Minggu, 28 Juni 2009

Si BLACK: Beda Gereja dan Pasar

Si BLACK baru saja pulang dari misa di lingkungan. Ia merasa tidak membawa pulang apa-apa selain perut yang kenyang oleh banyaknya makan yg disediakan oleh tuan rumah. Jeng Maria yang kebetulan mbonceng dia, merasa ada yang lain dari Si BLACK.
JM :Ada apa, BLACK, koq habis misa malah ga semangat gitu...kelihatan loyo!

SB :Wah, kenyang banget, Jeng tadi kesempatan buat makan-makan gratis..hehehe....
JM :Koq gitu..yang penting itu misanya bukan makannya, BLACK!!!
SB :Lha gimana, Jeng, misanya khan juga tetep aku ikuti..tapi ngga donk sekedar ikut aja gitu..hehe. klo makan khan jelas bikin perut kenyang oiii...
JM :Gitu, to, BLACK ternyata. Wah, lha nek gitu mending ga usah ada makan memakan dunk. Biar umat ki benar-benar tahu persis apa motivasi mereka untuk mengikuti misa: apakah misanya atau makannya.
SB :wah, ya jangan gitu, Jeng....khan ikut Yesus, makan-makan. Klo ga ada makan-makannya, ga afdol gitu loh.
JM :iya-iya, aku tau koq..tapi khan jangan sampai yang menjadi semangat kumpul, saling memberdayakan umat lingkungan itu gara-gara ada makannya, tetapi harusnya misanya, BLACK!
SB :aku juga tahu koq, Jeng! Hehe, tapi ya jujur aja...nek ga ada makannya ki...rasane berat banget je...ga ada yang diharapkan gitu. Khan lumayan ngurangi jatah makan malam...hehe...Njur gimana, baiknya, Jeng?
JM :ya, makan sih boleh-boleh aja...tetapi jangan sampai sebuah relasi, hubungan persaudaraan/ persahabatan, atau keguyuban hidup menggereja HANYA didasari oleh makanan. Klo ga ada makanan ga ada geliat kehidupan.
SB :iya Jeng. Aku juga menyadari adanya keprihatinan itu. Kadangkala kita berbaik-baik dengan orang lain karena orang itu memberi “makan” kepada kita. Bagaimana ini?? Klo begitu apa bedanya Gereja dan Pasar?

Si BLACK: Ohhh...Misa Lingkungan!!!

Suatu hari, Jeng Maria (JM) sedang melihat-lihat jadwal misa lingkungan di papan pengumuman. Dia berharap-harap cemas, karena sudah cukup lama dilingkungannya tidak ada misa lingkungan lagi. Entah mengapa? si BLACK (SB) yang sok perhatian, ikut-ikutan nimbrung.
SB : Weitz...Jeng, koq njanur gunung masih di sini, melihat papan pengumuman lagi. Ada apakah? Biasanya usai misa langsung ngacir?

JM : Iya, BLACK...sekali-kali khan ga papa to! Hehe....ni aku lagi pengin liat jadwal misa lingkungan. Khan uda dua bulanan lebih to ga ada misa di lingkungan kita...kangen je ketemu romo-romo yang ngguantheng-ngguantheng itu.
SB : Weitz...apa maksud kata-katamu, Jeng! Hayo, jangan-jangan.....?!
JM : Jangan berpikiran negatif dulu, BLACK. Khan nek ada misa lingkungan, menjadi kesempatan emas untuk lebih dekat dengan romo-nya. Bisa curhat lebih intens gitu tidak cuma salaman doank kayak habis misa gini.
SB : Maksudnya, Jeng?
JM : Yach..mosok kamu ga donk to BLACK, khan uda cukup lama diadakan misa lingkungan to??!
SB : Iya, jeng aku tau, tapi maksud misa lingkungan ki apa, aku ga donk je. Yang kutau malah susah...harus mencari warga lingkungan yang mau ditempati misa, belum lagi masalah suguhane...banyak umat yang sampai sekarang masih “gimanaaaaa” gitu.
JM : Halah...BLACK, itu khan cuma alasanmu wae. Begini BLACK, misa lingkungan itu dimaksudkan untuk memberdayakan lingkungan, supaya semakin banyak umat yang terlibat aktif dalam hidup menggereja (di lingkungan, wilayah dan paroki) sekaligus juga menjadi kesempatan bagi romo-romo kita yg ehm....itu untuk kunjungan, sekaligus juga sesama umat lingkungan saling berkunjung gitu.
SB : Ooo...begitu ya, Jeng maksudnya. Jadi semua umat lingkungan berhak donk untuk ketempatan misa nek gitu.
JM : ner banget, BLACK. Itu yang diharapkan, jadi semua umat bisa tersapa. Jangan sampai hal-hal duniawi (soal rumah yang kecil, soal nyuguh apa) menjadi alasan untuk tidak menerima misa dirumah, gitu.
SB : Gitu, ya Jeng. Lha njur gimana, khan ga enak nek ga nyuguh romo.
JM : Santai-santai, BLACK. Percaya dech ama Tuhan Yesus. Yang lebih utama adalah misanya, bukan makannya, key? Banyak cara bisa dilakukan, klo berkait dengan makan sesudah misa.
SB : Gimana caranya, Jeng??
JM : Bisa saja, ambil kas lingkungan gitu atau gaya pesta kebun, membawa “sangu” dari rumah masing-masing njur dimaem bareng; gitu BLACK. Ahh...ngono wae mosok ga bisa?? Sehingga lebih nampak “guyub”nya.
SB : Iya-ya Jeng...mudah-mudahan, semakin guyub umat kita dalam menanggapi misa lingkungan.
JM : Amiiiiinnn...

Si BLACK: Ohhh...Misa Lingkungan!!!

Suatu hari, Jeng Maria (JM) sedang melihat-lihat jadwal misa lingkungan di papan pengumuman. Dia berharap-harap cemas, karena sudah cukup lama dilingkungannya tidak ada misa lingkungan lagi. Entah mengapa? si BLACK (SB) yang sok perhatian, ikut-ikutan nimbrung.
SB : Weitz...Jeng, koq njanur gunung masih di sini, melihat papan pengumuman lagi. Ada apakah? Biasanya usai misa langsung ngacir?

JM : Iya, BLACK...sekali-kali khan ga papa to! Hehe....ni aku lagi pengin liat jadwal misa lingkungan. Khan uda dua bulanan lebih to ga ada misa di lingkungan kita...kangen je ketemu romo-romo yang ngguantheng-ngguantheng itu.
SB : Weitz...apa maksud kata-katamu, Jeng! Hayo, jangan-jangan.....?!
JM : Jangan berpikiran negatif dulu, BLACK. Khan nek ada misa lingkungan, menjadi kesempatan emas untuk lebih dekat dengan romo-nya. Bisa curhat lebih intens gitu tidak cuma salaman doank kayak habis misa gini.
SB : Maksudnya, Jeng?
JM : Yach..mosok kamu ga donk to BLACK, khan uda cukup lama diadakan misa lingkungan to??!
SB : Iya, jeng aku tau, tapi maksud misa lingkungan ki apa, aku ga donk je. Yang kutau malah susah...harus mencari warga lingkungan yang mau ditempati misa, belum lagi masalah suguhane...banyak umat yang sampai sekarang masih “gimanaaaaa” gitu.
JM : Halah...BLACK, itu khan cuma alasanmu wae. Begini BLACK, misa lingkungan itu dimaksudkan untuk memberdayakan lingkungan, supaya semakin banyak umat yang terlibat aktif dalam hidup menggereja (di lingkungan, wilayah dan paroki) sekaligus juga menjadi kesempatan bagi romo-romo kita yg ehm....itu untuk kunjungan, sekaligus juga sesama umat lingkungan saling berkunjung gitu.
SB : Ooo...begitu ya, Jeng maksudnya. Jadi semua umat lingkungan berhak donk untuk ketempatan misa nek gitu.
JM : ner banget, BLACK. Itu yang diharapkan, jadi semua umat bisa tersapa. Jangan sampai hal-hal duniawi (soal rumah yang kecil, soal nyuguh apa) menjadi alasan untuk tidak menerima misa dirumah, gitu.
SB : Gitu, ya Jeng. Lha njur gimana, khan ga enak nek ga nyuguh romo.
JM : Santai-santai, BLACK. Percaya dech ama Tuhan Yesus. Yang lebih utama adalah misanya, bukan makannya, key? Banyak cara bisa dilakukan, klo berkait dengan makan sesudah misa.
SB : Gimana caranya, Jeng??
JM : Bisa saja, ambil kas lingkungan gitu atau gaya pesta kebun, membawa “sangu” dari rumah masing-masing njur dimaem bareng; gitu BLACK. Ahh...ngono wae mosok ga bisa?? Sehingga lebih nampak “guyub”nya.
SB : Iya-ya Jeng...mudah-mudahan, semakin guyub umat kita dalam menanggapi misa lingkungan.
JM : Amiiiiinnn...

baru tiga tahun

lakukanlah ini untuk mengenangkan daku....

masih aku ingat jelas waktu itu, sesaat setelah bumi jokja horeg, diguncang gempa, sesudah misa harian di kapel pius, aku menuliskan niat dan kehendakku untuk semakin mantap meniti jalan panggilan yang telah engkau tawarkan. saat itulah aku menuliskan surat lamaranku untuk ditahbiskan menjadi imam keuskupan agung semarang. setelah selesai mengguratkan pena di garis-garis lembaran kertas itu, aku pun mendengar teriakan minta tolong dan ternyata banyak korban berjatuhan akibat gonjangan gempa jokja, 27 Mei 2006. ada apa ini? spontan tanyaku dalam hati. lamaran untuk tahbisanku dibubuhi oleh sebuah peristiwa besar, yang membuat umatmu berteriak minta pertolonganmu untuk diselamatkan (mzm 72:12). itulah kenangan yang terus menerus bergema di dalam hatiku untuk terus menemukan jawab dalam menghidupi rahmat pentahbisanmu. kenangan yang senantiasa aku perbaharui setiap kali aku mengangkat piala keselamatanmu dalam warisan perjamuan kudusmu. kenangan akan engkau sendiri yang telah menyelamatkan seluruh ciptaanmu dan aku. semua itu menjadi isi dan buah kasih pentahbisanmu untuk aku nyatakan dalam pelayananku.

tiga tahun imamat........

tiga tahun, 29 juni 2006 aku menerima rahmatmu yang begitu agung dan luar biasa. rahmatmu yang aku sambut dalam kepasrahan akan rahmat dan berkatmu yang mencukupkan aku (2kor 12:9). baru tiga tahun engkau merenda jalan hidupku. rasanya baru kemarin aku menerima rahmatmu ini, dan aku belum melakukan banyak hal untukmu. tiga tahun....usia itu mengingatkanku akan masa tugas pelayananmu di dunia ini untuk menyatakan dan mewartakan kerajaan allah. tiga tahun, waktu yang cukup bagimu untuk memulai dan menyelesaikan semua yang dipercayakan bapa kepadamu. tiga tahun ternyata bukan waktu yang lama, namun dalam waktu itu, engkau telah mampu menyatakan kehendak allah dan menanamkan benih iman kepada umatmu di dunia ini. luaarr..biasa!! apakah itu semua oleh sebab engkau adalah allah? ataukah karena ketaatanmu kepadanya dan persembahan hidupmu yang sungguh total kepadanya? bapa telah mempercayakan tugas agung kepadamu dan telah engkau selesaikan dengan sempurna. rahmat pentahbisanmu melalui roh kudus yang menyucikan aku, merupakan rahmat panggilanmu yang memasukkan aku untuk terlibat dalam karyamu itu, yang terus menerus diwariskan mulai dari para rasul dan para penggantinya. aku percaya, karyamu itu, memanggilku untuk terus menerus menyambut ajakanmu menuntun dan membawa umatmu ke padang rumput yang hijau dan berair tenang (mzm 23:2).

angka tiga, bukanlah angka biasa dalam hidupmu. angka tiga melambangkan kegembiraan sekaligus penyerahan hidup. kegembiraan karena engkau percaya dapat mendirikan bait allah kembali dalam waktu tiga hari. angka tiga juga menjadi cara allah untuk menyatakan dan membangkitkan engkau dari kematian agar semua orang tahu dan percaya bahwa apa yang telah engkau lakukan sungguh berkenan kepada allah. angka tiga adalah angka dimana saat penyelamatan (mat 12:40; 16:21; 17:23; 20:19; luk 24:46). angka tiga merupakan saat engkau menunjukkan belaskasihanmu kepada umat kesayanganmu (mat 15:32). namun demikian, angka tiga juga menunjukkan saat engkau dikianati oleh murid yang engkau kasihi (mat 26:34.75), juga merupakan saat-saat engkau menyerahkan seluruh diri dan nyawa, saat kematianmu (mat 27:46), dimana sesaat kemudian tercurah darah serta air dari lambungmu yang mengungkapkan betapa hatimu yang mahakudus mencurahkan aneka berkat untuk bumi, untuk seluruh ciptaanmu.

hari ini: hari penyelamatanmu......

aku hendak selalu berkata, “hari ini, hari penyelamatanmu...”. hari ini, aku pun mau membawa rahmat keselamatan itu di dalam pelayananku...hari ini, aku mau umat yang engkau percayakan kepadaku merasakan penyelamatanmu... hari ini, bukan kemarin atau esok, cukuplah hari ini.....dan hari ini, saat-saat situasi politik bangsaku mulai hangat memanas untuk memilih pemimpin bangsa dengan segala kehendak baik mereka untuk membawa umatmu indonesia ini mengalami keselamatanmu, juga saat dimana orang muda engkau perhatikan melalui gerejamu di keuskupan ini agar mereka pun makin teguh dan kukuh di dunia yang rapuh ini, aku hadir mengenangkan semua itu, aku membangkitkan semua itu dalam pikiran, hati, rasa, kehendak dan tindakanku. aku membawamu... membawamu untuk mengurai kembali rahmat pentahbisanmu yang telah engkau renda melalui kisah hidupku sembari mengucap syukur dan memohon agar rahmatmu ini tetap suci dan menjadi sumber berkat bagi umatmu. aku bersyukur karena engkau telah berkenan memanggilku untuk mencicipi kebahagiaan dalam pelayananku (2kor 9:12), dan persaudaraan kasih bersama umat pilihanmu (ef 4:16; 1ptr 1:22). aku bersyukur atas peristiwa dan pengalaman imamat yang engkau hadirkan menjadi bagian dalam hidupku, memperkaya iman, meneguhkan harapan dan memekarkan kasihmu dalam diriku. aku mau, rahmat pentahbisanmu tiga tahun ini sungguh menjadi rahmat penyelamatanmu, tidak hanya bagiku tetapi terutama bagi umatmu; sungguh menjadi rahmat yang semakin memancarkan sukacita bagi umatmu. bimbinglah aku agar aku semakin mengalami kepenuhan roh(ani); semakin penuh kasih dan semakin bijaksana agar mampu membawa umat kepadamu seutuhnya, jiwa raganya, jasmani rohaninya di dalam sukacita surgawi meski kami masih di dunia ini (yoh 17:11-13).

kartasura, 29 juni 2009
3 th imamat

Senin, 01 Juni 2009

Si BLACK: BERSAHABAT

Hari itu, Si BLACK (SB) sedang termenung sendiri memperhatikan perjalanan hidupnya yang penuh dinamika. Jeng Maria (JM) yang begitu perhatian pada Si BLACK mencoba mencari tahu apa sebabnya.
JM : BLACK, ngopo je kamu itu koq pulang-pulang wajahmu ga ngenakin gitu?

SB : ah, mbuh lah jeng, ga tau neh. Dunia seakan sedang saling bermanuver untuk mendapatkan posisi terbaik untuk kepentingannya. Kayak capres-capres itu.
JM : maksudmu, BLACK. Kamu itu kenapa ta?
SB : gini loh, jeng! Aku ki sedang terkesan dengan sabda Yesus hari ini, aku tidak disebut-Nya hamba, melainkan sahabat. Apa seh maksudnya?
JM : ya maksudnya, kita dijadikan sahabat oleh Tuhan Yesus. Kita tidak menjadi orang suruhan melainkan teman bagi Yesus yang duduk bersama saling curhat dan berbagi kasih serta pengalaman hidup. Gitu, BLACK.
SB : ooo...indahnya, Jeng klo emang gitu. Tapi bagiku persahabatan merupakan suatu luka dalam hidupku, Jeng. Persahabatan yang pernah aku jalani diwarnai oleh pengkhianatan tuch...gimana coba??
JM : oh...maaf, BLACK! Aku tidak tahu klo masa lalumu tidak seindah “persahabatan” yang diharapkan Tuhan Yesus. Emang sih, latar belakang hidup seseorang juga berpengaruh dalam usaha mengenal arti persahabatan tersebut.
SB : betul, Jeng! Tapi ya aku sadar koq, Jeng. Masa lalu menjadi lebih berarti kalo aku tidak melihatnya sebagai sebuah beban yang harus kupikul, melainkan jalan yang membuatku semakin kaya.
JM : lha emangnya, klo boleh tau, persahabatanmu gimana sih, BLACK?
SB : udahlah, Jeng. Aku ga mau mengingat-ingat lagi soal itu.
JM : ya jangan gitu, BLACK. Coba bayangkan, Yesus pun mau bersahabat dengan kita, meskipun kita tahu, Yesus juga pernah dikhianati oleh Yudas Iskariot yang menjual-Nya pada orang Yahudi. Yesuspun juga pernah tidak dianggap oleh salah seorang murid-Nya, petrus bahkan disangkal.
SB : Iya, Jeng. Aku juga tau itu. Persahabatan...yach apa sih arti persahabatan.....”Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang kuperintahkan kepadamu.”
JM : udahlah, BLACK. Yesus memilih bersahabat dengan kita. Itu artinya, bagi Yesus, persahabatan adalah sesuatu yang luhur dan suci bahkan istimewa karena Yesus melakukan itu dan tidak pernah menyesali persahabatan yang Dia bangun dengan murid-murid-Nya bahkan juga kita.
SB : So......??
JM : Ya marilah, BLACK. Kita membangun sebuah persahabatan yang tulus, yang penuh kasih, yang juga menghadirkan Yesus sendiri dalam persahabatan kita...bukan untuk egoisme kita sendiri dan kesenangan kita pribadi. Gitu, BLACK?
SB : iya, Jeng...semoga.....

Si BLACK: Rp 100 kali......

Suatu hari, Si BLACK (SB) lagi bingung mikirin anaknya yang menginjak usia sekolah. Di mana-mana sekolah katolik begitu mahal. Padahal ia pengin anaknya sekolah di yayasan katolik, tapi apa daya duit tak punya. Jeng Maria (JM) yang sadar gelagat tetangganya itu, menghampirinya.
JM : Ada apa to, BLACK! Koq wajahmu ga enak gitu. Mikir apa je?

SB : Eh, jeng Maria. Ga ada apa-apa koq, jeng. Cuma mikir nasib anakku ini mau aku sekolahkan dimana ya. Lha semua yayasan katolik mahal-mahal je. Padahal sekolah negeri malah gratis.
JM : ya uda, sekolahkan aja di negeri to, BLACK. Semua sekolah khan sama gitu.
SB : Wah, ga, jeng! Penginku anakku harus sekolah di sekolah katolik gitu biar imannya semakin tumbuh dan berkembang. Ini khan panggilan kita sebagai orangtua untuk mendidik anak-anak kita secara katolik.
JM : Oh, iya ya, BLACK. Aku malah dah lupa akan janji nikah itu.
SB : Nah itulah, Jeng masalahnya. Di satu pihak adalah panggilan orangtua. Dilain pihak, duit tidak memungkinkan, gimana dunk.
JM : emang sih, sekarang meluncur sosialisasi sekolah gratis. Wah jan disatu pihak menggembirakan, dilain pihak juga meragukan. Apa yang gratis-gratis gitu mutunya terjamin??? Tapi juga sebaliknya, yang mahal-mahal juga baik mutunya??
SB : betul banget jeng. Kayaknya sekolah sekarang itu sudah menjadi bisnis mencari untuk bukannya opsi pada kaum lemah miskin dan bodo. Yang berduit, yang bisa sekolah.
JM : tapi ya nek dipikir-pikir, ga ada tuch sekolah gratis. Cuma orangtua ga bayar aja, yang mbayar sekolah oranglain gitu atau pemerintah. Ner ga?
SB : Yups, emang betul.
JM : inilah, saatnya yayasan katolik juga bisa melakukan demikian kalau umat katolik (Gereja) saling bahu membahu memberi perhatian pada pendidikan katolik.
SB : Umpamanya, Jeng!
JM : Ya mudah aja, ngumpulin dana buat pendidikan katolik gitu. Misalnya saja, tiap umat menyisihkan Rp 100,- khan dah lumayan dimasukkan ke kotak pendidikan yang dipasang di depan Gereja.
SB : Iya jeng, aku juga setuju tuh. Apalagi nek keluarga-keluarga yang berke”cukup”an mau untuk sekali saja menyisihkan uang makan malam mereka buat pendidikan. Betapa indahnya!!!
JM : Siiip, BLACK. Yang penting bukan JUMLAHnya berapa yang disumbangkan, tetapi BANYAKnya koq, BLACK!
SB : Iya, Jeng...mudah-mudahan perhatian kepada pendidikan katolik semakin berkembang ya jeng. Gbu.
JM : Amiiiiin...BLACK.

Si BLACK BERBELA RASA

Hari itu Si BLACK (SB) dan Jeng MARIA (JM) masih terlibat dalam pembicaraan serius tentang peristiwa yang terjadi beberapa hari (10 April-red) yang lalu: seorang aktivis masyarakat dibunuh secara mengenaskan. Aneh bagi Si Black dan Jeng Maria, karena masyarakat terlihat adem ayem wae mengenai kasus ini padahal tahu betul bahwa pembunuhan ini sangat tidak manusiawi, aneh dan mengerikan.
SB : Jeng, setelah peristiwa itu koq masyarakat diam aja ya. Ga ada yang komentar atau apa lah soal kasus pembunuhan itu.

JM : Wah, aku juga ga tau. BLACK. Aku sendiri juga bingung meh ngapa? sing penting hidup baik seperti biasane wae gitu.
SB : maksudku ki, koq ga ada GREGET bahwa kasus itu lalu memunculkan gejolak perasaan dan hati untuk berbuat sesuatu gitu. Nek hanya biasa-biasa wae. Lha njur kenapa ada kasus pembunuhan yang menggemparkan itu?
JM : khan kita hanya mendengar saja dan melihat di televisi kasus itu, tidak menghadapinya sendiri atau mengalaminya gitu.
SB : oke lah memang begitu, tapi khan kita bisa menimba inspirasi dari kasus itu untuk membuat hidup kita LEBIH baik lagi gitu.
JM : maksudmu, BLACK??
SB : ya maksudku, njur makin banyak orang yang mau terlibat mengembangkan kehidupan, menjadi saksi, makin bersatu saling menguatkan dan meneguhkan. Le sembahyang juga makin sregep alias rajin, makin mendekatkan diri dengan Tuhannya gitu.
JM : lha sudah koq, BLACK. Apa lagi?
SB : ya maksudku ki dibuat LEBIH LAGI supaya, peristiwa itu tidak hanya menjadi peristiwa thok melainkan sungguh menjadi tangga yang membuat kita mampu melangkah naik satu tingkat, dua tingkat, tiga tingkat, dan seterusnya.
JM : wah ga mudeng aku, BLACK. Omonganmu dhuwur banget.
SB : gini lho, jeng. Contohnya: yang MAU untuk terlibat tambah mbanyak, yang sregep tindak nggreja tambah akeh, yang sregep mengikuti kegiatan sarasehan, misa, doa lingkungan juga semakin banyak, kolektene ya tambah akeh gitu.hehe...!! Sing isih kulina nesu, emosi, egois pokoke gawe dosa ya semangkin sithik (sedikit) bahkan malah tidak ada. Urip berkeluarga ya semakin rukun dan damai, menciptakan suasana lega....PLONG!!!!...gitu.
JM : Ohhh...mudeng aku, maksudmu ki peristiwa pembunuhan Yesus itu ta?? Perayaan pekan suci kemarin itu???
SB : Yupz...ner banget, jeng! Itulah kematian sebagai jalan kehidupan. Itulah kebangkitan ketika kita bisa menumbuhkan kelegaan. Semakin banyak orang yang merasa lega.
JM : Iya, BLACK...lega karena umat yang datang misa sangat banyak tidak hanya pas hari raya paskah atau natal. Nek perlu tiap minggu sewa tratag/deklit gitu. Rasa lega karena umat yang ikut misa lingkungan dan sembahyangan juga penuh...tidak hanya pas ada makan-makannya saja. Lega karena umat yang berpartisipasi dalam kegiatan Gereja dan masyarakat sangat banyak. Kolektenya ya makin tambah gedhe sehingga menjadi lega nek mau beli tanah atau berkegiatan wez ana duite...!!!
SB : begitulah, Jeng!!! Tidak malah sebaliknya...nek berkegiatan masih mikir...ada umat yang ikut atau tidak ya?? ada yang mau menangani ora yo??? Duwite minta siapa ya???? Nek mau rapat, masih berkeluh..yang datang banyak atau sedikit ya??? nek hendak misa, umate sing rawuh berapa ya? Yach...Semoga semakin banyak kelegaan yang tumbuh di antara kita.
JM : amin...BLACK!

si BLACK: KEDATANGAN TAMU

Pagi itu, si BLACK (SB) sedang ngelus-elus motor kesayangannya. Mikir punya pikir, ia dikejutkan oleh suara dona dan jacky yang kaget ada bau asing datang. Siapa ya? Jeng Maria (JM) yang sejak tadi cuma diam juga ikut-ikutan nimbrung, mengalihkan pandangannya kepada dua anjing itu.
SB : ana apa ta, Jeng. Koq dona jacky ngaloop wae kuwi??

JM : ana tamu, ayu-ayu lho, BLACK!
SB : tenane, Jeng? Njur ngapa nek ayu?? Apa ya njur marake seneng ta nek tamune ayu??
JM : lha ya ngga tau, BLACK. Lha emang ayu koq. Mosok ayu dibilang ga ayu. Itu namanya iri. Klo iri, itu artinya tanda tak mampu, BLACK.
SB : Weitz....kamu itu omong apa to, Jeng. Lha wong kita ini bicara tamu ayu koq sampai iri-iri segala.
JM : ya itulah, BLACK. Kita ini mudah memberikan penilaian kepada orang, tetapi tidak mendasar pada faktanya. Suka nambah-nambahi sakarepe wudele dhewe ato pikirane dhewe yang waktu itu lagi nyanthol.
SB : iya sih, Jeng. Lha mung bocah wingi sore wae gitu loh.
JM : bocah wingi sore?? apa ta maksudmu kuwi?
SB : yo aku iki, Jeng. Aku ki lha yo sih termasuk bocah wingi sore. Kadang kala aku rumangsa isin dhewe nek ngasih nasihat pada orang-orang tua yang tentu lebih pengalaman dibanding aku, gitu. Apa ya layak to aku iki.
JM : santai-santai BLACK. Bocah wingi sore utawa bocah wiz kadaluarsa kuwi ora masalah. Sing penting berani untuk belajar, terbuka, dan menerima kritik dengan gembira hati.
SB : wah, lha yo kuwi, Jeng! Yang susah. Belajar???ok. terbuka....hmmm...ok deh. Menerima kritik saran---ntar dulu Jeng. Nek rama yang memberi saran ya bisa aku terima. Tapi nek mung.......ya sik ta Jeng..!!
JM : Koq gitu to, BLACK?? Ingat ini, prapaskah loh...
SB : Sip...!!! prapaskah opo ora lha yo pada wae ta, Jeng. Sing penting tetep pasa lan sesirik-pantang dan puasa gitu. Soal perubahan hidup...kuwi suk wae klo dah meh dipundhut Gusti.
JM : Ya Tuhanku dan Allahku...koq kamu gitu to, BLACK. Pantang dan puasa itu hanya sarana...yang penting adalah perubahan hidup dalam diri kita. Klo masa prapaskah ini membuat kita menjadi lebih sabar, lebih gembira hati dalam pelayanan...itulah yang dimaksudkan..lebih suka berbagi...kolektenya semakin banyak...sarasehan APP juga semangkin banyak yang ikut. Itulah yang dimaksudkan. Umat kabeh sansaya grengseng...bersemangat untuk hidup menggereja....itulah!!
SB : Yups...jeng, aku tau koq! Dan aku juga dah melihat bahwa OMK kita juga sudah bangkit....banyak yang terlibat...meski masih harus lebih banyak lagi belajar.
JM : Yo gapapa BLACK..kabeh itu lha yo semua. Jadi ya mari kita dukung bersama...tidak mudah memberi penilaian apalagi mencela..tetapi bersama-sama membangun...AYO GUMREGAH AMRIH DADIA BERKAH!!.
SB : Amiiiiiiiiiiiiiiii...iiiin!!!!

Si BLACK PASKAHAN

Lama Si BLACK (SB) tidak memunculkan batang hidungnya. Teryata teman-temannya sudah banyak yang kangen akan kehadirannya. JENG MARIA (JM) sendiri juga rindu berat untuk bertemu kembali dengan dia. Pada Perayaan Paskah tahun ini ternyata Si BLACK mudik alias pulang kampung.
JM : Wah, BLACK, ketemu lagi neh. Pa kabarnya? Eh, selamat Paskah ya. Meriah juga ta di ndeso-mu paskahannya?

SB : tengkyu, Jeng! Yach...lumayanlah, indah! Aku dapat merayakan paskah tahun ini dengan keluargaku. Kami ke gereja bersama dan lebih dari itu, kami saling berdamai untuk bangkit membangun keluarga yang sungguh katolik.
JM : syukurlah, BLACK. Nah gitu itu seharusnya keluarga katolik. Aku turut gembira karena keluargamu udah rukun kembali mulai paskah ini. Ga kayak kemarin-kemarin marahan terus dan masing-masing egois pengin menang sendiri, iri, dendam dan lain sebagainya. Keluarga Katolik koq kayak neraka.
SB : Iya, Jeng. Bagiku ini berkah Paskah yang istimewa.
JM : tapi, ngomong-omong koq kamu sekarang keliatan gendut gitu. Weitz..pundakmu sekarang terasa atos (keras) gini..ughhh...palagi pinggangmu tuch...juga perutmu. Terasa atos banget (sambil jeng Maria memegangi pundak, kemudian pinggang dan perut si BLACK).
SB : ah, Jeng Maria ini loh. Menggoda ya? Jangan salah, Jeng. Makin ke bawah..nek makin atos makin berbahaya loh jeng!!
JM : maksud loe!!BLACK????? (disensor!)
SB : gini loh, jeng maksudku..kalo orang itu atos perilakunya khan berbahaya to Jeng. Juga nek kepribadiaannya atos, hatinya atos, kata-katanya atos khan bisa memicu masalah atau kekacauan. Minimal ra penak nek dijak omongan gitu.
JM : Oh...itu ta BLACK maksudmu, kirain......
SB : Kirain apa jeng....ups!! ingat jeng ni paskah-paskah!!!! Lha wong baru saja ngaku dosa koq meh buat dosa lagi dengan omongan yang saru!! Hayo...ati-ati loh jeng.
JM : Iya, BLACK..maap-maap!! Lha mung guyon koq BLACK!!
SB : Weitz...jangan salah, jeng. Setan bisa memulai dosa dari mung sekedar guyonan loh. Ati-ati, jangan pernah memberi kesempatan pada setan!
JM : wah, nek gitu mending ga usah ngaku dosa, BLACK..ben dadi wong atos sisan.
SB : Yo jangan gitu Jeng. Orang katolik yang sejati kuwi ya kudune ngaku dosa untuk melebur dosa-dosa gitu, ben atine resik maning. Nek dalam istilah kitab suci, wong sing seneng ngaku dosa kuwi = wong sing wiz ra doyan ampas tahu alias pakan babi.
JM : berarti wong sing ra ngaku dosa kuwi jenenge wong sing sih seneng makan ampas babi gitu to BLACK. Lha koq bisa??
SB : bisa aja!! Baca Lukas 15:11-16. Berarti orang itu kayak anak bungsu itu yang belum mau bertobat, belum mau kembali ke rumah bapakne...sehingga yo masih maem ampas babi. Ner khan, Jeng??
JM : Wah, ner banget tuch, BLACK. Berarti kita ini harus selalu bertobat ya supaya hati kita dijadikan lemah lembut seperti hati Yesus sendiri. Tidak malah sebaliknya atos sakabeh-kabehe.
SB : Siiiip, Jeng. Emang harus gitu. Apalagi kita wong katolik..harus senantiasa bertobat dan kembali ke rumah Bapa, setia pada janji baptis kita, mewujudkan cintakasihNya.............sampai akhir.
JM : Setuju, BLACK. Mudah-mudahan umat kita juga setia menjadi eL-PeKa (laskar pembela Kristus), menjadi cahaya bagi dunia, mewujudkan janji baptis kita.

si BLACK: BANGGA OMK

Hari itu Si BLACK (SB) tersentak dari mimpi. Ia terbangun terkaget-kaget karena mimpi yang begitu aneh dan tidak disangka-sangka. Jeng MARIA (JM) yang juga dibuat kaget oleh perilaku suaminya itu.
JM : BLACK, ada apa je koq tau-tau njenggirat gitu, kayak ada gempa aja, bikin kaget aku.

SB : hmm..ga papa koq Jeng, cuma aneh aja gitu..koq bisa-bisanya ya anak-anak kita sampe berbuat seperti itu.
JM : berbuat apa to, BLACK? Aku mah ga ngerti ki omonganmu.
SB : nek bahasa kerennya..terjadi loncatan kualitatip gitu pada anak-anak kita. Coba bayangin wez...
JM : sik sik BLACK tak bayangin dulu..weitz..koq malah kemrosok gitu...ujan BLACK...badalah!!! piye ki. Lha anak-anake dhewe tadi mau ngadain pesta ma temen-temennya to. Lha koq malah ujan gini, piye BLACK!!! Auch..akhhh...pet!! weitz...malah mati lampu juga!!!
SB : Waduhh.....Gusti paringana sabar!!! Lha koq malah gini, Jeng...piye ki nasibnya anak-anak kita...kecewa ndak ya mereka? Padahal khan udah disiapkan dengan sangat baik sekali.
JM : Santai-santai...BLACK, anak-anak kita ini khan sudah kita ajari bertanggungjawab dan itu....katanya udah diskusi soal bagaimana melihat berkat dalam keadaan tidak nyaman atau...apa itu namanya, BLACK?
SB : itu christ john...
JM : Christ John....bukan!!!! itu loh zona-zona apa itulah...
SB : oh....ya itu maksudku....RISK ZONE!
JM : nah...itu BLACK, bener banget. RISK ZONE atau tetap “menggugah dunia” meski dalam situasi yang tidak disangka-sangka: ujan, mati lampu, dekornya yang dibuat semalaman ga jadi digunakan...tetapi......anak-anak kita benar-benar telah menggugah dunia. Sayangnya...apakah anak-anak tetangga kita bisa seperti anak kita ya, BLACK....mau seperti itu....suka duka dilewati bersama untuk menemukan Allah??
SB : sapa dulu, Jeng Bapaknya..hehe...ya syukurlah...anak-anak kita banyak belajar dari pengalaman..mudah-mudahan inipun menjadi pengalaman berharga yang semakin membawa anak-anak kita menemukan “pepadhang” dalam hidup mereka.
JM : Sip, BLACK! Itu juga yang aku harapkan.
SB : lha, anak-anak yang lain???
JM : yach...kita tunggu saja..........!!!???