Jumat, 30 Juli 2010

ROSARIO 70 PITULUNGAN MARIA

Pengantar

Devosi Rosario 70 ini mengungkapkan syukur kita akan Santa Maria, yang menjadi pelindung dan penuntun kita sebagai Gereja. Bersama Maria, kita berarak menuju Sang Putera. Kita bagaikan anak-anak, yang dibimbing berjalan agar sampai kepada Kristus. Melalui Ibu Maria, kita diperkenalkan dan disatukan dengan Yesus –per Mariam ad Jesum-. Ibu Maria menjadi pitulungan kita. Teladan hidupnya menjadi inspirasi dan pepadhang bagaimana kita semestinya membangun hidup yang selaras dengan kehendak Allah di dalam melayani Sang Sabda. Di sinilah “Pitulungan Maria” menjadi nyata.
Pitulungan Maria, dalam arti harafiah (jw) adalah pertolongan Ibu Maria. Dalam arti yang lain, atau tafsir bebas, juga berarti pitu + lunga(n) Maria, yaitu tujuh peristiwa Maria pergi meninggalkan Nazareth.
Doa Rosario 70 Pitulungan Maria ini menjadi sarana untuk semakin mengenal Ibu Maria dan sekaligus, bersyukur atas pertolongan -pitulungan- Ibu Maria menghantar kita mengenal Puteranya sehingga iman kita semakin mendalam. Iman yang mendalam inilah yang menjadi dasar visi Gereja kita. Dengan iman itu, kita mewujudkan Kerajaan Allah yang memerdekakan, melalui dinamika pastoral yang melibatkan, memberdayakan dan mengembangkan seluruh umat beriman, dalam bimbingan Roh Kudus dan teladan Santa Maria.


ROSARIO 70 PITULUNGAN MARIA

Tanda Salib dan Salam
P Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.
U Amin
P Rahmat dan damai dari Allah Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus dalam persekutuan Roh Kudus, beserta kita.
U Sekarang dan selama-lamanya.
Seruan Tobat
P Marilah kita mengakui segala dosa-dosa kita:
U Saya mengaku……………
P Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita dan menghantar kita ke hidup yang kekal.
U Amin.
Aku Percaya ……..
Bapakami ……
Salam Puteri Allah Bapa. Salam Maria ……
Salam Bunda Allah Putera. Salam Maria ……
Salam Mempelai Allah Roh Kudus. Salam Maria …
Kemuliaan ……..

Doa Pembuka (bersama-sama)

Allah Bapa mahakuasa, Engkau mengutus Putera-Mu datang ke dunia untuk mewujudkan visi keselamatan bagi dunia. Bimbinglah kami agar kami menyadari bahwa Putera-Mu telah menunjukkan kepada kami, bagaimana mewujudkan visi tersebut agar tercapai dan membuahkan rahmat yang begitu melimpah. Bersama dengan Santa Maria, bunda pelindung kami dan bimbingan Roh Kudus, kami bertekad untuk mewujudkan Gereja yang terlibat membangun Kerajaan-Mu berdasarkan iman yang mendalam. Demi Yesus Kristus, Putera-Mu dan Tuhan kami, yang telah melaksanakan visi keselamatan-Mu itu bagi kami, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Peristiwa-Peristiwa Rosario 70 Pitulungan Maria:


Pitulungan 1 : Maria menyertai suaminya pergi ke Kota Daud.
Ujud : Dengan teladan santa Maria, kita mewujudkan visi Gereja agar semakin mampu untuk terlibat bagi dunia dan menjadi berkat.

Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu.
Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya. Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia. Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya.
Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” Jawab-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia. (Luk 2: 41 – 52)
P Santa Maria,
U doakanlah kami
Bapa Kami (1x);
Salam Maria (10x);
Kemuliaan (1x) ;
Terpujilah (1x).

Pitulungan 2
: Maria mengungsi ke Mesir bersama suami dan Anaknya.
Ujud : Bersama Maria, beralih dari Gereja Hirarkis menuju Gereja sebagai Komunio.

Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.”
Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.”
Setelah Herodes mati, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi di Mesir, katanya: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya dan berangkatlah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu, sudah mati.” Lalu Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya dan pergi ke tanah Israel. Tetapi setelah didengarnya, bahwa Arkhelaus menjadi raja di Yudea menggantikan Herodes, ayahnya, ia takut ke sana. Karena dinasihati dalam mimpi, pergilah Yusuf ke daerah Galilea. Setibanya di sana ia pun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret. (Mat 2: 13 – 23)
P Santa Maria,
U doakanlah kami
Bapa Kami (1x);
Salam Maria (10x);
Kemuliaan (1x) ;
Terpujilah (1x).

Pitulungan 3 : Maria mengunjungi Elisabet, saudarinya.
Ujud : Dengan kunjungan Maria, marilah kita tingkatkan peran-peran umat beriman di tingkat lingkungan, wilayah dan paroki.

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”
Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”
Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1: 39 – 56)
P Santa Maria,
U Doakanlah kami
Bapa Kami (1x);
Salam Maria (10x);
Kemuliaan (1x) ;
Terpujilah (1x).

Pitulungan 4 : Maria mengunjungi Yesus yang sedang berkarya.
Ujub : Bersama Maria, kita mengubah pola pelayanan yang individual menuju pola pelayanan kerjasama sebagai tim kerja.

Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Maka seorang berkata kepada-Nya: "Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau." Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: "Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?" Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.(Mat 12: 46 – 50)
P Santa Maria,
U Doakanlah kami
Bapa Kami (1x);
Salam Maria (10x);
Kemuliaan (1x) ;
Terpujilah (1x).

Pitulungan 5 : Maria menjadi perantara pertolongan Allah dalam Pesta Perkawinan di Kana.
Ujub : Bersama Bunda Maria, Bunda penolong, kita membantu, mengembangkan dan memberdayakan yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel.

Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu.
Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.” Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”
Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan mereka pun mengisinya sampai penuh. Lalu kata Yesus kepada mereka: “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu mereka pun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu – dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya – ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya: “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.”
Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya. (Yoh 2: 1 – 11)
P Santa Maria,
U doakanlah kami
Bapa Kami (1x);
Salam Maria (10x);
Kemuliaan (1x) ;
Terpujilah (1x).

Pitulungan 6 : Maria Mengikuti Yesus menuju puncak Golgota.
Ujub : Bersama Maria, Ibu Gereja, kita kembangkan keterlibatan seluruh umat terutama anak-anak, remaja dan kaum muda untuk membangun gerakan cinta lingkungan hidup.

Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaian-Nya lalu membaginya menjadi empat bagian untuk tiap-tiap prajurit satu bagian – dan jubah-Nya juga mereka ambil. Jubah itu tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja. Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain: “Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya.” Demikianlah hendaknya supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: “Mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara mereka dan mereka membuang undi atas jubah-Ku.” Hal itu telah dilakukan prajurit-prajurit itu.
Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.
Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia –supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci-: “Aku haus!” Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. (Yoh 19: 23 – 40)
P Santa Maria,
U Doakanlah kami
Bapa Kami (1x);
Salam Maria (10x);
Kemuliaan (1x) ;
Terpujilah (1x).


Pitulungan 7 : Maria tinggal bersama para murid di Yerusalem, menantikan kegenapan janji Kristus.
Ujub : Berkat teladan Maria dan bimbingan Roh Kudus, kita tingkatkan kualitas dan kualitas pelayanan atas dasar pelayanan yang rendah hati dan murah hati.

Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang -- demikian kata-Nya -- "telah kamu dengar dari pada-Ku. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus." Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."
Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem. Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus. Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus. (Kis 1: 4 – 14)
P Santa Maria,
U Doakanlah kami
Bapa Kami (1x);
Salam Maria (10x);
Kemuliaan (1x) ;
Terpujilah (1x).

Persembahan/Kolekte Maria (dapat diiringi lagu)

Doa Penutup
Allah Bapa yang Maha Pemurah, Engkau menyediakan segala sesuatu, seluruh alam semesta ini demi kebahagiaan kami. Bimbinglah kami untuk semakin menyadari betapa murah hatinya Engkau terhadap kami. Semoga kami semakin menjadi anak-anak-Mu yang rendah hati dan penuh kemurahan seperti Santa Maria, pelindung kami, terlebih dalam pelayanan kepada sesama dan seluruh alam ciptaan; di dalam mewujudkan Gereja-Mu yang melibatkan, mengembangkan dan memberdayakan semua umat. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami. Amin

Berkat dan Pengutusan
P Tuhan beserta kita
U Sekarang dan selama-lamanya
P Semoga kita semua senantiasa dibimbing, dituntun, dan diberkati oleh Allah yang mahakuasa, Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus.
U Amin
P Doa Rosario ini sudah selesai, marilah kita pergi, kita diutus untuk mewujudkan visi dan misi Paroki kita bersama Ibu Maria dan bimbingan Roh Kudus.
U Syukur kepada Allah.

Kamis, 01 Juli 2010

Tidak Kenal Kitab Suci - Tidak Kenal Yesus

Kerap kali kita lihat dan kita dengar dalam kehidupan menggereja, anak-anak kurang mendapat sentuhan dan pendampingan yang optimal. Anak-anak dianggap sebagai “cah cilik” yang dalam batas-batas tertentu tidak boleh terlibat dan dilibatkan dalam hidup menggereja. Padahal, dengan baptis, anak-anak pun memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai warga Gereja. Dalam kebaktian saja misalnya, anak seringkali malah diajak orangtuanya untuk duduk di luar gereja, hanya saat “berkat bathuk”, anak masuk ke dalam gereja dan setelah itu dibiarkan berkeliaran, entah dimana. Dalam pendampingan- pendampingan iman anak (PIA) pun, tampak bagaimana pendalaman iman tersebut belum diseriusi. Anak “cuma” diajak nyanyi-nyanyi, menggambar, makan-makan, just have fun”, tetapi apakah anak semakin kenal Yesus??? Bagaimana anak bisa didampingi imannya. Mengapa hal ini penting??? Salah satu ungkapan mutiara dari St.Hieronimus “Siapa tidak mengenal Kitab Suci, tidak mengenal Yesus”. Nah, disinilah peranan sangat penting dari Kitab Suci, bagaimana orang dapat beriman kepada Yesus kalau tidak kenal Yesus. Bagaimana orang dapat kenal Yesus kalau tidak pernah mengenal kitab suci (minimal membaca kitab suci?). Bagaimana orang cinta Yesus kalau tidak pernah tahu Yesus? Oleh karena itu, pengenalan kitab suci bagi anak-anak ADALAH SANGAT PENTING. Mari kita belajar dari Kitab Suci sendiri:

Belajar dari Yesus:
Selama masa pelayanan-Nya sebagai manusia, Yesus Kristus telah menyambut dan memberkati anak-anak. Markus 10:13-16 (lih jg Mat 19:13-15; Luk 18:15-17), menceritakan hal menarik tentang anak-anak.

"Lalu orang banyak membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-muridNya memarahi orang-orang itu. Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepadaKu, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil ia tidak akan masuk kedalamnya. Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tanganNya atas mereka Ia memberkati mereka."

Saat anak-anak kecil dibawa pada Yesus, mereka memang masih terlalu kecil untuk mengerti betapa luar-biasanya pertemuan itu, tapi mereka tentu dapat merasakan kehangatan kasih Yesus. Dan setelah mereka dewasa, mereka pasti membalas kasih-Nya. Kata Ibrani yang digunakan untuk “anak kecil” pada ayat tersebut, menerangkan bahwa anak-anak tersebut benar-benar masih sangat kecil, jadi gagalkah upaya Kristus? Tentu tidak, kata Ibrani yang sama juga digunakan dalam II Timotius 3:15 yaitu bahwa sejak masa kecilnya Timotius telah "mengenal kitab suci yang memberi (nya) hikmat dan menuntun kepada keselamatan oleh iman kepada Yesus Kristus."

Khotbah gereja perdana menunjukkan bagaimana para rasul menekankan pesan keselamatan yang juga melibatkan anak-anak. Dengan mengacu pada “generasi ini” Petrus berkata, "Bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil Tuhan Allah kita" (Kisah 2: 39). Janji apakah yang sedang dibicarakan Petrus? Petrus berbicara mengenai janji Allah tentang keselamatan bagi semua orang yang percaya Kristus adalah Anak Allah dan menerima-Nya dengan iman dan pertobatan (Kisah 2:22-42).

Bahkan orang dewasa diingatkan untuk bertingkah laku seperti anak-anak. Saat pria “dewasa” sibuk memikirkan siapa yang berhak mendapat tempat tertinggi, Kristus berkata, "Jika kamu tidak bertobat dan tidak menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk kedalam Kerajaan Surga. Dan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga" (Matius 18:3-4). Dalam banyak hal, anak kecil lebih gampang menerima kebenaran rohani dibanding orang dewasa.

Tradisi keluarga Yahudi:

Ada yang berpendapat bahwa seorang anak harus mencapai usia tertentu (sering disebut sebagai “usia dewasa”) agar dapat membuat keputusan rohani dalam hidupnya. Seringkali usia dua belas atau tiga belas tahun dijadikan patokan karena orang Yahudi melakukan upacara khusus di usia tersebut. Tradisi Yahudi menyebutkan bahwa anak usia enam (6) tahun setelah bisa baca tulis diberi gulungan-gulungan kitab (parliamen) yang berisi dasar pengakuan monoteis / Syema (Ul 6:4-9; 16:13-21; Bil 15:37-41). Bahkan ketika keluarga-keluarga Yahudi berdoa, anak-anak diajar untuk senantiasa mengingat syema itu dengan mengikatkan parliamen tersebut (saat doa) di lengan dan dahi dengan tujuan supaya selalu dibaca dan diingat. Keluarga-keluarga juga meletakkan parliamen di dalam tabung kecil yang biasanya ditaruh di pintu rumah sehingga ketika orang pergi atau pulang rumah senantiasa ingat. Selain mengajarkan dasar monoteis tersebut, kidung Hallel (Mzm 113-118) atau mazmur pujian, dan kisah penciptaan diperkenalkan kepada anak, termasuk juga menemukan ayat-ayat emas. Menarik sekali, bagaimana ayat-ayat emas ini diajarkan, yaitu si anak disuruh menemukan ayat-ayat yang mengesan, yang huruf pertama dan huruf terakhir ayat tersebut, merupakan huruf depan dan huruf terakhir nama si anak. Mau tidak mau, si anak harus mencarinya dengan membaca kitab suci.

Ketika anak usia 12/13 tahun, anak diajar untuk mengenal hukum Taurat. Dalam usia ini, anak diajar untuk bertanggungjawab melaksanakan hukum Taurat. Biasanya, pada hari Sabat yang paling dekat dengan hari ulang tahun si anak pada usia 12/13 tahun, anak melaksanakan “ujian kedewasaan” yaitu hadir di rumah ibadat (sinagoga/bait Allah), tampil di mimbar untuk membacakan sabda (kitab Taurat), kemudian diuji dengan pertanyaan-pertanyaan. Apabila dapat menjawabnya dan dinilai lulus, berarti si anak masuk ke dalam usia dewasa. Pada usia 20/21 tahun, seorang anak dapat belajar untuk menjadi Rabi (guru) setelah sebelumnya mempelajari seluruh kitab perjanjian lama.

Tanggungjawab Orangtua dan Gereja:

Seperti yang ditegaskan Santo Paulus kepada jemaat di Roma, juga kepada Gereja sekarang ini, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Rm 10:17). Oleh karena itu, sejak dini adalah sangat penting mengajarkan (membacakan) firman Allah yang tertulis dalam kitab suci kepada anak-anak supaya iman mereka bertumbuh dan berkembang. Keluarga- keluarga krisiani sejati harus memiliki alkitab sebagai landasan dan mereka mengajarkannya pada anak-anak. Kitab suci bukan untuk disimpan, tetapi dibaca, dikenal dan dipelajari supaya semakin mengenal Allah dalam Kristus Yesus, semakin dekat dan mencintai-Nya. Karena "iman datang dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Allah", orang yang sering diajar mengenal Firman akan lebih cepat menerimaNya dibanding orang yang jarang atau yang tidak pernah mendengar Firman. Karena itu, Tuhan memberikan berbagai perintah dalam alkitab agar orang tua lebih memperhatikan pertumbuhan rohani anak-anak mereka. Inilah kesaksian Paulus pula untuk menyadarkan Timotius, “Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu. Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.” (2Tim 3: 14-15).

Menerobos Tapal Batas: Comfort Zone - Risk Zone

Kerap kali, kita digiring untuk memasuki sebuah status kehidupan yang hendak kita nikmati yaitu sebuah kepuasan, kenyamanan, keenakan, dan kebiasaan-kebiasaan yang aman dan menyenangkan, jauh dari kekuatiran, kecemasan, dan pergulatan. Siapa yang menggiring? Tidak tau, tetapi gerak hampir sebagian besar orang senantiasa mengarahkan diri dengan perjuangan kerasnya, dengan usaha dan jerih payahnya untuk mengalami sebuah “kenyamanan hidup” yang apabila sudah tercapai atau pun toh belum tercapai, orang akan terus berusaha mencicipi dan menikmati “kenyamanan” itu dengan sebaik-baiknya.

Itulah COMFORT ZONE, sebuah zona kenyamanan yang dihasilkan dari “status” seseorang. Oleh karena statusnya, orang mendapatkan kenyamanan dan keenakan di dalam hidup. Itulah pula gerak orang-orang yang hanya mencari status dalam kehidupan dan bukan peran dalam hidup. Orang yang hanya mencari status, adalah orang-orang yang hanya ingin berada dalam COMFORT ZONE dan seringkali pula tidak berani berpindah zona. Orang akan lebih suka bersarang dalam kemudahan dan kenikmatan yang ditawarkan, oleh status itu. Kita dapat mengambil contoh dari peristiwa-peristiwa kehidupan yang kita alami sendiri atau yang juga ada di sekitar kita.

Tidak perlu membayangkan lebih dahulu tapal batas apa yang harus diterobos, apalagi tapal batas wilayah geografis yang serba jauh dari jangkauan kita. Ini bukan hanya soal batas negara, batas benua. Coba bereksperimen sederhana: bila suatu saat anda yang sedang duduk di dalam kursi panjang gereja, kemudian didekati seseorang yang tidak dikenal (asing) dan duduk di sebelah anda dengan amat dekat (mepet). Apa reaksi anda? Anda pasti akan menolehnya dan kemudian bergeser duduk, memperbesar jarak. Bukan pertama-tama untuk memberikan tempat bagi dia, melainkan bahwa kita sebagai pribadi (individu) memiliki tapal batas imajiner. Ada batas imajiner kurang lebih 30 cm yang membuat orang merasa nyaman.

Yang paling dalam adalah wilayah pribadi terdalam, yang apabila diterobos, orang mengalami trauma. Lebih luar lagi adalah wilayah keakraban, yang kalau dilanggar, orang bisa marah atau merasa tertekan. Lapis berikutnya adalah wilayah personal dimana orang merasa enak berjumpa dengan orang lain. Lalu wilayah lebih luar lagi adalah wilayah sosial, dimana orang merasa enak meskipun dengan orang-orang yang tidak dikenal. Dan yang batas yang paling luar adalah wilayah publik, yaitu selebar jarak orang merasa aman berbicara di depan sebuah audiens. Dengan mengenal tapal batas wilayah yang memberi rasa aman, yang melingkar-lingkar konsentris dan pusatnya adalah diri sendiri ini, kita bisa membayangkan bagaimana caranya menerobos batas itu. Ada orang yang sangat pelan-pelan mengumpulkan keberanian hanya untuk keluar dari wilayah personal masuk ke wilayah sosial. Orang tidak mampu melakukan tindakan-tindakan kreatif karena ada batas-batas imajiner yang membuat diri sendiri merasa takut, merasa tidak mampu, merasa khawatir, merasa ragu-ragu, enggan, malas, menolak kesempatan dan banyak lainnya. Dari sini jelas arahnya. Supaya kita bisa menerobos batas-batas yang mengekang gerak kita adalah mengalami kasih Yesus sendiri.

Contoh kisah “gembala yang baik” yang meninggalkan 99 dombanya dan mencari 1 domba yang hilang (Mat 18:12) merupakan contoh sebuah keberanian kreatif mencari cara meninggalkan wilayah dimana orang merasa aman. Sebab, untuk berani pergi mencari seekor domba yang sesat itu ada banyak bahaya yaitu risiko dan kesulitan berhadapan dengan hal-hal yang membuat domba itu tersesat. Ini artinya berani mengatasi rasa takut. Ini berarti keluar dari hal-hal yang biasa dilakukan, yang sudah jadi tradisi (meskipun tradisi tidak harus diartikan negatif atau jelek). Orang merasa aman kalau hanya melakukan apa yang sudah biasa dilakukan atau sudah merasa punya pengalaman-pengalaman “makan asinnya garam” kehidupan. Mengikuti aturan dan kebiasaan adalah cara yang aman. Kalau saatnya harus berubah, menerobos kebiasaan, lalu muncul reaksi spontan, “apa maneh iki?” Mentalitas orang-orang yang suka berada di COMFORT ZONE adalah mentalitas “pokoke”. Apabila ada sesuatu yang kiranya mengancam kenyamanannya, orang bilang “pokok e........”. Berbuat yang tidak biasa menimbulkan rasa takut. Padahal, apabila semua itu keluar dari kasih yang sungguh, maka rasa takut itu sebenarnya tidak bernyali. “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan” (1Yoh 4:18). Bukankah saat ini, kita juga tetap perlu dan membangun keyakinan bahwa di tempat-tempat yang biasanya kita enggan datangi, di pelayanan-pelayanan yang kita tolak atau kita singkiri, atau macam-macam pelayanan yang kita coret dari daftar perhatian kita, malah barangkali disitulah ALLAH HADIR secara nyata dan ke sanalah kita harus menerobos masuk? atau beranikah kita juga menerobos perasaan-perasaan “tidak dipakai”, merasa terbuang, hidup adalah keluhan, ketidakmampuan untuk memberikan penghargaan dan pujian kepada orang yang lebih muda, susah memahami cara berpikir orang muda, dll agar dari situlah kita mampu mengembangkan cara-cara baru keterlibatan dalam kehidupan?

Contoh keberanian menerobos tapal batas yang dibuat oleh tradisi adalah kisah Yesus berjumpa dengan perempuan Samaria (Yoh 4:3-42):
Ia pun meninggalkan Yudea dan kembali lagi ke Galilea. Ia harus melintasi daerah Samaria. Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: "Berilah Aku minum." Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?" Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini." Kata perempuan itu: "Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar." Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi. Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah." Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." Jawab perempuan itu kepada-Nya: "Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami." Kata Yesus kepadanya: "Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau." Pada waktu itu datanglah murid-murid-Nya dan mereka heran, bahwa Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan. Tetapi tidak seorang pun yang berkata: "Apa yang Engkau kehendaki? Atau: Apa yang Engkau percakapkan dengan dia?" Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ: "Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?" Maka mereka pun pergi ke luar kota lalu datang kepada Yesus. Sementara itu murid-murid-Nya mengajak Dia, katanya: "Rabi, makanlah." Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal." Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain: "Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepada-Nya untuk dimakan?" Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita. Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai. Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka." Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: "Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat." Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Ia tinggal pada mereka; dan Ia pun tinggal di situ dua hari lamanya. Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya, dan mereka berkata kepada perempuan itu: "Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia."

Yesus sering kali dalam hidup-Nya menerobos tapal batas. Yesus berani memulai sesuatu yang baru, yang berbeda dari tradisi: DIA mendekati dan masuk ke dunia orang-orang Samaria. Ketika Yesus memanggil murid-murid yang pertama juga mengajarkan bagaimana para murid sejak awal dimasukkan dalam RISK ZONE, zona ketidaknyamanan atau berisiko ketika mereka (para murid –red) mengikuti Dia (Mat 4:18-22 par; 19:29 par). Akan tetapi, dengan cara itulah, Yesus mengajar para murid-murid-Nya (kelompok 12 rasul) itu untuk menemukan dan mengembangkan cara-cara kreatif di dalam membangun sebuah Gereja. Kisah Yoh 4:3-42 ini memberikan inspirasi bagi kita untuk menembus tapal batas demi pelayanan. Gereja membuka kesempatan untuk berjumpa dengan orang-orang atau kelompok yang mungkin selama ini dianggap “musuh”. Gereja dituntut untuk berani melewati tembok-tembok atau kebiasaan yang sudah ada serta pergi ke tempat baru yang memberikan banyak tantangan.

Benturan antara idealisme dengan realitas atau “tempat baru” menuntut suatu kreatifitas untuk survive. Inilah sebenarnya saat-saat kritis untuk berani menerobos batas-batas dari cita-cita dan harapan yang sudah tergambar dalam pikiran menuju cara baru memasuki RISK ZONE, menemukan cara-cara baru agar orang mampu menerobos tapal batas imajinernya sendiri memasuki pengalaman personal akan Allah yang mengasihi. Berubah, bukan sekedar tahu bahwa Tuhan ada, melainkan menemukan pengalaman eksistensial atau mendasar bahwa sampai kapan pun dan kemana pun, Tuhan menyertai kita. “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:20). Dalam penyertaan-Nya itu, Dia senantiasa memanggil kita untuk bersama Dia membangun Kerajaan Allah. Maka dalam menghadapi tantangan jaman ini, perlu mencari CARA kreatif menerobos tapal batas kebiasaan yang membatasi diri sendiri, sehingga mampu mengatasi tradisi, menemukan pilihan-pilihan baru, yang memungkinkan kita menghadirkan Kerajaan-Nya, bersama orang-orang lain yang berkehendak baik, menciptakan kedamaian dan keadilan, berdialog dan mengembangkan budaya kasih, memperhatikan lingkungan hidup dan sambil mengharapkan langit dan bumi yang baru.

Menjadi bebas dan berani secara kreatif adalah hal yang diimpikan orang-orang yang mau membuat hidupnya lebih bermakna. Namun orang biasanya terhambat oleh hal-hal yang sudah rutin dilakukan. Ada kebiasaan yang menghambat, meskipun kebiasaan-kebiasaan itu pada dasarnya baik. Akan tetapi kebiasaan baik apabila tanpa rasa kritis, dapat juga menjadi batas yang menghambat. Membangun paradigma baru melalui penggunaan-penggunaan istilah yang tidak biasa menjadi salah satu cara untuk menerobos tapal batas. Tentu yang terjadi bukan sekedar perubahan istilah misalnya istilah ‘seksi’ diganti ‘tim kerja’; ‘organisasi’ diganti ‘paguyuban’, melainkan terjadinya perubahan kesadaran untuk menerobos apa yang sudah biasa, meretas batas-batas tradisi atau kebiasaan, untuk menemukan pilihan baru dalam mengembangkan pelayanan. Semakin kreatif dalam menemukan dan mengembangkan cara-cara pelayanan pastoral.




Homili Julius Kardinal Darmaatmadja SJ

Homili Rm Julius Kardinal Darmaatmadja SJ pada PERAYAAN 27 TAHUN TAHBISAN USKUP dan SERAH TERIMA USKUP AGUNG JAKARTA – Selasa, 29 Juni 2010

Para bapak Uskup, para imam, bruder, suster dan saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus. Terimakasih kepada Anda sekalian yang sekarang berkumpul untuk bersyukur dalam Perayaan Ekaristi ini. Bersyukur karena telah 27 tahun Tuhan Yesus beserta Roh-Nya mendampingi dan meneguhkan saya beserta umat sebagai Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang selama 13 tahun dan Keuskupan Agung Jakarta selama 14 tahun. Tetapi kemarin pk. 12.00 waktu Roma atau pk. 17.00 WIB, seperti juga telah kami beritakan lewat media elektronis, Bapa Suci Benedictus XVI telah menerima pengunduran diri saya sebagai Uskup Agung, Keuskupan Agung Jakarta. Selanjutnya Mgr. Ignatius Suharyo adalah Uskup Agung kita yang baru. Maka ujud syukur kita tambahkan, yaitu bersyukur karena Keuskupan Agung Jakarta sudah mendapat Uskup Agung baru dalam diri Mgr. Ignatius Suharyo. Mari kita mohon berkat bagi Bp. Uskup Agung yang baru dan bagi saya juga. Kita merayakan ekaristi hari ini, bertepatan dengan Pesta dua rasul Agung Petrus dan Paulus. Kita pantas mohon berkat bagi perkembangan iman umat dalam Gereja kita sendiri maupun berkat melimpah bagi kebaikan hidup di tengah masyarakat kita. Semoga semangat kedua rasul itu dapat kita warisi.

1. Injil hari ini mengisahkan Yesus yang menanyai murid-murid-Nya, siapa Dia menurut mereka. Ketika mereka menjawab: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan Elia, dan ada pula yang mengatakan Yeremia, atau salah seorang dari pada nabi” (Mt 16:14), Yesus tidak puas lalu bertanya kepada mereka: “Lalu apa katamu, siapakah Aku ini?” (Mt 16:15). Yesus menghendaki murid-murid-Nya mengenali Dia secara pribadi dan mengenali identitas Yesus secara mendalam. Kita sudah menjawab bersama dengan St. Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup”. Engkaulah Penebus dan Penyelamat kami.

2. Memang inti dan dasar iman kita adalah mengenal dan mencintai secara pribadi Tuhan Yesus Kristus, dan kita semua diharapkan mengembangkan hubungan yang mendalam sehingga kita mampu untuk mengkomunikasikan kasih Kristus kepada orang-orang yang kita jumpai. St. Petrus memang sudah dipanggil mengikuti Yesus sejak awal. Ia meninggalkan jalanya, hidup bersama dan ikut mengadakan perjalanan dengan Yesus, sehingga hubungan pribadi dengan Yesus sudah makin dalam. Tetapi dalam kisah tadi ada pengalaman St. Petrus yang tidak bersumber dari pergaulan secara lahiriah, tetapi justru ada pemahaman yang mendalam tentang siapa Yesus, yang belum dimiliki oleh rasul-rasul lainnya.

3. Itulah yang juga dialami St. Paulus. Meski tak permah berjumpa dengan Yesus ketika masih hidup di dunia, dia berjumpa dengan Yesus yang sudah bangkit dalam pengalaman rohani yang mendalam. Pengalaman rohani itulah yang membuat baik St. Petrus maupun St. Paulus sangat mencintai dan setia mengabdi Yesus yang bangkit. Kita semua ini hanya dapat mengembangkan hubungan pribadi dengan Yesus secara rohani tetapi nyata, kalau dalam mengambil keputusan penting selalu atas nama-Nya, kalau segala hal yang penting kita putuskan lebih dahulu dalam doa dan renungan kita, dalam Perayaan Ekaristi menyambut komuni atau dalam adorasi Sakramen Maha Kudus. Seperti halnya St. Petrus dan Paulus dengan pengalaman hubungan pribadi secara rohani membuat mereka teguh dalam perutusan bahkan sampai menjadi martir. Kita pun akan mendapat kekuatan, hingga kita teguh dalam panggilan hidup dan tekun menjalankan perutusan kita masing-masing.

4. Setiap kali kita merenungkan “siapakah Kristus bagiku”, kita akan menemukan jawaban sama yang sekaligus baru dalam relasi personal kita dengan beliau. Kalau sedang mendapatkan pengampunan dosa, Kristus dapat tampil sebagai Juru Selamat. Ketika 41 tahun yang lalu ditahbiskan menjadi imam, motto tahbisan saya: “Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati” (2 Kor 4:1). Ketika saya ditunjuk menjadi Uskup 27 tahun yang lalu, Kristus saya alami sebagai kepala Gereja-Nya yang menghendaki saya menjadi penjala manusia dan menebarkan jala di Keuskupan Agung Semarang. Lahirlah motto saya sebagai uskup: “Dalam nama Yesus” dengan kesadaran bahwa apa yang saya lakukan adalah atas dasar kehendak Yesus sendiri. Ketika Paus menghendaki saya pindah ke Keuskupan Agung Jakarta tahun 1996, bagi saya berarti Yesus minta saya menebarkan jala di tempat lainnya. Karena situasi KAJ demikian ini, Tuhan Yesus tampil sebagai yang meminta agar pastoral kita mengikuti Dia Sang Gembala baik. Sekarang ini lewat Paus Benedictus XVI Yesus mengatakan tugasmu sudah selesai dan seperti dulu Aku menghendaki agar Mgr. Ignatius Suharyo, menggantikanmu, sekarang juga demikian. Dalam kesempatan merayakan 200 tahun Keuskupan di Jakarta, saya sudah kerap mengatakan kita memperingati karya Yesus dan Roh-Nya yang kita alami dalam sejarah. Hari ini Anda semua mengalami karya Yesus yang sama dengan Roh-Nya dalam sejarah Gereja Keuskupan Agung Jakarta. Mari kita laksanakan dalam bentuk sederhana dan secara simbolis saat penting, momentum sejarah peralihan kepemimpinan Keuskupan Agung Jakarta saat ini. Amin.