: Yupz...ner banget! Nah, khan banyak cara menuju roma..bisa dicicil 10x misalnya, jadi setiap bulan 100rb, atau.....
JM: atau ....apa BLACK??
SB: atau...yang diberi pendapatan lebih oleh GUSTI,...omahe sing bagus-bagus kae...yo sekarang saatnya mulai MBAGUSKE omahe GUSTI YESUS...nyumbang sing luwih akeh..gitu. jadi, sekaligus mbantu sing ora mampu tur yo kalo semakin banyak investasine, modal mbangun omahe GUSTI sansaya akeh. Mmm....Siiipp!!! atau.....
JM: atau apa lagi BLACK...koq banyak banget andai-andai-mu??
SB: atau ni khan mo prapaskah...gimana nek selama prapaskah...ada gerakan “SUKA JAJAN” diubah menjadi “JE-I” tapi bukan Jamaah Islamiah loh... “JERAKAN INVESTASI!”
JM: Maksudmu ki apa to?
SB: Maksudku...anak-anake dhewe, baik sing sih cilik ato yang dah gedhe...diajak nyumbang investasi mbangun greja, caranya selama prapaskah uang jajane diklumpukke njur disumbangke buat investasi...ngguantheng to!!! Cuanttikkk to, Jeng!!
JM: wah...wah...ide bagus kuwi BLACK...mudah-mudahan umate dhewe iki kabeh padha grengseng semangat yo..untuk emmbaguske omahe GUSTI..mosok sing dipikir terus mung omahe dhewe thok!
SB: yups...SEANDAINYA....

Gagasan Dasar APP KAS 2009

BERSAMA KAUM MUDA,
MEMBERDAYAKAN HUBUNGAN ANTAR UMAT BERIMAN


A. Pendahuluan
Gerakan Aksi Puasa Pembangunan Umat Keuskupan Agung Semarang tahun 2008 mendalami tema “Bersama Anak dan Remaja Memberdayakan Lingkungan Hidup”. Berbagai aksi nyata telah dilakukan baik dalam skala kecil maupun skala besar; baik di tingkat keluarga dan lingkungan maupun di tingkat jaringan masyarakat. Misalya, pengolahan sampah, pembuatan pupuk kompos atau pupuk organic, reboisasi lahan/hutan, dll. Bahkan banyak sekolah-sekolah yang menggerakkan anak-anak didiknya untuk melakukan aksi nyata, di samping gerakan solidaritas yang berupa pengumpulan dana sebagai wujud mati raga dan pertobatan. Gema dari gerakan Aksi Puasa Pembangunan tahun 2008 yang berdampak pada pelestarian lingkungan hidup menuju keutuhan ciptaan ini harus tetap dilanjutkan sehingga proses pengembalian keutuhan ciptaan menjadi gerakan yang lestari, kendati kita memasuki masa prapaskah tahun berikutnya. Harapannya adalah kita sebagai manusia menemukan kesejatian hidup dalam keutuhan/kelestarian alam lingkungan.

Upaya perwujudan kesejatian hidup akan terus kita lanjutkan pada masa prapaskah 2009 dalam gerakan Aksi Puasa Pembangunan. Adapun tema gerakan Aksi Puasa Pembangunan 2009 mengacu pada dua hal :
a. Tema Aksi Puasa Pembangunan 2009 Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) yang berlaku secara nasional yakni “Pemberdayaan Hubungan Antarumat Beriman”.
b. Fokus Pastoral Umat Keuskupan Agung Semarang 2009 sesuai dengan Arah Dasar KAS yakni “Melibatkan Kaum Muda dalam Pengembangan Umat.

Atas dasar dua tema tersebut, maka tema APP KAS 2009 dirumuskan sbb. :
BERSAMA KAUM MUDA,
MEMBERDAYAKAN HUBUNGAN ANTAR UMAT BERIMAN

B. Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan tema BERSAMA KAUM MUDA, MEMBERDAYAKAN HUBUNGAN ANTAR UMAT BERIMAN dalam gerakan APP 2009 ini ialah agar umat katolik menyadari tanggung jawabnya untuk membangun kehidupan beriman secara terbuka dalam kerjasama dan dalam kebersamaan dengan umat beriman yang lainnya. Dalam hal ini, kaum muda katolik diharapkan bisa menjadi penggerak atau motor sehingga muncullah generasi muda yang cinta akan kerukunan dan kedamaian demi keutuhan kehidupan berbangsa/bermasyarakat. Gerakan APP sebagai bagian dari pelaksanaan fokus pastoral Keuskupan Agung Semarang 2009 merupakan gerakan yang mengawali tahun pastoral kaum muda. Maka arah gerakan APP lebih pada penyadaran batin dan sikap sebagai spritualitas dasar seluruh gerakan yang akan dibangun selama tahun pastoral 2009 yang memfokuskan pada gerakan melibatkan kaum muda dalam pengembangan umat. Adapun hasil yang diharapkan dari gerakan APP tahun 2009 ini adalah :
1. Umat katolik menyadari perlunya peningkatan wawasan iman secara terus menerus sehingga kehidupan iman umat katolik sungguh-sungguh tampak dalam dialog kehidupan di tengah-tengah pluralisme agama. Yang dimaksud dengan pluralisme adalah suatu kerangka interaksi yg mana setiap kelompok menampilkan rasa hormat dan toleran satu sama lain, berinteraksi tanpa konflik atau asimilasi (pembauran / pembiasan).
2. Umat Katolik membangun habitus baru berupa keterbukaan untuk duduk bersama dan berdialog secara bijak dalam menyelesaikan persoalan-persoalan sosial dan menghadapi pesta demokrasi di tingkat daerah maupun tingkat nasional.
3. Umat katolik, khususnya kaum muda, memiliki kesadaran dan tanggung jawab sosial bersama untuk ikut mengatasi konflik sosial berlatarbelakang agama dan masalah kemiskinan masyarakat dengan membangun usaha-usaha kooperatif lintas agama berdasarkan kasih.
4. Umat katolik pada umumnya, dan kaum muda khususnya, semakin teguh imannya melalui pergaulan dengan masyarakat di sekitarnya

C. Latar Belakang
1. Konsili Vatikan II (dalam Dokumen Nostra Aetate artikel 2) mengakui adanya kebenaran/ keselamatan dalam agama-agama non-Kristiani dan tradisi kebudayaan lainnya. “Gereja Katolik tidak menolak apa pun yang benar dan suci dalam agama-agama ini. Ia memandang dengan penghargaan yang jujur, cara tindak dan cara hidup, peraturan dan ajaran itu, yang kendati dalam banyak hal berbeda dengan apa yang dipahami dan dianjurkannya, toh tidak jarang memantulkan cahaya Kebenaran, Yang menerangi semua manusia. Namun tak henti-hentinya Ia mewartakan dan harus mewartakan Kristus, yang adalah ‘jalan, kebenaran dan kehidupan’ dalam Siapa manusia mendapat kepenuhan hidup keagamaan dan dalam Siapa Allah mendamaikan semua dengan diriNya” Itu berarti kita yakin bahwa Allah menghendaki yang baik dengan adanya agama-agama di dunia ini.
2. Dalam Injil Yohanes 17.9-11, Yesus berdoa kepada BapaNya agar semua orang bersatu dan tidak ada seorangpun yang binasa. “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka. Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita”.

3. Keprihatinannya :
a. Kehidupan sehari-hari di dunia ini sepertinya tidak menggemakan kehidupan keagamaan atau kehidupan religious sebagi manusia yang dipimpin oleh Roh Allah. Agama menjadi formalitas saja, belum sebagai keyakinan yang menggerakkan semua penganutnya untuk berlaku baik. Bisa jadi karena adanya penafsiran-penafsiran ajaran agama secara keliru, sehingga memunculkan tindakan-tindakan atas nama agama (atau bahkan atas nama Allah) tetapi sebenarnya bertentangan dengan hakekat Allah.
b. Dalam berbagai macam agama muncul kelompok-kelompok fundamental garis keras, yang tidak jarang juga melibatkan banyak kaum muda, yang justru menjadi eksklusif-fanatik yang menjurus pada gerakan-gerakan anti agama lain bahkan disertai dengan tindakan-tindakan anarkis
c. Dari sisi lain, karena keterbatasan pengetahuan tentang kekatolikan, kaum muda katolik tidak mampu berdialog dengan aktivis gereja lain; sehingga mengalami kegoncangan iman atau malah pindah ke Gereja lain.

4. Tantangan : perlu upaya-upaya membangun gerakan lintas agama dengan memberdayakan hubungan/dialog antar umat beriman. Dalam hal ini perlu membangun generasi baru yang cinta akan kerukunan dan dialog; terbuka terhadap kebaikan dan kearifan yang dimiliki oleh umat beragama lain. Generasi baru seperti itu adalah milik kaum muda; maka merupakan suatu peluang dan tantangan bagi kaum muda untuk membuka dan menumbuhkan generasi baru itu yang handal dalam iman. Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang 2006-2010 menegaskan bahwa dalam membangun habitus baru dibutuhkan kerjasama dengan semua orang yang berkendak baik. Itu berarti bahwa umat katolik KAS harus terbuka untuk membangun gerakan lintas agama atau antar umat beriman.
5. Kekuatan : Nilai-nilai agama pada umumnya bersifat universal; sehingga seandainya sesama umat beriman mampu dan mau menghargai kekayaan kebaikan serta kearifan agama lain, tidak mustahil banyak permasalahan sosial ekonomi maupun politik di Negara kita bisa diatasi. Bahkan akan mengikis kerusakan-kerusakan hidup keagamaan yang atas nama agama justru mengasingkan atau menyingkirkan umat beragama lain, atau membatasi perbuatan-perbuatan manusiawinya dalam kelompok seagama, atau juga merongrong agama lain dengan tujuan meng-agamakan orang lain ke dalam agamnya secara “paksa”.


D. Inspirasi dari Kitab Suci
1. Yesus mengutus para murid-Nya untuk pergi ke “seluruh dunia” mewartakan Injil damai sejahtera, supaya seluruh dunia mengenyam kasih, keadilan dan damai. Yesus, sebagai imam agung berdoa (Yoh 17: 1 – 26) agar kaum beriman masa-Nya dan masa yang akan datang menjalin persatuan: periharalah mereka dalam namaMu, yaitu namaMu yang telah Engkau berikan kepada-Ku (Yoh 17: 11); supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita (ay 11); Supaya penuhlah sukacitaKu di dalam diri mereka (ay 13); Supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat (ay 15); Supaya kuduslah mereka dalam kebenaran (ay 17). Selanjutnya Yesus juga berdoa bagi dunia. Dunia dalam konteks yang negatif yaitu pusat ketidak-percayaan dan kebencian, yang berlawanan dengan apa yang dihayati murid-murid-Nya (Yoh 17: 12) supaya dunia menjadi percaya dan mengetahui bahwa Yesus diutus oleh Bapa yang penuh kasih (Yoh 17: 21 dan 23)
2. Perutusan dan pelayanan Yesus diwariskan kepada para murid-Nya melalui pewartaan pengharapan dalam kasih dengan keteladanan. Dalam rangka Tahun St. Paulus (2008-2009) kita bisa belajar bahwa Perutusan Yesus bukan hanya diserahkan kepada dua belas rasul-Nya tetapi juga kepada penganiaya murid-murid-Nya yaitu Saulus yang kemudian menjadi Paulus. Paulus yang dinobatkan oleh Tuhan sendiri dalam perjalanannya ke Damaskus diangkat menjadi rasul bangsa-bangsa lain. Perutusan Tuhan menyadarkan Paulus dengan suatu keyakinan bahwa “bukan dia hidup dalam diri Yesus, tetapi Yesuslah yang hidup di dalam dirinya” (Gal 2: 20). Paulus dalam menghadapi berbagai persoalan dan perbedaan selalu menekankan sumber kekuatan yaitu kasih karunia Tuhan. Perbedaan siapa yang menabur, siapa yang menanam dan siapa yang menuai itu tidak penting tetapi yang lebih penting adalah bahwa Allah-lah yang mengerjakan semuanya itu. Keyakinan kepada Allah yang mengerjakan semua itu, seharusnya mempersatukan umat beriman. Setiap murid mendapat ajakan perutusan untuk berpartisipasi dalam pembangunan Tubuh Kristus (Gereja) dalam melanjutkan karya-Nya, khususnya demi kerukunan hidup umat manusia.

E. Pertobatan dan Pembaharuan
1. Gerakan Puasa dan pantang dalam kehidupan kristiani di setiap masa prapaskah merupakan sarana/kesempatan untuk membangun hidup yang semakin beriman. Penghayatan puasa atau lebih-lebih bermatiraga bisa menjadi alat pengendalian diri menuju perbaikan pribadi-pribadi yang berdampak pada perbaikan mutu kehidupan bersama. Kalau puasa diartikan dengan tidak makan dan tidak minum itu hanya sebagian kecil dari arti puasa itu sendiri. Tetapi seseorang melakukan puasa atau pantang (misalnya: tidak jajan) atau mengekang kebutuhan-kebutuhan lain, bukannya untuk memperkaya diri sendiri tetapi dalam rangka ber-solidaritas dengan Yesus yang menyerahkan hidupNya untuk orang lain. Solidaritas itu kita hayati dengan mengumpulkan dana dari puasa dan pantang atau matiraga kita.
2. Dengan puasa kita juga diajak untuk menderita sehingga kita tahu penderitaan orang lain. Karena itu hasil dari puasa adalah munculnya aksi yang ditujukan kepada mereka yang miskin dan menderita. Penghayatan puasa yang demikian akan membawa perbaikan dan perubahan, tidak hanya bagi orang yang melakukan puasa, tetapi lebih-lebih pada lingkungan sekitarnya, baik dalam keluarganya, kampungnya, dan yang lebih luas lagi. Dalam rangka menanggapi undangan Yesus untuk bertobat ini, umat Katolik ber-Aksi Puasa Pembangunan (APP).
3. Proses ber APP mengandung unsur pemahaman iman, pergumulan iman, penghayatan iman dan hidup nyata. Proses semacam ini diharapkan semakin memperteguh dan mendewasakan iman sesuai dengan ajaran Gereja Katolik, dengan tetap memperhatikan penghormatan terhadap agama lain dalam hubungan kerukunan antarumat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Dengan demikian penghayatan hidup keagamaan bisa menjadi solusi dari persoalan kemanusiaan.


F. Aksi Nyata
Umat katolik Keuskupan Agung Semarang dalam dinamika hidup menggereja telah mempunyai kebiasaan mengadakan pendalaman tema APP di lingkungan-lingkungan maupun dalam kelompok-kelompok kategorial. Sudah menjadi pandangan umum bahwa umat beragama di Negara kita akan merasa lebih nyaman kalau berada di tengah-tengah orang yang seiman/seagama. Segi posistifnya adalah orang mudah tergerak untuk berkumpul dengan teman-teman seiman (terlepas dari aspek negatifnya). Maka gerakan berkumpul dengan sesama seiman/seagama dalam mendalami tema APP di lingkungan sudah merupakan aksi nyata dari puasa dan matiraga. Dalam rangka memberdayakan hubungan antar umat beriman, perlulah bagi umat katolik untuk memulainya dengan mengikuti pendalaman tema APP di lingkungannya, dan setelah itu punya kekuatan bersama/gerak bersama untuk bekerjasama dengan umat beriman lainnya. Aksi nyata dalam rangka memberdayakan hubungan antar umat beriman bisa diwujudkan dalam berbagai lingkup kehidupan :

1. Pribadi
Kasih akan sesama, yang berakar pada kasih akan Allah akan menumbuhkan kasih pada sesama yang menderita, misikin “pertama-tama dan pada dasarnya adalah tugas setiap pribadi beriman” (DC 20). Sehingga penghayatan dan perwujudan hidup keagamaan dikembangkan dalam membangun relasi antar pribadi umat beriman/beragama, dimulai dari pergaulan/sapaan setiap harinya kepada sesama.
2. Keluarga
Keluarga katolik adalah basis hidup rohani yang menjadi “garam” masyarakat dalam ikut mengembangkan kehidupan bersaudara antar keluarga umat beriman, maka perlulah upaya terus menerus membangun penghayatan iman yang terbuka mulai di dalam keluarga.
3. Komunitas Basis Gerejawi (Lingkungan/Stasi)
Komunitas Basis Gerejani (KBG) sejak Konsisli Vatikan II merupakan cara hidup Gereja yang mengakar di tengah masyarakat. Dalam Komunitas Basis Gerejawi itulah umat menimba kekuatan rohani/iman sehingga mempunyai kekuatan kehendak atau kekuatan batin untuk membangun gerakan konkret Gereja di tengah masyarakat. Dengan kata lain, proses ini mengandung unsur pemahaman iman dan pergumulan iman menuju penghayatan iman dalam hidup sehari-hari. Mgr. Albertus Soegijapranata menegaskan bahwa lingkungan-lingkungan di paroki itu dibentuk bukan sekedar untuk kepentingan administratif dalam Gereja, tetapi terlebih menjadi tempat dan sarana keterlibatan sosial bagi umat katolik.
4. Komunitas Basis Manusiawi
Berbagai macam komunitas hidup dalam masyarakat bisa menjadi wahana untuk mewujudkan iman secara manusiawi; baik dalam komunitas berdimensi politik, sosial, ekonomi, pendidikan, lingkungan hidup, maupun kepentingan-kepentingan kategorial lainnya (RT, RW, Partai, Karang Taruna, dll). Komunitas seperti itu hendaknya ditumbuhkan menjadi komunitas-komunitas pengharapan bagi kaum beriman yang mampu mengatasi berbagai persoalan hidup bangsa kita.
5. Komunitas Kaum Muda
Dalam rangka tahun kaum muda, gerakan-gerakan aksi nyata bisa diarahkan pada kehidupan komunitas orang muda lintas agama untuk mulai membangun dialog dan menumbuhkan generasi muda lintas agama yang terbuka dan berdialog; misalnya dengan cara melanjutkan gerakan APP 2008 yang lalu yakni penghijauan atau peduli lingkungan namun dilaksanakn bersama dengan kaum muda lintas agama.

G. Penutup
Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang ialah membangun persekutuan paguyuban-paguyuban yang memerdekakan, dalam rangka menegakkan/ mewujudkan Kerajaan Allah. Salah satu pokok perhatiannya adalah mengembalikan keutuhan ciptaan. Kembalinya keutuhan ciptaan itu antara lain ditandai dengan kehidupan umat manusia yang saling mengasihi secara terbuka dengan mengangkat martabat manusia. Untuk itulah diperlukan pemberdayaan hubungan antar umat beriman.

Semoga kaum muda di Keuskupan Agung Semarang bisa berperan sebagai penggerak tumbuhnya generasi baru yang mencintai keterbukaan dan persaudaraan dalam hidup bersama dengan saudara-saudari umat beriman lainnya. Pemberdayaan hubungan antar umat beriman dalam masayrakat kita akan menjadi kekuatan bersama untuk membangkitkan sikap dan tindakan yang peduli akan kesejahteraan dalam hidup umat bersama masyarakat. Kiranya pendidikan dan pencerdasan umat beriman sebagai anggota masyarakat, pembangunan dan pengembangan kerjasama kooperatif dalam masyarakat yang sesuai dengan keadaan setempat , mampu menggetarkan hati seluruh umat beriman tanpa adanya diskriminasi ataupun pengasingan atas diri umat beriman lain demi kebaikan dan kesejahteraan bersama. Hubungan antarumat beriman yang terjalin dengan baik dan kukuh adalah anugerah Tuhan yang pantas mendapat ucapan syukur bersama.

Semoga Allah yang telah memulai pekerjaan baik di antara kita, berkenan menyelesaikannya.
Selamat Ber-APP! Berkah Dalem!

Panitia APP KAS

Rabu, 11 Februari 2009

Tapa Ngrame

Sebuah tradisi dalam olah kebatinan jawa adalah tapa ngrame. Apa yang terjadi dalam olah kebatinan tersebut tidak lain adalah pelayanan total kepada setiap orang yang membutuhkan bantuan, tanpa pamrih apapun. Yang mau diolah adalah kesediaan diri untuk menjadi pelayan, menjadi keset bagi yang lain sekaligus mempertajam batin yang semakin peka pada kecenderungan enak kepenak kepada mati raga.

Yesus adalah teladan sekaligus model tapa ngrame, yang senantiasa datang menjadi pelayan bagi sesama. Di mana Dia berada, Dia selalu datang dalam kerangka hidup untuk melayani, siap untuk membantu oranglain yang membutuhkan pertolongan. KaryaNya adalah sebuah karya pelayanan hidup bagi sesama. Sebagai manusia, pasti Dia juga mengalami kelelahaan. Akan tetapi, Dia tidak melupakan untuk menyendiri, pergi ke tempat sunyi untuk berdoa, melihat karya pelayananNya itu dalam kerangka Allah Bapa…menghadirkan berkah Bapa bagi sesama. Sehingga, itu dapat menjadi ungkapan syukur yang mendalam, pengabdian dan panggilan luhur dalam hidup.

Salib merupakan puncak pelayananNya sekaligus konsekuensi kematian yang harus diterimaNya demi pelayanan menjadi berkah bagi sesama. Ia pun mengalami kelelahan yang amat sangat bahkan juga merasa ditolak “Ya Bapa mengapa Engkau meninggalkan Aku” seolah-olah pelayanan itu sia-sia dan tidak ada tanggapan positif dari sesama. Yang mengagumkan adalah, kemudian Dia menyerahkan diri “ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu” Meskipun dalam kemanusiaanNya Ia mengalami kesia-siaan karya, Dia mengalami pengalaman rohani yang mendalam, suatu penyerahan total pada Bapa.

Dilarang merokok

Larangan merokok yang dituangkan dalam perda no.2 tahun 2005 dan diintrodusir oleh provinsi DKI, tanggal 04 Februari yang lalu, dalam praksisnya ternyata belum banyak membawa perubahan yang begitu berarti. Masih ada saja orang-orang yang merokok sembarangan di tempat-tempat umum. Mengapa itu bisa terjadi? Persoalan merokok, kiranya tidak semata-mata hanya terkait dengan bagaimana aturan itu melarang atau memperbolehkan orang merokok, melainkan bagaimana membangun etika merokok yang muncul dari kesadaran para perokok itu sendiri. Lihat saja misalnya, dalam setiap kemasan atau bungkus rokok selalu dituliskan peringatan akan adanya akibat dari merokok: “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin”. Tetapi anehnya, peringatan itu tidak menyurutkan orang untuk menikmati nikotin yang terkandung di dalamnya. Banyak orang, tidak hanya kaum lelaki, tetap saja mengkonsumsi rokok dan membelinya meskipun harga rokok semakin mahal. Peringatan tersebut seolah-olah tidak banyak berbicara atau memberikan pengaruh bagi penikmat rokok. Atau contoh lain misalnya, di tempat-tempat tertentu dimana ditulis “Dilarang merokok!” atau “Trimakasih anda tidak merokok!” tidak juga membuat para perokok sadar untuk tidak merokok. Entah dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, orang begitu saja merokok tanpa mempedulikan orang lain terganggu atau tidak. Siapa atau apa yang salah?
Berbicara tentang rokok, memang bukan lagi barang asing bagi sebagian besar masyarakat. Rokok sudah dikenal sejak lama dan bisa dikatakan sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat. Bahkan, anak-anak usia sekolah pun sudah mengenal rokok dan mengkonsumsinya. Ada banyak alasan mengapa orang merokok. Pada awalnya, orang hanya coba-coba ingin merokok entah karena melihat orang lain merokok atau ditawari teman, yang lama kelamaan menjadi kebiasaan. Alasan yang lain, adalah demi pergaulan. Seseorang misalnya, akan tergoda kalau banyak temannya merokok sedangkan dia sendiri tidak. Situasi tersebut kemudian mendorong dia ikut-ikutan merokok, demi pergaulan dengan teman-temannya tersebut. Atau sebaliknya, demi bisa bergaul dengan teman-temannya yang biasa merokok, seseorang kemudian “terpaksa” merokok agar diterima atau bisa bersahabat dan membangun relasi dengan teman-temannya itu. Alasan yang lain lagi, untuk pelarian. Merokok bagi orang-orang tertentu dirasakan bisa mengurangi ketegangan dan stres. Dengan merokok, orang bisa merasa lebih santai, rileks dan tenang. Alasan-alasan tersebut, antara lain, membawa orang “belajar” untuk merokok dan menjadi terbiasa merokok, yang akhirnya sampai pada tahap ketagihan. Kalau sudah sampai tahap itu, sehari tidak merokok, rasanya menjadi tidak enak, mulut terasa pahit, kecut, mudah lapar dan lain sebagainya. Rokok menjadi candu. Permasalahannya adalah orang mau “belajar” merokok dan akhirnya menjadi kecanduan rokok, akan tetapi hal tersebut seringkali tidak diimbangi dengan belajar bagaimana bersopan santun dalam merokok terutama ketika berada di tempat-tempat umum atau bersama dengan orang-orang yang tidak (suka) merokok. Lalu bagaimana? Larangan yang disertai dengan denda 50 juta rupiah tersebut tentu dimunculkan dengan banyak pertimbangan. Akan tetapi, yang paling penting adalah bagaimana mendidik para perokok tersebut untuk menyadari, menghargai orang lain yang tidak merokok atau menghargai tempat-tempat umum dimana tidak semua orang merokok. Larangan tersebut merupakan sesuatu yang berasal dari luar diri para perokok. Dan inilah kesulitannya, belum tentu larangan yang berasal dari luar, apalagi yang dipaksakan, dapat menumbuhkan kesadaran dalam diri seseorang bagaimana beretika dalam merokok. Pertanyaan yang bisa dimunculkan kemudian adalah apakah larangan merokok yang diintrodusir oleh pemda provinsi DKI tersebut mampu mendidik para perokok sampai pada kesadaran dan penghargaan terhadap orang lain?? Kita lihat saja!!

Selasa, 10 Februari 2009

Gua Maria Watu Blencong



Boro- Tanggal 1 Januari 2009 yang lalu merupakan hari yang bersejarah bagi sebuah desa kecil di lereng bukit Menoreh. mengapa demikian? pada tanggal itu, ada seseorang yang mimpi ditemui bunda maria yang berpesan: padha sembahyanga, supaya atimu tentrem. (berdoalah supaya hatimu damai). bunda maria juga berpesan untuk memberikan tempat bagi dia di bawah sebuah batu yang dikenal oleh masyarakat desa itu sebagai watu blencong.

watu blencong adalah sebuah batu yang dipercaya masyarakat mengeluarkan api yang menyala-nyala ketika dilihat dari kejauhan pada malam hari. blencong adalah nama lampu yang digunakan untuk menyinari layar pada pagelaran wayang kulit.

gua maria watu blencong merupakan tempat berdoa yang nyaman dan sangat hening karena terletak di tempat yang jauh dari keramaian dan berada di lingkungan yang masih asri. sangat cocok untuk berdoa dan mengheningkan diri, menyadari keberadaannya sebagai insan manusia di hadapan Tuhan.




dimanakah letak gua maria watu blencong? gua ini memang belum bisa disebut sebagai gua karena tempatnya bukanlah gua melainkan sebuah tebing yang membentuk cekungan segitiga mirip gua dan disitulah ditempatkan patung bunda Maria. meski demikian, masyarakat sekitar, terutama mereka yang beragama katolik memiliki semangat yang tinggi untuk menjadikan tempat itu sebagai tempat berdoa bersama bunda Maria. letak gua maria ini adalah di dusun Borosuci rt 13 rw 07 Banjarasri Kalibawang Kulon progo. kurang lebih satu kilometer dari Gereja St Lisieux Boro ke arah utara.

apakah anda berminat untuk berziarah ke gua ini? silahkan untuk datang dan menikmati keindahan alam beserta keaslian gua maria ini. bersama bunda Maria, berdoalah memohon pepadhang untuk jalan hidup anda serta persoalan yang sedang dihadapi. bunda Maria senantiasa menghantarkan doa-doa anda kepada Tuhan Yesus. dan Tidak ada satu permohonan sang Bunda yang tidak dikabulkan Puteranya. Bunda Maria bunda Sang Blencong, Sang Pepadhang, Sang Terang. Mencari terang bersama bunda Maria...semoga jalan anda pun senantiasa diterangi oleh-Nya, Kristus Sang Cahaya dunia. amin.