Rabu, 25 Maret 2009

Pilih E55 atau E75???


Ponsel baru Nokia E55 diluncurkan pada Mobile World Congress di Bercelona Februari 2009 ini yang merupakan produk terbaru di jajaran seri E. Mengusung keyboard Qwerty tipe baru yang disebut SureType yang juga menyediakan akses ke Email, Calendar dan Contact melalui akses langsung ke Microsoft Exchange dan Lotues Notes. Selain itu secara fisik, ponsel ini sangat tipis yaitu 9.9 mm saja sehingga menjadikan ponsel ini paling tipis di kelasnya. Ponsel ini memiliki layar 2.4 inch yang cukup leluasa serta tombol keyboard untuk N-Gage.
Ponsel ini juga akan terintegrasi dengan layanan Ovi sehingga dapat memanfaatkan Ovi Maps dengan A-GPS di boardnya serta juga dapat memainkan game N-Gage.
Ponsel ini akan diluncurkan pada kuarter kedua 2009 dengan harga perkiraan 265 Euro.
Di hari pertama Mobile World Congress (MWC) 2009 hari ini, hampir semua produsen gadget susul-menyusul mengenalkan produk terbarunya. Termasuk Nokia, yang langsung meluncurkan dua ponsel pintar E series terbarunya.
Setelah Sony Ericsson dan Samsung yang hari ini (16/12) menggelar "duel" konferensi pers peluncuran tiga ponsel kamera mereka secara sekaligus, hari pertama kongres MWC 2009 ini juga diramaikan dengan hadirnya Nokia. Ya, Nokia meluncurkan dua buah E series–nya sekaligus, yaitu seri E55 dan E75.
Pihak Nokia menyatakan, seri E55 memiliki sebuah SureType keyboard dan kekuatan baterai yang mampu bertahan hingga sebulan. Nokia mengklaim, seri E55 ini akan menjadi ponsel pintar tertipis di dunia, meskipun masih ada tahap pengujian lagi yang harus mereka lakukan untuk mencapai tujuan tersebut.
Rencananya, E55 bakal dilepas ke pasar pada pada musim semi ini dengan banderol harga 339 dolar AS atau sekitar 4 juta rupiah.
Sementara itu, Nokia E75 akan diluncurkan dengan model slider design. Seri yang satu ini diharapkan akan menjadi handset pertama mereka yang akan menampilkan fitur Nokia Messaging. Pihak Nokia menuturkan, tipe ini memunyai jenis keypad nomor yang standar, tetapi memiliki full teknologi QWERTY di balik permukaannya yang pipih.
Sejak hari ini, pihak Nokia sudah mulai menawarkan produk seri ini di situs mereka dengan harga 352 dolar AS atau setara dengan Rp 4.224.000.(CNET/Reuters)


PERBANDINGAN E55 dengan E75
Sudah bukan rahasia lagi kalau Indonesia merupakan pasar ESeries yang sangat menggiurkan. Ini bukan karena kebanyakan orang Indonesia pebisnis lho… Namun lebih karena ESeries dapat mendongkrak martabat seseorang menjadi “seperti pebisnis”; kelihatan sibuk, penting, dan keren. Ini pendapat saya loh ya…
Kembali dari event MWC, NOkia memperkenalkan dua ponsel ESeries yang tampaknya akan laris manis di Indonesia. Nokia E75 dan Nokia E55 ini merupakan dua ponsel pertama di tahun ini yang memiliki user interface baru untuk email client. Keduanya juga dilengkapi Nokia Messaging, yang berpotensi membuatnya populer di kalangan anak muda.
Pertama, kita bahas Nokia E55 dulu yang tampaknya akan menggantika E51. Yang menarik dari seri ini adalah keypad-nya. Akhirnya Nokia mengikuti langkah Blackberry dan Sony Ericsson yang memiliki keyboard QWERTY berfungsi ganda. Saya sendiri pernah memakai keyboard ini dan memang membutuhkan sedikit waktu untuk membiasakannya, tapi cukup nyaman. Yang terpenting, ponsel dengan keyboard QWERTY semacam ini lebih nyaman dikantungi karena ukurannya jauh lebih kecil dibanding ponsel dengan keyboard QWERTY tradisional seperti E71 atau E63.
Dari segi fitur, ada perbaikan cukup signifikan dibanding Nokia E51. Sekarang terdapat GPS receiver dengan dukungan A-GPS, kamera sudah naik kelas menjadi 3,2 megapixel dengan autofocus, HSDPA mencapai kecepatan 10,2 Mbps (teorinya ya…), layar berukuran 2,4 inci, memori internal 60MB, dan software Symbian S60 rel.3.2. Nokia E55 diharapkan akan segera dijual di pasaran (kwartal kedua atau sekitar April - Juni) dengan harga 265 EURO atau sekitar Rp 3,5 juta. Oh ya, baterainya diklaim mampu bertahan sampai 28 hari (tanpa dipakai). Mungkin untuk di lapangan dengan pemakaian normal, saya harapkan E55 mampu bertahan 6 hari saja, itu sudah bagus kok.


Untuk Nokia E75, desainnya merupakan yang pertama di kalangan Nokia. Desain slider ke samping ini mampu mengakomodasi keyboard QWERTY yang cukup besar dan tampaknya nyaman untuk mengetik email atau bahkan novel sekalipun. Bagi pecinta Nokia 9300, boleh dibilang ini adalah pengganti tidak resmi dari communicator mini tersebut.
Berikut spesifikasinya:
2G Network GSM 850 / 900 / 1800 / 1900
3G Network HSDPA 850 / 900 / 1900 / 2100
Layar TFT 2,4 inci, 240 x 320 pixels
Memori 50MB internal + microSD (TransFlash), sampai 16GB
Data GPRS Class 32, HSCSD, EDGE Class 32, 296 / 177.6 kbits, HSDPA, 3.6 Mbps, Wi-Fi 802.11 b/g, UPnP technology, Bluetooth v2.0 A2DP, USB v2.0 microUSB
OS Symbian OS, S60 rel. 3.2
Warna casing Silver black, Red dan Copper yellow
Kamera 3.2 MP, 2048×1536 pixels, autofocus, video (VGA), flash; secondary VGA videocall camera
Fitur lain
- Built-in GPS
- aGPS function
- Java MIDP 2.1
- Stereo FM radio with RDS
- MP3/MP4/eAAC+/WMA player
- 3.5 mm AV jack
- Built-in handsfree
- Voice memo
- T9
Ukuran 111.8 x 50 x 14.4 mm, 69 cc
Berat 139 g

Sabtu, 21 Maret 2009

Pesta Demokrasi 9 April 2009



Pemilu sebentar lagi akan kita sambut. Sebagai warga negara Indonesia yang baik, tentu peristiwa ini merupakan salah satu bentuk pesta demokrasi yang diidam-idamkan oleh setiap warga negara, siapapun kita. Harapannya, pesta ini sungguh menjadi ajang untuk memilih wakil-wakil rakyat yang duduk di sebuah dewan perwakilan yang akan menentukan kebijakan-kebijakan bangsa Indonesia lima tahun kedepan. Harapannya kemudian, kebijakan-kebijakan tersebut merupakan keputusan untuk membuat setiap warga negara ini semakin sejahtera, dilindungi hak-haknya agar semakin mampu mengabdi Allah yang Esa dan saling melayani sebagai sesama.


Sebagai warna negara Indonesia, kita perlu untuk mempersiapakan pesta demokrasi ini, yang akan dilaksanakan mulai tanggal 09 April 2009, yang bertepatan dengan Hari Kamis Putih untuk umat Katolik yang merayakannya. Ada berbagai macam ketegangan yang muncul sebagai umat Katolik karena pada kenyataannya banyak umat Katolik yang dipercaya untuk menjadi panitia KPPS di berbagai wilayah. Oleh karena itu, berhadapan dengan situasi ini, kebijakan para uskup Indonesia sungguh patut untuk disambut dalam syukur karena para uskup menghendaki agar umat katolik yang dipercaya untuk melayani pesta demokrasi ini diharapkan untuk melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya sebagai sarana untuk mengemban tugas luhur Allah mewartakan kebenaran dan kesaksian iman dalam mewujudkan sebuah pesta demokrasi yang jujur, adil dan memihak kepada seluruh bangsa Indonesia ini. Oleh karena itu, apabila umat Katolik pada hari Kamis Putih itu terpaksa tidak dapat mengikuti perayaan ekaristi, janganlah merasa berdosa karena tugas itupun merupakan pelayanan kasih yang konkrit kepada masyarakat, seperti yang dilakukan oleh Yesus sendiri yang datang ke dunia untuk melayani dunia ini agar memperoleh keselamatan.

Marilah kita sebagai umat Katolik sekaligus sebagai warga negara Indonesia, kita persiapkan pesta demokrasi ini dengan sebaik-baiknya. kita kenali setiap wakil-wakil kita yang akan kita piliha agar sungguh mampu mewakili kita. Dan janganlah kita sia-siakan hak pilih kita untuk tidak memilih. Kita pilih dengan harapan kepada Tuhan seraya berdoa, agar mereka yang kita pilih diberi kekuatan untuk menjadi pelayan bagi bangsa ini, menjadi terang untuk bangsa ini dan menjadi sarana Allah untuk mewartakan kedamaian di bumi, keselamatan umat manusia.

Jumat, 20 Maret 2009

OPTIMALISASI WINDOWS VISTA

Windows Vista datang dengan segudang fitur. Beberapa fitur membuat tampilan Vista sangat menarik, beberapa fitur bisa membantu orang kantoran, beberapa fitur harus berjalan agar Vista berfungsi.

Sayang, sekian dari beberapa fitur itu bisa membikin kerja komputer menurun. Fitur yang mempercantik tampilan Vista ternyata menjadi beban bagi kerja kartu grafis. Fitur buat orang kantoran yang tidak dipakai orang rumahan membebani memori. Fitur-fitur yang kurang terpakai itu baiknya dimatikan saja agar kerja komputer lebih cepat

Tepatnya, fitur apa saja yang harus dimatikan? Apa semua fitur yang PCplus beritahu di artikel ini? Tidak ada jawaban yang pasti, tergantung pada bagaimana komputer digunakan dan selera sang empunya komputer. Pada laptop milik PCplus, hanya sebagian fitur yang dimatikan. Sebelum mengutak-atik fitur Vista, sebaiknya bikin dulu “restore point”. Jadi, kalau ada apa-apa setelah sebuah fitur dimatikan, tinggal kembali lagi ke “restore point” itu.

Sidebar
Sidebar berisi aplikasi-aplikasi kecil, seperti jam, slide show foto, serta RSS. Pengguna PC harus membayar dengan menurunnya kerja komputer untuk hal-hal kecil itu. Kalau dimatikan, kerja PC bisa lebih cepat. Cepatnya itu terasa saat Windows dinyalakan (boot).

Cara mematikannya seperti ini.
1. Klik kanan di Sidebar (di area mana pun), lalu klik [Close Sidebar].
2. Hilangkan tanda centang pada [Uncheck Start Sidebar when Windows starts].
3. Klik [OK].

Aero
Vista punya Aero yang merupakan suatu paket yang mempercantik tampilan Vista. Kalau diaktifkan, Vista akan punya berbagai efek yang harus diakui memang cukup mengagumkan.

Salah satu efek yang dibanggakan Microsoft adalah Flip 3D. Fungsinya untuk berpindah aplikasi, tetapi dengan efek 3D. Flip 3D mempercantik fungsi pindah aplikasi yang diakses dengan tombol [Alt] + [Tab]. Flip 3D sendiri diakses dengan tombol [Windows] + [Tab].
Sayangnya, pada komputer yang spesifikasi perangkat kerasnya pas-pasan, Aero menjadi beban. Begitu juga pada komputer yang isinya sudah kelewat banyak.

Berikut cara mematikan Aero.
1. Klik kanan pada desktop, lalu klik [Personalize].
2. Klik [Windows Color and Appearance].
3. Pada kotak yang muncul, klik [Open classic appearances properties for more color options]. Enggak menemukan opsi itu? Berarti, Aero memang sudah tidak aktif. Ketika spesifikasi perangkat keras tidak memenuhi syarat, Aero memang otomatis mati.
4. Pilih [Windows Vista Basic].
5. Klik [OK].

Tidak semua efek yang cantik berasal dari Aero. Ada beberapa efek yang memang sudah ada di Windows, misalnya efek bergeser dari jendela yang di-minimize atau efek munculnya petunjuk (tooltip).

Efek-efek itu bisa juga dimatikan. Caranya begini.
1. Klik [Start], klik kanan pada [Computer] lalu klik [Properties].
2. Klik [Advanced System Properties].
3. Pada kotak yang muncul, klik tab [Advanced].
4. Klik [Settings] yang ada di kotak “Performance”.
5. Lihatlah pilihan-pilihan efek yang muncul. Gampangnya, matikan saja semua. Tapi, bisa saja sebagian yang dimatikan. Hilangkan tanda centang pada efek yang hendak dimatikan.

Internet Printing Client
Ada loh layanan cetak online. Orang bisa mengirim foto ke penyedia layanan, foto dicetak, lalu dikirim ke suatu alamat. Kalau layanan seperti ini tidak pernah digunakan, matikan saja fitur “Internet Printing Client”.

Caranya:
1. Buka Control Panel, lalu klik [Programs and Features].
2. Klik [Turn Windows features on or off] yang ada di sebelah kiri.
3. Di kotak “Windows Features”, klik [Print Services].
4. Hilangkan tanda centang pada [Internet Printing Client].
5. Klik [OK].
6. Restart komputer setelah diminta.

Windows Meeting Space
Meeting Space adalah sebuah fitur yang memungkinkan seorang pengguna komputer berbagi file dengan kawannya yang berada dalam 1 jaringan komputer. File itu bukan cuma dibagi, tapi bisa diedit berbarengan. Kalau fitur ini tidak pernah dipakai, dimatikan saja yah.

Ini caranya:
1. Buka Control Panel, lalu klik [Programs and Features].
2. Klik [Turn Windows features on or off] yang ada di sebelah kiri.
3. Hilangkan tanda centang pada “Windows Meeting Space”.
4. Klik [OK].

Fitur-Fitur Tablet PC
Vista dilengkapi dengan fitur untuk Tablet PC. Kalau saja Vista tidak di-install di Tablet PC, buat apa fiturnya diaktifkan. Toh, tidak akan digunakan.

Cara mematikannya:
1. Buka Control Panel, lalu klik [Programs and Features].
2. Klik [Turn Windows features on or off] yang ada di sebelah kiri.
3. Di kotak “Windows Features”, hilangkan tanda centang pada [Tablet PC Optional Components].
4. Klik [Start], ketikan “services” di kotak pencarian. Ketika muncul [Services] di hasil pencarian, klik di situ.
5. Cari [Tablet PC Input Services]. Kalau sudah ketemu, klik ganda di situ.
6. Pada menu drop-down “Startup type”, pilih [Disabled].
7. Klik [OK].

ReadyBoost
ReadyBoost sedianya mempercepat Vista. Tapi, apa peningkatan kecepatannya sangat terasa? Pada beberapa kasus, penggunaan ReadyBoost justru memperlambat komputer.

ReadyBoost bisa dimatikan di bagian Services dengan cara:
1. Klik [Start], ketikan “services” di kotak pencarian. Klik [Services] pada hasil pencarian.
2. Klik ganda pada [ReadyBoost].
3. Pada menu drop-down “Startup type”, pilih [Disabled].
4. Klik [OK].

Laporan Kesalahan
Kalau suatu program mendadak berhenti bekerja—entah program punya Windows, entah program lain—Vista akan menawarkan apakah pengguna ingin melaporkan kesalahan itu ke Microsoft. Idealnya, Microsoft akan mencari tahu apa yang menyebabkan kesalahan itu. Yah, kalau PCplus sih jarang mengirimkan laporan. Jadi, fitur laporan kesalahan itu PCplus matikan.

Begini cara mematikannya.
1. Klik [Start], ketikan “services” di kotak pencarian. Klik [Services] pada hasil pencarian.
2. Klik ganda pada [Windows Error Reporting Service].
3. Pada menu drop-down “Startup type”, pilih [Disabled].
4. Klik [OK].

Indeks Pencarian
PCplus perlu berpikir berulang kali untuk mematikan fitur ini. Soalnya, fitur ini sangat berguna untuk mencari file, program, atau e-mail dengan cepat. Kalau fitur ini dimatikan, pencarian file dan lain-lain yang seharusnya ketemu dalam hitungan detik, bisa baru ketemu setelah beberapa menit pencarian.

Tapi, kalau fitur ini dihidupkan, Vista akan terus menerus membuat indeks selama isi harddisk berubah. Beberapa orang yang spesifikasi komputernya pas-pasan, bolehlah mematikan fitur ini.

Cara mematikannya:
1. Klik [Start], ketikan “services” di kotak pencarian. Klik [Services] pada hasil pencarian.
2. Klik ganda pada [Windows Search].
3. Pilih [Disabled] pada menu drop-down [Startup type].
4. Klik [OK]. (kmp)

Kamis, 19 Maret 2009

OMK: Manakah gaya Liturgi yang cocok untuk mereka?

1. Analisis socio-kultural penghayatan agama orang muda:
Liturgi sesudah konsili Vatikan II mengemban tugas yang luarbiasa besar. Pembaruan dalam berbagai aspek diwarnai oleh penemuan nilai-nilai dasariah antara lain:.
• Kristus dan Misteri Paskah-Nya harus menjiwai seluruh doa, perayaan liturgi, tahun liturgi, hari Minggu, sakramen-sakramen, Ibadah Harian, yang menguduskan seluruh hidup manusia dari hari ke hari.
• Liturgi yang baru harus berstruktur dialogis dan mengilhami doa-doa kristiani berdasarkan Sabda Allah. Allah membuka dialog lewat Sabda-Nya, kita menjawab ajakan-Nya dengan mendengarkan, memuji, bersyukur serta mempersembahkan diri kepada-Nya.
Pada nilai-nilai dasariah ini, apa yang dapat dibuat untuk orang muda? Bagaimana Gereja mampu menggerakkan hati orang muda untuk merayakan Liturgi dan berdoa?
Orang muda selalu ada di tengah masyarakat dan mengalir bersama masyarakat. Kita dapat menjumpai aneka ragam tipe orang muda di tengah gaya hidup masyarakat yang juga beraneka ragam, dan tak jarang menemukan kenyataan-kenyataan kontradiktif, entah karena jiwa mereka yang bergelora mencari jati diri, atau juga karena kita yang secara gampangan memutlakkan pendapat sendiri tentang mereka, keliru persepsi bahkan salah tafsir. Iklim keluarga memang sangat memainkan peranan. Bersama para pendidik di sekolah-sekolah semoga ada kerjasama yang bagus demi masa depan mereka.
Dalam penghayatan agama, kita menemukan aneka ragam kwalitas orang muda. Memang dalam situasi sedemikian ini kita berhadapan dengan aneka pribadi orang muda dengan semangat religius yang berbeda, selera serta minat berbeda, serta entusiasme yang beragam terhadap segala yang datang dari lembaga keagamaan. Namun demikian saya tetap bersyukur atas kenyataan bahwa di Indonesia ini masih banyak orang muda yang rajin ke gereja, untuk merayakan Ekaristi mingguan serta aktif mengikuti kegiatan-kegiatan paroki atau organisasi-organisasi. Disamping itu pula masih lebih banyak orang muda katolik yang memiliki semangat parokial dan misioner meskipun sana sini terhalang oleh faktor pribadi antara lain kecocokan antara mereka serta rasa percaya diri. Memang dalam berbagai sektor kegiatan, Gereja berusaha membimbing orang muda sejak kecil, khususnya melalui pendidikan persekolahan dan dengan kacamata yang realistis kita pun harus mengakui keberadaan mereka yang dinamik di tengah persaudaraan kristiani.
Di tengah dinamika hidup masyarakat yang terus berkembang dan berobah ini, masa depan mereka perlu dibangun di atas konsep nilai-nilai yang sepantasnya mereka miliki:
• Tiap individu adalah pribadi berpotensi dengan kekayaan pengalaman hidup masing-masing.
• Pemahaman tentang hidup bermasyarakat dengan percaturan politik di dalamnya bukanlah sekedar ideologi tetapi merupakan jawaban atas berbagai kebutuhan kongkrit manusia.
• Keadilan dan kebebasan bukanlah suatu yang abstrak tetapi sebagai persoalan nyata dari wilayah tertentu atau pengalaman hidup suatu komunitas.
• Konsep kerja adalah sebagai ungkapan pengembangan manusia dan bukan sekedar sarana pencarian nafkah.
• Tanggungjawab dan ikatan pribadi adalah unsur-unsur tetap yang harus ditanamkan sebab dengan demikian tiap orang merealisasikan peran-sertanya pada pembangunan sejarah dan masa depan kemanusiaan.
• Sikap menerima dari pihak orang muda pada struktur dan lembaga baik social maupun gerejawi yang tidak membirokratisasi hidup manusia tetapi membebaskan. .
Seiring membangun kepekaan akan nilai-nilai itu maka dalam penghayatan agama perlu juga memperhatikan beberapa gejala pada mereka antara lain,
• Usaha pengembangan diri sebagai orang katolik dalam kegiatan-kegiatan di luar Gereja serta tingkahlaku non-religius yang dikultus setinggi langit.
• Usaha mengikat secara langsung pengalaman iman dengan perjuangan dibidang politik, sosial, budaya atau secara umum dengan jalannya sejarah.
• Pembaruan interese terhadap dimensi eklesial dan usaha mengatasi selisih pendapat aprioristik dalam hal sepele dan sempit.
• Konsep tentang penghayatan iman yang tak mungkin terpisah dari situasi budaya dan kehidupan kongkrit.
Semuanya ini dapat menjadi bahan refleksi bagi pendidikan orang muda katolik ke penghayatan iman dan hidup kristiani, dan tentu hal ini menjadi masukkan khusus bagi Liturgi ketika harus menjadi puncak dan sumber hidup dan karya mereka juga.

2. Manakah gaya Liturgi untuk orang muda?
2.1 Beberapa prinsip umum Vatikan II:
Kalau hingga kini kita belum menemukan Pedoman khusus dari Vatikan tentang Ekaristi bersama orang muda, maka dapat merupakan tanda bahwa persoalannya lebih kompleks daripada dunia anak-anak. Kita tahu, seiring terbitnya Directorium de Missis cum pueris, Pedoman tentang Misa bersama anak-anak, maka setahun kemudian, th. 1974, Kongregasi Ibadat menerbitkan tiga Doa Syukur Agung khusus buat anak-anak; yang kita kenal dalam TPE sebagai DSA VIII, IX, X. Memang dalam kenyataan, paus Yohanes Paulus II sangat memberikan perhatian kepada orang muda. Kepekaan pastoral sedemikian itu sungguh nyata dalam pembaruan Liturgi Vatikan II dan mendapat penekanan jelas dalam setiap dokumennya. Prinsip-prinsip yang mau dikembangkan dan pasti berkaitan juga dengan orang muda antara lain,
• Partisipasi: Orientasi pastoral tidak berkutat hanya pada sah atau boleh-tidaknya suatu perayaan tetapi secara khusus harus memperhitungkan partisipasi secara sadar dalam cara yang aktif dan berdaya-guna (SC 11). Selanjutnya, partisipasi itu hendaknya sedemikian rupa selaras dengan umur, kondisi, kebiasaan hidup serta rata-rata taraf penghayatan religius umat beriman (SC 19).
• Inkulturasi/ adaptasi: Dalam Liturgi, ritus dan kata-kata terkait erat satu sama lain. Tetapi kedua-duanya masih harus disesuaikan dengan daya-tangkap umat beriman (SC 34). Ini berarti dalam pembaruan Liturgi, ritus-ritus harus disederhanakan agar lebih dasariah dan lebih jelas, dan kata-kata yang digunakan hendaknya diselaraskan dengan kebiasaan dan adat-istiadat setiap suku bangsa (SC 37 dan 38). Bahkan dalam situasi biasa sehari-hari tanpa adaptasi-kultural, setiap pemimpin perayaan perlu mengusahakan penyesuaian- penyesuaian akomodatif demi partisipasi yang sungguh bersemangat dan berdaya-guna, eksternal-internal, penuh iman-harap-kasih.

2.2 Jiwa Orang Muda terkandung dalam Jiwa Liturgi:
Jiwa orang muda adalah jiwa manusia umumnya yang pada periode menjelang dewasa mengalami frekwensi letupan yang kuat dan bergelora. Berbagai dorongan kodrati bekerja lebih aktif demi pengembangan diri. Mereka menjadi sangat idealis, kritis, spontan, bersemangat meraih prestasi, ingin cepat mewujudkan cita-cita, keadaan fisiknya pun lebih segar, kuat dan sehat penuh gairah dengan pesona penampilan yang khas. Nah, dapat dibayangkan, bagaimana kira-kira mengembangkan Liturgi yang cocok buat mereka.
Syukur, pembaruan Liturgi dewasa ini justru mengangkat nilai-nilai Liturgi sebagai perayaan. Hal ini berdampak luas pada peran-serta umat yang lebih spontan lahir-bathin. Unsur dialog antara Allah dan umat-Nya lewat simbol perayaan lebih ditampilkan. Lebih dibuka peluang peran-serta umat beriman dalam berbagai tugas pelayanan liturgis. Ketika peran-serta umat menjadi begitu sulit maka digalakkan berbagai penyesuaian baik akomodatif maupun inkulturatif. Umat yang hadir diusahakan dalam berbagai cara agar tidak menjadi seperti orang asing atau penonton yang bisu (SC 48).
Keterbukaan Liturgi dengan semangat penyesuaian akomodatif menurut tingkat umur, kelompok kategorial, membuka peluang bagi ungkapan-ungkapan jiwa orang muda sehingga dalam “gaya”nya mereka lebih akrab berkomunikasi dengan Tuhan dalam kebersamaan dengan rekan-rekan yang lain. Oleh karena itu beberapa unsur Liturgi berikut ini perlu dirancang secara terpadu dengan baik bagi orang muda.
• Kreativitas: Perayaan Liturgi dewasa ini menawarkan diri sebagai wadah kreativitas, bukan sekedar realitas dengan berbagai pengulangan serba mekanis. Kreativitas sekaligus berarti ada kebebasan untuk mengungkapkan jiwa muda. Liturgi memiliki latarbelakang sejarah sebagai wadah pengembangan kreativitas dalam Roh dengan berbagai ungkapan yang selalu baru untuk memuji, bersyukur atas segala karya Allah yang ajaib di tengah berbagai pengalaman hidup manusia dalam budayanya. Gereja menghidupkan Liturginya dan hadir di tengah orang muda sebagai perayaan yang selalu actual dalam terang misteri ‘Kebangkitan’ Kristus
• Pesta: Liturgi memiliki ciri ‘pesta’ dimana ada kegembiraan dan spontanitas, ada ungkapan musik, nyanyian, tata-gerak, imaginasi, puisi, keindahan hiasan dan penampilan. Semuanya ini mengalir dari partisipasi lahiriah yang ditampilkan oleh semangat pembaruan untuk melengkapi partisipasi bathiniah yang lebih menjadi ciri partisipasi ‘tempo doeloe’. Gereja dewasa ini menghadirkan warna Liturgi yang lebih hidup bagi umat beriman sesuai dengan kebesaran Misteri Paskah Kristus yang membawa optimisme iman dalam cinta persaudaraan dan keakraban satu sama lain.
• Menyatu dalam Hidup: Sabda Allah selalu berkaitan dengan hidup manusia. Sabda Allah yang sedemikian kuat menguasai doa-doa dan ritus perayaan dapat menjadi ilham paling mendasar untuk membangun sikap hidup yang baik, benar, bijaksana, dengan segala optimisme iman, harap dan kasih. Liturgi Sabda berciri dialogal antara Allah, ‘Sang Sabda’ dengan umat-Nya terkasih.Bahkan Sabda Allah dalam kesatuan dengan ritus dan kata-kata menyapa pribadi dalam kemesrahan Roh yang menyegarkan dan menggairahkan semangat hidup. Oleh karena itu sangat diharapkan bahwa homili sesuai dengan hakikatnya harus dapat membantu orang muda juga untuk melihat hubungan antara Sabda Allah dengan situasi hidup kongkrit yang mereka tahu dan lihat setiap hari. Dalam hal ini pula Liturgi sebagai sumber dan puncak hidup dan kegiatan Gereja, akan berperan lebih nyata.

3. Beberapa Inisiatif Pastoral yang dapat dikembangkan:
• Pendidikan katekese-liturgis di sekolah-sekolah katolik hendaknya mendapatkan perhatian yang memadai, demikian pula kreativitas- liturgis dalam pelaksanaan Misa sekolah menurut Directorium de Missis cum pueris sehingga anak-anak remaja calon orang muda katolik semakin trampil dan mencintai segala urusan yang berkaitan dengan Liturgi.
• Menyiapkan suatu perayaan Liturgi bersama orang muda menuntut jarak waktu untuk mengamati jiwa mereka supaya memahami bahwa tidak setiap pribadi orang muda mengharapkan hal-hal serba ‘nyentrik’. Jangan pula menyangka semua orang muda suka akan kotbah yang nyentrik. Yang pasti mereka ingin disapa dalam keakraban kerjasama; masing-masing menurut minat, bakat, ketrampilan, tanpa digurui dan dipaksa tetapi lebih dipercaya.
• Mereka perlu merasa dipercaya dalam berbagai tugas sehingga secara spontan ingin mengembangkan kreativitasnya secara lebih leluasa. Kita cukup mendampingi seperlunya demi Liturgi yang sehat dan benar. Kadang-kadang mereka mengeluh tentang sikap Dewan Paroki atau pastor yang kaku, arogan dan terlalu mengatur dan membatasi.
• Pemimpin perayaan hendaknya tahu mencipta iklim dialogal pada setiap bagian ritual yang memberi peluang untuk pengantar spontan sehingga mereka selalu dibawa ke peran-serta yang sadar dan aktif
• Perlu membangkitkan iklim kerjasama dan komunikasi yang baik antara mereka satu sama lain sambil membagikan tugas-tugas secara adil dan merata. Jiwa orang muda masih sangat peka akan komunikasi dan relasi antara mereka sendiri, sehingga mudah terpecah-belah karena hal-hal kecil.
• Peran pemimpin masih tetap diperlukan dan masih tetap dinanti sebagai sosok pribadi yang dewasa dan bijaksana; yang tahu membangkitkan keberanian mereka akan tanggungjawab bersama dan tahu memberi penghargaan positif terhadap intuisi / gerakan hati orang muda.
• Perayaan Liturgi tak terpisahkan dari semangat missioner. Suasana perayaan dengan nilai-nilai Kabar Gembira harus menyemangati mereka untuk memberi kesaksian dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu tak mungkin membayangkan suatu perayaan Ekaristi bersama orang muda sebagai arena hiburan belaka tanpa memetik hikmah dari perayaan khusus itu, tanpa mengalami kesegaran rohani dari perjumpaan ilahi dalam doa, tanpa membangkitkan niat-niat baru yang lebih bermutu untuk mengisi kehidupan mereka.

Selasa, 10 Maret 2009

Apakah aku (selalu) virgin….upssss!!!????

Ada ungkapan begini:
Romo, pacaran jaman sekarang kalo tidak make eM-eL (hubungan seksual) rasanya ga affdoll!!”
“Wah, udah biasa tuh, Rom! Banyak yang juga melakukan petting dengan pacarnya, koq!”

Ini adalah dua ungkapan, yang mewakili minimal dua orang cewek yang secara langsung saya dengar dalam pembicaraan sharing atau konseling pastoral. Tentu saja, dua ungkapan ini tidak bisa digunakan untuk menyimpulkan bahwa memang banyak anak muda jaman sekarang yang berbuat seperti itu (hubungan seksual di luar ikatan perkawinan, kissing-necking-petting-ML-ing dan ….ing yang lainnya lagi).
Namun, bagaimana sebenarnya kenyataan yang terjadi di jaman ini? Titik berangkatnya, mau tidak mau dari diri kita sendiri bagaimana pertanyaan itu mau kita jawab.

1. Konteks Jaman ini
Tidak bisa kita pungkiri bahwa arus globalisasi jaman ini membawa dampak perubahan perilaku yang muncul dalam diri kita. Hedonisme, instanitas, mentalitas senang – tidak senang, konsumtif begitu menggejala dalam perilaku hidup kita jaman sekarang. Berbagai fasilitas yang memudahkan hidup bagai pisau bermata dua, mendukung kehidupan tetapi juga membuat kita mudah patah perjuangan untuk membangun komitmen hidup. Hal ini sadar atau tidak mempengaruhi mentalitas dan perilaku hidup kita di jaman ini, secara khusus bagaimana kita memperlakukan tubuh kita ini. Kita lebih suka yang enak kepenak, menyenangkan, nikmat dan membuat diri kita ini merasa nyaman dan aman. Untuk mendapatkan semua itu, seringkali kemudian kita menghalalkan segala cara termasuk merendahkan martabat tubuh kita ini menjadi sarana untuk mendapatkan semua kepuasan jaman.
Arah pastoral Keuskupan Agung Semarang (KAS) yang menjadikan tahun 2007 sebagai keluarga, sungguh penting untuk kita sikapi secara positif dan bijaksana. Gereja KAS menyadari berbagai tantangan jaman yang bisa berpengaruh bagi pembangunan keluarga katolik yang sejati. Arus-arus jaman ini membuat kita sulit untuk membangun komitmen hidup yang selaras dengan kehendak Allah: menghargai martabat pribadi manusia dan kesucian perkawinan. Hal ini bisa diindikasikan dengan fenomena yang dirasakan: seks di luar ikatan perkawinan, perselingkuhan, perceraian, MBA, dan sejenisnya.
Adanya seminar ini, secara tulus saya pribadi merasa bersyukur karena, saya merasa bahwa keprihatinan akan kesucian hidup, yang dilambangkan dengan istilah “virginitas” kita rasakan sebagai masalah kita bersama, yang harus kita sikapi dalam rangka bagaimana kita musti mempersiapkan diri untuk membangun sebuah keluarga (perkawinan) yang selaras dengan kehendak Allah yang tertuang dalam hukum Gereja dan menghargai setinggi-tingginya kesucian martabat perkawinan Katolik.

2. Perawan : Panggilan untuk hidup dalam kekudusan.
Allah adalah kudus. Ia menciptakan manusia menurut kehendakNya sebagai gambar dan rupa Allah (Kej 1: 26). Menurut gambar dan rupa Allah berarti menjadi tanda kehadiran Allah bagi dunia. Itulah panggilan dasariah setiap manusia yang berada di dunia ini. Cara keberadaan manusia itu tampak dan mewujud melalui tubuh atau raganya. Manusia disebut manusia kalau ia memiliki jiwa dan tubuh, sisi rohani dan jasmani. Tubuh menjadi pengungkapan diri manusia untuk berkomunikasi dengan alam, sesama, dan Allah. Tubuh menjadi cara yang kelihatan bagi manusia untuk menanggapi kasih Allah yang telah lebih dahulu mencintai manusia. Oleh karena itu, St Paulus menasihatkan “supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Rm 12:1). Paulus juga memiliki keyakinan bahwa kita seluruh diri kita, jiwa dan raga ini adalah bait Allah, “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?
Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.” (1Kor 3: 16-17). Dengan demikian menjadi jelas bahwa diri kita dikehendaki Allah supaya menjadi kudus sehingga kita sebagai orang beriman menanggapi kehendak Allah tersebut dengan menjaga dan memelihara kekudusan diri kita di hadapan Allah.
Berkaitan dengan kekudusan diri kita ini, Yesus sendiri mengatakan bahwa hidup tidak kawin merupakan karunia luhur untuk menjadi kudus karena kemauannya sendiri dan demi Kerajaan Allah meskipun tidak setiap orang dapat hidup tidak kawin (Mat 19: 11-12). St Paulus juga menegaskan, apabila seseorang tidak dapat bertahan untuk tidak kawin, lebih baik orang itu menikah daripada hangus oleh hawa nafsu (1Kor 7: 9). Kerapkali hawa nafsu mudah menguasai diri kita dan kita menjadi ternoda, tercemar di hadapan Allah ketika kita hanya mengikuti hawa nafsu diri kita yang membuat kita semakin jauh dengan Allah dan kekudusanNya.
Seluruh diri dan hidup manusia adalah karunia Allah yang sejak awal diciptakan, dihembusi oleh RohNya sehingga manusia hidup (Kej 2: 7). Roh Allah sudah bertahta dalam diri manusia sejak awal hidup manusia. Roh itulah yang membuat manusia hidup dan kudus, dekat dengan Allah. seluruh diri manusia adalah tahta Roh Allah yang dikehendakiNya supaya hidup kudus. Oleh karena itu, sungguh layak dan pantas apabila manusia mensyukuri seluruh diriNya dan mempersembahkan seluruh dirinya untuk hidup kudus dan tidak mencemarkannya dengan hawa nafsu, tidak menyalahgunakannya demi keinginan-keinginan sesaat. Apalagi, mempergunakan tubuhnya hanya untuk menyenangkan dirinya sendiri, mengejar kepuasan dan kenikmatan sesaat.

3. Virginitas dalam Hukum Perkawinan.
Apakah virginitas atau keperawanan mempengaruhi sah / tidak nya sebuah perkawinan menurut Gereja Katolik? Gereja sungguh menjunjung tinggi kesucian martabat perkawinan. Gereja menyadari bahwa perkawinan adalah salah satu panggilan ilahi bagi umatNya untuk membangun sebuah keluarga yang menurut kehendakNya seorang laki-laki dan seorang perempuan hidup bersama, saling membantu dan menolong, menjadi satu daging (Kej 1: 24) supaya suami-istri saling menguduskan dan juga menguduskan dunia. Dengan kehendak Allah itu, Gereja menghendaki bahwa perkawinan merupakan kebersaman seluruh hidup antara seorang pria dan seorang wanita, yang terarah pada kesejahteraan suami-istri serta kelahiran dan pendidikan anak, dimana antara orang-orang yang dibaptis, oleh Kristus perkawinannya diangkat ke martabat sakramen (Kan 1055), menjadi lambang hubungan Kristus dengan GerejaNya. Oleh karenanya, perkawinan Katolik bersifat monogam dan tak terceraikan, satu kali seumur hidup dengan pasangannya. Yang utama dalam perkawinan Katolik adalah bagaimana seorang laki-laki dan seorang perempuan membangun kebersamaan seluruh hidupnya dalam sebuah keluarga dan terbuka pada kelahiran anak dan pendidikannya menurut iman Katolik.
Kehendak Gereja seperti itu tidak bisa dibangun secara instan, melainkan sungguh dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum seorang laki-laki atau seorang perempuan memutuskan untuk mengikatkan diri dalam sebuah perkawinan. Oleh karena itu, bagi Gereja, masa persiapan tersebut harus sudah dimulai sejak kita masih “nunut” orangtua kita: bagaimana kita meresapkan nilai-nilai dan iman kristiani dalam hidup kita. Masa pacaran, bagi Gereja, bukanlah sekedar mencari kesenangan atau supaya tidak dianggap “ga laku”, melainkan sebagai masa persiapan menuju sebuah perkawinan: bagaimana belajar untuk hidup bersama, dalam arti mengenal secara benar calon pasangannya sifat, karakter, dan kepribadiannya sehingga kita tahu betul apakah bisa hidup bersama dengan calon pasangan kita atau tidak untuk seumur hidup kita. Gereja juga memberikan pelayanan “kursus perkawinan” dalam rangka yang sama. Sebab, Gereja sungguh menyadari akan tingginya martabat perkawinan dan kesuciannya sebagai lambang persatuan Kristus dengan Gereja.
Dalam hukum perkawinan Gereja sendiri, perawan atau tidaknya, perjaka atau tidaknya, seseorang, bukanlah menjadi halangan (membuat tidak sahnya) bagi sebuah perkawinan yang kristiani karena Gereja mengandaikan bahwa laki-laki atau perempuan yang belum terikat oleh sebuah perkawinan adalah perawan / perjaka. (halangan perkawinan misalnya: umur, impotensi, ikatan perkawinan sebelumnya, beda agama, tahbisan/ kaul kekal, penculikan, pembunuhan pasangan, hubungan darah, hubungan semenda garis lurus, kumpul kebo dengan yang berhubungan darah garis lurus, adopsi). Oleh karena itu, jelas bahwa Gereja pun tidak merestui seorang laki-laki atau perempuan melakukan hubungan seksual dalam arti luas ataupun sempit (menghilangkan “keperawanan” dan “keperjakaan” nya) di luar ikatan perkawinan. Apabila ada seorang laki-laki atau perempuan melakukan hubungan seksual dengan pasangannya yang juga belum terikat perkawinan, orang-orang ini melakukan perbuatan cabul (berdosa seksual dan tidak layak menerima komuni suci). Begitu pula, mereka yang sudah terikat perkawinan dan melakukan hubungan seksual dengan bukan suami atau istrinya, mereka melakukan perbuatan zinah (berdosa seksual yang lebih berat dan tidak diperkenankan menerima komuni suci). Apalagi dalam kedua kasus tersebut, terjadi tindakan aborsi karena kehamilan yang tidak dikehendaki, secara otomatis, mereka yang melakukannya menerima hukuman ekskomunikasi (dicabut hak-haknya sebagai warga Gereja) secara otomatis (Kan 1398 – “Yang melakukan aborsi dan berhasil, terkena ekskomunikasi latae sententiae”).
Dari paham Gereja mengenai diri dan tubuh manusia yang adalah bait Allah sendiri, tampak bahwa Gereja sungguh menjunjung tinggi martabat kesucian dan keperawanan setiap orang. Manusia dipanggil untuk menjadi kudus dan berkenan di hadapan Allah yang terungkap dari perilaku dan hidup dirinya. Oleh karena itu, keperawanan atau virginitas menjadi lambang kesetiaan dan komitmen hidup yang terus menerus dibangun dihadapan Allah baik ketika kita ini (masih) hidup sendiri maupun hidup dalam sebuah perkawinan. Keperawanan pertama-tama berkaitan dengan kesetiaan kita pada panggilan Allah untuk hidup kudus. Di dalam kegadisan atau keperjakaan kita, keperawanan mengandung arti bahwa kita senantiasa menguduskan diri kita dengan berperilaku hidup di dalam kasih Allah, mempersembahkan dan memberikan diri kita selaras dengan apa yang dikehendaki Allah, bukan apa yang kita kehendaki sendiri. Di dalam hidup perkawinan, keperawanan kita mengandung arti bahwa kita menguduskan diri kita dengan mempersembahkan kesetiaan kita kepada Allah yang mewujud dalam diri pasangan hidup kita, seumur hidup. Inilah panggilan sekaligus tantangan berat di jaman ini.

4. Konsekuensi Pastoral
Tantangan jaman ini begitu berat berkaitan dengan memelihara virginitas hidup dan tubuh kita. Era dan pandangan baru mengenai tubuh kita kini mengalami pergeseran. Budaya hedonis dan mencari nikmat-senang-enak begitu kuat, dan dicapai melalui cara dan sarana apapun, termasuk mempergunakan tubuh kita ini sekedar demi mencapai kenikmatan dan kepuasan itu. Teladan kesetiaan menjadi begitu mahal di jaman ini, yang sadar atau tidak, juga mempengaruhi cara pandang dan berperilaku dalam hidup kita. Jangan-jangan, adanya berbagai macam alat kontrasepsi semakin mendukung kita untuk tidak setia???!!! So whatz???
Hal utama yang musti kita lakukan untuk menjaga dan memelihara virginitas kehidupan diri kita adalah selalu mendekatkan diri kepada Allah, sumber kekudusan hidup dan memohon rahmatNya untuk menguatkan diri kita, bertahan dalam kesetiaan hidup.
Gereja KAS melalui nota pastoral bagi keluarga-keluarga juga menganjurkan kepada kaum remaja dan muda-mudi untuk semakin menyadari bahwa perkawinan dan hidup berkeluarga yang baik bukanlah suatu hal yang sepele dan mudah. kaum muda yang merasa terpanggil untuk hidup berkeluaga diharapkan mempersiapkan diri sebaik-baiknya secara bertahap dan berkelanjutan. Setelah berkembang dalam berbagai hal baik selama masa kanak-kanak, kaum remaja diharapkan berkembang dalam menghayati seksualitas mereka, sesuai kehendak Tuhan sendiri: mengembangkan keutamaan kemurnian. Rasa tertarik dengan lawan jenis hendaknya terutama ditunjukkan dengan sikap hormat dan sikap simpatik. Muda-mudi yang sedang berpacaran diharap menjalani masa pacaran mereka secara kristiani. artinya, mereka diharap semakin saling mengenal dan saling mengasihi dengan kasih yang murni dan sejati, yaitu sabar, murah hati, sopan, dapat menyimpan rahasia, dan tak berkesudahan (1Kor 13: 1-8).



† Tuhan Senantiasa Memberkati Kita †


Tambahan:
Rasul St. Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus menyatakan bahwa keperawanan adalah lebih baik daripada perkawinan, yang condong memecah energi seseorang. Pernyataan Paulus ini didasarkan pada keyakinannya bahwa orang Kristen, melalui baptis telah dimasukkan dan masuk dalam kehidupan surgawi sehigga tidak lebih terikat dengan dunia ini. Dalam kehidupan surgawi, tidak ada lagi orang yang kawin dan dikawinkan.
Meski demikian, Paulus juga tidak memandang rendah sebuah perkawinan, lebih baik seseorang menikah daripada tidak mengakui (hangus) oleh kebutuhan daging (nafsu). Perkawinan menghindarkan orang dari perilaku seks yang tidak bertanggungjawab dan bersifat percabulan/ perzinahan.

Arti virginitas
Dalam New Catholic Ensyclopedia, dinyatakan ahwa virginitas atau keperawanan merupakan status dari seseorang yang tidak memiliki relasi/ hubungan seksual dan menghindarkan diri dari secara sukarela terhadap kesenangan/ kenikmatan badani yang memasukkan orang dalam perbuatan dosa. Dalam kitab suci (PL) “who had never known a man” (Kej 24; Bil 31: 18, “belum pernah bersetubuh dengan laki-laki” ) atau dalam istilahnya Maria “Bagaimana hal itu mungki terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk 1: 24)
Dalam kebudayaan-kebudayaan kuno, virginitas sungguh dihargai dan dihormati menjadi lambang kemurnian dan kesegaran, yang dianggap sebagai sumber berkat, kekuatan dan daya hidup. Dalam tradisi perjanjian lama sendiri mengalami perkembangan. Dalam tradisi-tradisi awal, seorang laki-laki yang mau menikahi perempuan perawan harus “membeli” kepada ayahnya dengan sejumlah uang (50 perak) atau barang, baru kemudian perawan itu menjadi milik laki-laki yang membelinya (dalam perkawinan). Hal ini terkait dengan status perempuan waktu itu, hanyalah sebagai salah satu harta kekayaan keluarga. Meski dengan cara dibeli, seorang perempuan yang telah dikawini, tidak boleh diceraikan dengan alasan apapun, kecuali zinah. Sebab, seorang perempuan yang sudah bersuami dan diceraikan, tidak memiliki harga diri lagi di mata masyarakat israel waktu itu.
Dalam perkembangan selanjutnya, terutama semenjak masa pembuangan, orang-orang Israel semakin menyadari arti kesucian hidup. Pembuangan yang dialami mereka dipandang sebagai dampak dari kehidupan dosa yang telah dilakukan. Kesucian dan kemurnian hidup sungguh dihargai dan diperjuangkan, terlebih lagi saat masuk ke tempat-tempat suci dan peribadatan. Oleh karena itu, perempuan yang sedang menstruasi tidak boleh ikut peribadatan karena dianggap cemar.
Berkaitan dengan hal itu, seorang imam yang menjadi pemimpin peribadatan, tidak lagi boleh menikah dengan sembarang perempuan, apalagi pelacur, perempuan yang telah kehilangan kehormatannya, atau jua janda, melainkan dengan perempuan yang masih perawan. Dan apabila, punya anak perempuan, yang kemudian kehilangan kehormatannya, anak perempuan itu harus dibakar sampai mati (Im 21:9), karena dianggap melanggar kekudusan ayahnya.
Demikianlah, keperawanan akhirnya menjadi lambang kekudusan hidup seseorang untuk bergaul mesra dengan Allah seutuhnya, tidak terbagi. Dalam tradisi perjanjian baru, status keperawanan ini, semakin ditegaskan dan diteladankan oleh Yesus Kristus sendiri. Di dalam injil, agar pantas menjadi pengikut/ murid Tuhan Yesus musti harus meninggalkan segala sesuatu supaya orang dapat mempersembahkan seluruh hidupnya menjadi persembahan yang hidup kepada Allah. Lukas, menyebutnya dengan “jikalau seseorang datang kepadaKU dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu” (Luk 14: 26). Sebab, orang mesti mengikuti Tuhan dengan sepenuh hati, total dan seutuhnya kepada Allah. Yohanes menyebut istilah yang menarik, “Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.” (Yoh 15: 19). Melalui baptis, kita telah dipilih Tuhan Yesus menjadi milikNya, menjadi anak-anak Allah. Paulus pun menegaskan, lebih baik orang hidup seperti keadaan waktu dipanggil Allah: memusatkan perhatian kepada perkara Tuhan supaya tubuh dan jiwa mereka kudus (1Kor 7: 17-40, ex 34).
[1] Disampaikan menjadi bahan sarasehan Hut Stasi St. Paulus Pringgolayan ke-21 tanggal 25 Januari 2007.

Sabtu, 07 Maret 2009

SI BLACK: Menghitung UANG APP

Si BLACK (SB), pada hari Jumat kemarin kelihatan gembira sekali. Tidak biasanya ia akrab dengan semua orang yang dijumpainya. Bahkan orang yang belum dikenalnya pun, ia sapa dan ajak bicara dengan rasa persaudaraan. Sore hari menjelang makan, Jeng Maria (JM) sudah menanti kehadirannya untuk makan bersama.
JM : O..alah..BLACK! BLACK! Aku menantimu dengan kuatir. Aku kira kamu ga jadi datang! Padahal khan pas pertemuan kemarin sudah disepakati untuk tidak terlambat to?
SB : Maap..maap, Jeng! Wah, aku tadi disuruh mbokku beli brambang dulu di warung. Hehe..!!
JM : Ah...Alasan wae kamu itu, BLACK! Kalo jam 19.00 disepakati latian kor ki yo le berangkat harus diperhitungkan waktunya, gitu dari rumahmu supaya tidak terlambat, BLACK! Mosok jadi cah enom koq wez membiasakan terlambat! Katanya, mo jadi agen perubahan...???
SB : Wah, sekali lagi maap, Jeng! Besok-besok lagi aku akan datang gasik!
JM : Nah, gitu BLACK!! Tunjukkan semangat mudamu!
SB : Iya, Jeng. Makasih masukkannya. Oh, iya apalagi khan ini masa Prapaskah, masa untuk membuat perubahan hidup, nata urip, gitu. Nah, di masa prapaskah ini...aku berpuasa loh, Jeng!
JM : Berpuasa, gimana maksud loe??
SB : Gini, Jeng! Aku ki sedang membuat perubahan di rumah. Bapak-mbokku tak ajak berpuasa selama 7 hari jumat plus rabu abu kemarin dengan hanya satu kali makan.
JM : Oya? Mengapa koq berat-berat gitu puasanya..khan cukup makan kenyang, sekali, sehari to? Laennya boleh makan asal tidak kenyang to?
SB : Iya, Jeng! Coba bayangkan aja. Khan kalo dietung-etung, setiap hari itu di rumahku biaya makan per gundul sekali makan itu Rp 3.000,-. Berarti sehari biaya keseluruhan makan satu keluargaku: 3.000x3orangx3kali= Rp 27.000,-.
JM : Wah, ya lebih BLACK, mosok cuma 3.000 sekali makan. Lha kalau di rumahku mungkin lebih, bisa 7.500 sekali makan tuch! per gundul.
SB : Nah, selama prapaskah bisa dietung, uang yang bisa diirit?? Kalo makannya sekali doank, berarti ngirit Rp 18.000 per hari to? Berari selama prapaskah bisa ngirit 18.000x8= Rp 144.000. Nah uang sebesar itu lah jumlah uang APP (AKSI PUASA PEMBANGUNAN) yang akan kami sumbangkan kepada Gereja.
JM : Oya, BLACK...banyak sekali!!!!! Apa ga eman-eman tuch uang segitu??
SB : Khan masa prapaskah Jeng...kami hendak mengembangkan solidaritas koq dengan mereka yang lebih kurang beruntung dibanding keluargaku. Coba bayangkan! Kalau satu lingkungan itu dirata-rata ada 20 KK. Bisa dietung: 20x144.000= 2.880.000 per lingkungan. Kalo satu paroki ada 41 lingkungan, bisa dietung: 41x2.880.000, berapa coba?
JM : Rp.118.080.000....PUJI TUHAN...LUARRRR BIASA!..ini BERKAT prapaskah beneran, BLACK...Tuhan sungguh maha pengasih!
SB : Kira-kira, paroki kita ini...bisa ga ya??? APP nya besok terkumpul segitu???
JM : Wah, ya ga tau BLACK. APP tahun kemarin aja terkumpul...Rp 16.493.800.
SB : Hah!!! Banyak sekali, Jeng! Berarti per KK berapa tuh??
JM : ya dietung aja: 16.493.800 :41= Rp 402.287,8/lingkungan. Njur? 402.287,8 : 20=Rp 20.114,4/KK selama prapaskah. Trus 20.114,4 : 8= Rp 2.514,3/KK sekali puasa-pantang. Nah kalo etungannya per gundul: Rp 2.514,3: 3= Rp 838 per satu kali puasa.
SB : Hmm...per gundul Rp 838, kira-kira puasa apa ya???

Kamis, 05 Maret 2009

Kunjungan Keluarga Dewan Paroki (KKDP)

Suatu langkah baru telah dimulai di quartal kedua tahun 2009 ini yaitu kunjungan keluarga. Tim kunjungan keluarga tersebut dibagi dalam tim-tim yang terdiri dari Romo, wakil dewan Paroki, wakil ibu paroki dan orang muda katolik. Setiap kunjungan dilakukan, tim ini mengunjungi antara 8-10 kepala keluarga. Kunjungan ini bertujuan bukan untuk mencari keluarga-keluarga yang bermasalah atau tidak aktif di lingkungan, melainkan merupakan kunjungan pastoral Dewan Paroki kepada umat yang diwakilinya. Tujuan utamanya selain untuk mengenal keluarga secara lebih personal juga mengajak keluarga untuk berdoa bersama gembalanya, serta memohon berkat Allah untuk keluarga tersebut.
Tanggapan umat sungguh luar biasa. Ada banyak pengalaman menarik yang terjadi pada saat kunjungan tersebut baik yang dialami oleh tim KKDP maupun juga oleh keluarga yang dikunjungi. Umat merasa gembira dan bersyukur serta diteguhkan dalam usaha keterlibatan hidup menggereja. Sedangkan tim KKDP sendiri merasa diperkaya iman, pengharapan dan kasih serta pelayanan yang semakin sempurna kepada Gereja.
Semoga KKDP ini semakin menjadi sarana melimpahnya berkat Allah kepada seluruh umat serta meneguhkan umat di dalam usaha-usaha mengembangkan Kerajaan Allah dalam Gereja maupun di tengah-tengah masyarakat. amin

Senin, 02 Maret 2009

Si BLACK: Pengin Terlibat Membangun Gereja

Si BLACK (SB) adalah sebuah ikon baru dalam LaskarGusti. Wajahnya yang hitam namun kerap memberi pepadhang bagi orang yang bertemu dengannya. Tapi, lagaknya yang suka usil membuat orang yang bertemu dibikin gemes pengin njitak ato sebaliknya pengin meluk. Hari itu, ia sedang bengong, ga seperti biasanya. Jeng MARIA (JM) yang hendak pergi ke pasar menegurnya.
JM: BLACK, kowe ki ngapa, ada apa cih koq bengong gitu?
SB: Eh, jeng MARIA, badhe tindak pundi punika?... Wah, gimana ya Jeng, aku denger-denger, Gereja kita mau beli tanah lagi ya? Apa emang mampu to kita-kita ini membeli tanah setinggi itu harganya? Berapa Jeng kemarin romo bilang itu?
JM: Wah, aku juga lupa, pas romo ngendika kemarin aku lagi nerima sms (hehe...sori lho rom!, batin jeng MARIA). Kalo ga salah denger sih, 735 juta-an gitu. Tapi denger-denger lagi, ga jadi koq. ternyata dah dibeli pihak lain gitu.
SB: weitz...yang bener, Jeng!!!! Lha koq bisa to? wah, sayang ya Jeng nek gitu. Khan S’tulnya harganya cuma segitu.
JM: Lho koq kamu bilang “cuma segitu”, uang segitu itu dari mana to BLACK. Emang gereja punya uang po? Lha wong KAS-nya wae cuma 200 juta, itu aja sebagian stt.....stt...tp jangan bilang-bilang loh BLACK, itu uang pinjaman!!!
SB: oya?? Kita ini MINJAM??? Oalahhh....Aku ki sedang ber-ANDAI-ANDAI, Jeng. Coba dech nek dipikir. Umat kita ini khan banyak, kurang lebih 800 Ka-Ka. Coba misalnya, per Ka-Ka itu gelem nyumbang ato modali SATU JUTA..lha yo wez turah-turah to? Ner ga????
JM: Wah, tul sekali kowe BLACK, koq ga biasanya pikiranmu cerdas gitu?? Lha tapi, khan ga semua umat ki mampu, BLACK. Nek dipukul rata gitu..kasian donk umat yang ga mampu??
SB: Sapa dulu gitu loh....Si BLACK!!! Santai-santai....!!Gereja khan mengajarkan semangat cinta kasih...dan lebih lagi..itu ukiran gambar yang indah di deket locker itu?? Tau Ga? Jangan-jangan Jeng Maria malah ga tau: lima roti dua ikan. Ingat kisahnya?
JM: Maksudmu...BERBAGI???
SB: Yupz...ner banget! Nah, khan banyak cara menuju roma..bisa dicicil 10x misalnya, jadi setiap bulan 100rb, atau.....
JM: atau ....apa BLACK??
SB: atau...yang diberi pendapatan lebih oleh GUSTI,...omahe sing bagus-bagus kae...yo sekarang saatnya mulai MBAGUSKE omahe GUSTI YESUS...nyumbang sing luwih akeh..gitu. jadi, sekaligus mbantu sing ora mampu tur yo kalo semakin banyak investasine, modal mbangun omahe GUSTI sansaya akeh. Mmm....Siiipp!!! atau.....
JM: atau apa lagi BLACK...koq banyak banget andai-andai-mu??
SB: atau ni khan mo prapaskah...gimana nek selama prapaskah...ada gerakan “SUKA JAJAN” diubah menjadi “JE-I” tapi bukan Jamaah Islamiah loh... “JERAKAN INVESTASI!”
JM: Maksudmu ki apa to?
SB: Maksudku...anak-anake dhewe, baik sing sih cilik ato yang dah gedhe...diajak nyumbang investasi mbangun greja, caranya selama prapaskah uang jajane diklumpukke njur disumbangke buat investasi...ngguantheng to!!! Cuanttikkk to, Jeng!!
JM: wah...wah...ide bagus kuwi BLACK...mudah-mudahan umate dhewe iki kabeh padha grengseng semangat yo..untuk emmbaguske omahe GUSTI..mosok sing dipikir terus mung omahe dhewe thok!
SB: yups...SEANDAINYA....

Si BLACK: Menjadi OMK Militan


Suatu hari Si BLACK (SB) sedang bersiap-siap untuk berangkat misa lingkungan. Emang ga biasanya ia bersemangat sekali untuk hadir di lingkungan. Ibunya, Jeng Maria (JM) yang tau gelagat itu bertanya kepadanya:
JM : Weitz..BLACK, koq ga biasanya uda rapi gitu...emang mau ikut misa pa?
SB : Ya mesti wae lah, Bu..ini khan masa prapaskah..masa untuk memperbaiki diri biar mendapat rahmat.
JM : ah, tenane BLACK! Koq omonganmu juga suci-suci gitu...biasanya mung nesu-nesu, ngumpat dan mengeluh soal hidup.
SB : hidup baru, bu!!!..hidup baru gitu...emang ga boleh po, sekarang si BLACK ini berubah menjadi baik??
JM : Wah...bagus sekali itu. Ibu sangat mendukung. Tapi jangan lupa, jangan sampai cuma obong-obong blarak alias sebentar le semangat gitu...ntar jangan-jangan prapaskah selesai...jadi kayak kemarin lagi.
SB : weitz...jangan salah bu...si BLACK pengin jadi orang muda katolik yang handal dan tangguh, pengin menjadi kader Katolik yang mumpuni dan militan!!!
JM : wah, elok kuwi BLACK nek gitu. Tapi gimana caranya kamu bisa jadi kader yang handal?
SB : ga usah mikir jauh-jauh dan besar-besar bu..Si BLACK mulai dengan TERLIBAT di lingkungan koq. Nek ada misa ikut...nek ada sembahyangan ikut, sarasehan juga ikut...kor juga ikut...gitu aja...ntar khan lama-lama juga tau koq harus gimana-gimana gitu biar jadi kader yang handal.
JM : mmm....benar juga kamu, BLACK..emang begitu harusnya sebagai orang muda...jangan hanya jadi penonton, jangan mung gembar-gembor...nyatane endi jal??? Kalau pengin supaya Gereja menjadi yang seperti kamu inginkan, ya kamu harus terlibat gitu lalu menyampaikan ide-ide kamu agar Gereja menjadi Gereja Muda tidak hanya Gereja tua-tua kayak bapak-ibumu ini..ner ga?
SB : Yupz...buueeetuull sekali, bu!
JM : Ya udah..yuk berangkat...ni sudah gerimis lagi...bawa mantol ya. Ibu tak mbonceng kamu aja..ga malu khan mboncengkan ibu yang udah renta ini??
SB : Siip, bu....ya emang aku pengin bareng ibu juga bapak biar satu keluarga nek berangkat misa itu bareng-bareng. Duduknya juga bareng-bareng ga pating klencir sendiri-sendiri.