Jumat, 28 Mei 2010

PELAYANAN KASIH

"Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. Seperti ada tertulis: "Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya."Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami. Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah. Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang,sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia Allah yang melimpah di atas kamu. Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu." [Rm 9:6-15]

Sangat menarik, apa yang diwartakan oleh Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaan di Korintus yang kedua. Dalam usahanya untuk mengetuk hati para murid Tuhan Yesus, Ia mengembangkan dan merefleksikan pengalaman "memberi" sebagai pengalaman kasih, yang tidak lain mau menunjukkan bahwa "memberi" itu merupakan perwujudan iman akan Allah yang baik; Allah yang akan mencukupkan segala sesuatu pada si pemberi.

Dalam ayat-ayat sebelumnya, Paulus dengan yakin mengatakan bahwa umat Korintus tidak kalah bermurah hati dengan umat-umat yang lain, yang dengan suka hati memberikan sebagian milik mereka untuk keperluan orang-orang kudus, yaitu murid-murid Tuhan Yesus di daerah lain yang lebih memerlukan bantuan. Paulus meneguhkan jemaat Korintus untuk dengan suka hati memberikan miliknya demi kemajuan iman dan persekutuan umat beriman.

Sikap memberi dengan sukacita merupakan suatu pelayanan kasih yang didasari oleh keyakinan bahwa Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus telah lebih dahulu memberikan diri-Nya untuk manusia, yaitu demi keselamatan dan kebahagiaan manusia. Allahlah yang menyediakan benih untuk ditabur; Dia juga yang akan melipatgandakan benih itu dan menumbuhkannya sehingga umat berkecukupan. Allah sanggup untuk melimpahkan kasih karunia kepada manusia sehingga manusia -sudah sepantasnya- mampu memberi dengan sukacita.

Oleh karena itu, saudara-saudariku, kita semua percaya dan beriman pada Allah yang sama, yaitu Allah yang mahapengasih, Allah yang mahapenyayang, Allah yang bermurahhati, Allah yang senantiasa menghendaki keselamatan manusia. Dengan keyakinan dan kepercayaan itu, dengan iman kepada Allah yang seperti itu, marilah kita saling memberi apa yang kita miliki, supaya kita pun semakin berkecukupan dan Allah pun akan melipatgandakan apa yang kita berikan itu, bukan hanya untuk yang kita beri, tetapi juga lebih-lebih untuk kita sendiri. "Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga". Sebuah ungkapan apik yang diwartakan Paulus untuk kita semua. Dan tentu di situ ada kebenaran yang hendak diungkapkan Paulus. Saudara-saudari yang dekat dengan dunia pertanian pasti akan mudah untuk memahami kata-kata itu. Apabila kita menabur benih sedikit, ya pastilah kita pun akan menuai sedikit, begitu pula sebaliknya, apabila yang kita tabur itu banyak benihnya, pasti juga yang akan kita tuai juga berkelimpahan. Keyakinan inilah yang dapat membantu kita memaknai "sikap memberi" yang senantiasa hendak kita wujudkan bersama.

Dengan kata lain, Paulus hendak menunjukkan bahwa hidup kita ini, yang merupakan pemberian dari Allah, yang merupakan anugerah, mustinya juga kita alirkan seperti air yang terus mengalir...sehingga membawa kesegaran, kejernihan dan kemurnian. Hidup kita yang senantiasa kita bagikan kepada sesama, juga akan menghasilkan kejernihan, kesegaran dan kehidupan itu sendiri. Sebab, seperti sebuah kolam yang tidak mengalirkan air atau hanya menampung air saja, pastilah kolam itu tidak akan membawa kehidupan bagi ikan-ikan yang ada di dalamnya [bdk laut mati]. Dengan amat jelas Paulus memberi peneguhan kepada kita. Maka marilah, kita dengan suka cita membangun sikap memberi, sikap berbagi kepada sesama agar sungguh hidup kita ini menjadi Kehidupan. HIdup kita yang kita jalani ini menjadi Keselamatan bagi diri kita sendiri dan orang lain, serta seluruh ciptaan.

Sebab, melalui "sikap memberi" inilah, tidak hanya mencukupkan keperluan orang-orang kudus, melainkan juga menghasilkan ucapan syukur kepada Allah. Tuhan Memberkati!! Berkah Dalem!

Minggu, 16 Mei 2010

KETIKA PEPADHANG MERAYAKAN ULANG TAHUNNYA KEDUA

Hari ini, hari Minggu Komunikasi Sosial menjadi perayaan istimewa buat, “Pepadhang” karena merupakan kenangan saat dua tahun yang lalu "Pepadhang" hadir di Gereja Santa Maria Kartasura. Kalau dihitung-hitung, sudah ratusan kali "Pepadhang" hadir dan berusaha menjumpai umat setiap hari minggu dan hari-hari tertentu dengan sebaik-baiknya. "Pepadhang" berusaha untuk hadir menjadi berkat, minimal membantu umat untuk mengikuti Ekaristi mingguan, mulai dari persiapan, pelaksanaan dan harapannya juga sesudah misa, untuk menemani umat meniti hari-hari dengan memberi inspirasi rohani bagi kehidupannya.

Namanya juga “pepadhang” atau “terang”, harapannya dapat sungguh menjadi penerang dan pepadhang kehidupan ini supaya setiap insan manusia yang membacanya, dapat melihat dengan jelas arah pandangannya, jalan yang akan dia tempuh, atau juga sesuatu yang penting yang dicarinya. Namun dilain pihak, namanya juga “pepadhang” kadang kala tidak selalu dirasakan kehadirannya karena sudah terbiasa ada, terbiasa hadir secara rutin dan pasti. Sehingga bisa jadi kita tidak pernah atau jarang mensyukurinya. Bandingkan saja dengan hari siang atau hari malam, apakah kita sebagai manusia pernah bersyukur kepada Tuhan, bersyukur bahwa ada hari siang dan ada hari malam? Tidak bukan? Mungkin kita hanya merasa lega dan plong karena ada siang atau ada terang. Ini sangat terasa ketika malam hari tiba-tiba listrik rumah kita mati! Pet!! Apa yang kita rasakan? Sesak, gelap, bingung, tidak tahu arah, gagap, dan juga menjadi terbatas ruang gerak kita. Meski demikian, ketika listrik pun menyala lagi….apakah kita langsung berdoa dan beryukur kepada Tuhan…paling-paling ngunjal ambegan..aaaahhhhhhh!!! akhirnya menyala lagi!!! Begitu bukan??

Mungkin….. itulah “Pepadhang”. Semoga "Pepadhang" semakin bisa menjadi “Pepadhang” yang menyerupai Sang Pepadhang Djati, yang menyinari dunia ini dengan cahaya kasih sehingga seluruh ciptaan-Nya senantiasa memiliki pengharapan bahwa ketika hari-hari terasa gelap, pasti akan terbit pula terang dikemudian hari. Tidak disadari oleh manusia meski dirasakan dan dilihat. Semoga “Pepadhang” bisa pula menarik kita semua untuk terlibat, untuk menjaga “pepadhang” karena "Pepadhang" merasa rapuh saat sendirian, tidak mampu berbuat banyak tanpa kita semua. Semoga di hari-hari mendatang, dengan semakin banyaknya berkat yang dirasakan oleh umat dengan kehadiran "Pepadhang", semakin menambah pengetahuan, penghayatan dan pengungkapan iman umat di tengah dunia ini. Semoga "Pepadhang" juga semakin jeli dan memiliki kedalaman rohani dalam membagikan inspirasi hidupnya supaya semakin mampu menemani umat dalam menghadapi hidup yang penuh dengan gejolak ini. Semoga dengan menu-menu yang "Pepadhang" sajikan, umat pun merasa terbantu untuk secara sungguh-sungguh menyadari dan mengalami Tuhan Yesus Kristus dalam hidupnya.

Semoga menu bacaan harian yang disediakan setiap hari, menghantar umat untuk semakin mencintai dan dengan tekun memperdalam imannya berdasar sabda Tuhan yang tertulis dalam kitab suci.
Semoga menu tata perayaan ekaristi, yang disertai dengan tajuk dan ulasan singkat kitab suci, membantu umat dalam mempersiapkan ekaristi dan menangkap inti iman yang akan dirayakannya, serta mengikutinya dengan kegembiraan dan keterlibatan.
Semoga menu inspirasi hidup yang disajikan, juga menambah kasanah rohani umat dalam membangun sikap hidup yang benar di hadapan Tuhan dan kepada sesama.
Semoga menu mutiara kata, membantu umat untuk menemukan simpul-simpul sejarah kehidupannya masing-masing menjadi sebuah injil kehidupan yang diarungi bersama dengan Yesus yang bangkit.
Semoga menu tokoh-tokoh kudus seperti santo-santa yang dirayakan atau juga orang-orang kudus yang diperkenalkan, membantu umat untuk mencari tokoh teladan hidup beriman yang semakin memperkaya harta surgawi umat.
Semoga menu katekese dengan tema-tema tertentu maupun juga dalam bentuk kisah-kisah kehidupan, membantu umat semakin mengenali arah dan tujuan hidup yang paling inti dalam peziarahan di dunia ini.
Semoga pula, menu info paroki maupun jadwal-jadwal petugas pelayan liturgi, membantu umat untuk semakin berani terlibat dan mempersiapkan keterlibatannya dengan sebaik mungkin sebagai kehendak untuk mempersembahkan yang terbaik untuk Tuhan.

Akhirnya, “pepadhang” mengucapkan terimakasih bagi seluruh umat yang dengan rela hati menyimpan dan membaca pepadhang untuk menjadikannya sebagai teman atau sahabat y untuk mencari “Sang Pepadhang Djati” itu, yaitu Sang Kristus. “Pepadhang” sungguh menyadari bahwa masih banyak kekurangan di sana sini karena keterbatasan dan juga kelemahan yang ada. Harapan ke depan, semoga “pepadhang” tetap setia hadir dan menemani seluruh umat dalam kehidupan rohaninya, membagikan berkat-berkat Tuhan Yesus yang telah mengaruniakan Roh-Nya sendiri yaitu Roh Penghibur, yang akan senantiasa mamberikan penghiburan kepada kita. Seperti yang sudah dinyatakan sendiri oleh Sang Pepadhang Djati, "Kamu adalah terang dunia. Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (bdk Mat 5: 14a.16. Berkah Dalem! Proficiat!!

Rabu, 12 Mei 2010

SEJARAH SINGKAT DAN PROFIL PAROKI SANTA MARIA KARTASURA

PENDAHULUAN

Umat Allah Paroki Santa Maria Kartasura adalah persekutuan paguyuban-paguyuban umat beriman yang menjadi bagian dari Keuskupan Agung Semrang dalam batas-batas territorial tertentu (bdk PDDP KAS pasal 1 no.6; PPDP Santa Maria Kartasura pasal 1 no.6). Dalam persekutuan itu, umat Allah berkehendak mewujudkan Kerajaan Allah yang memerdekakan seturut dengan Arah dan Dasar Keuskupan Agung Semarang, yang merupakan pernyataan kehendak Allah dalam Gereja Lokal. Dalam usaha tersebut, umat Allah berusaha untuk menjadi Gereja yang relevan dan signifikan di tengah-tengah dunia zaman ini melalui reksa pastoral yang melibatkan, mengembangkan dan memberdayakan berdasarkan data dan dinamika pastoral yang khas maupun yang ditawarkan oleh Keuskupan Agung Semarang. Oleh karena itu, dalam mendukung reksa pastoral tersebut, dinamika umat Allah Paroki Santa Maria sungguh nyata dalam bidang-bidang pelayanan, yang berada dalam Dewan Paroki agar apa yang direncanakan dan dilaksanakan dapat selaras dan mencapai target yang visioner yang tertuang dalam Visi Misi Paroki.


1. Tahun 1950-1964: Benih itu Mulai Bertumbuh.
Umat Katolik Kartasura mulai tumbuh dan berkembang ketika beberapa orang memilih dan mengutus Fransiscus Xaverius Suharto untuk memohon kepada Rama Paroki Santo Petrus Purwosari agar berkenan memberi pelajaran agama di rumah keluarga Yosef Priyosudarmo di kampung Pucangan RT. 01 RW. 11 Kartasura. Pada waktu itu, ada sepuluh orang yang menjadi murid calon baptis.
Seiring dengan berpindahnya SGB Negeri Simo Boyolali ke Kartasura dan menjadi SMP Negeri I Kartasura, tampil guru-guru agama (katekis) handal seperti Fransiscus Xaverius Tirtosudarmo dan Caecilia Kunmaryatin. Katekis Caecilia Kunmaryatin ini bertempat tinggal di rumah keluarga Yosef Priyosudarmo dan di kemudian hari menjadi seorang biarawati yang bernama Suster Caecilio, CB.
Umat Katolik semakin berkembang tidak hanya di Kartasura, tetapi juga di daerah sekitarnya seperti: Singopuran, Ngabeyan, Gembongan, Makamhaji, Pabelan, Gumpang, Gebyok, Mayang, Sawit, Banyudono, Colomadu, Kompleks AURI, Kompleks RPKAD, dan sekitarnya.
Kecuali itu, semakin banyak pula yang terlibat aktif dalam kegiatan pembinaan iman dan pendampingan umat. Tokoh umat yang terlibat tersebut antara lain SY. Sumardi, Donatius Yohanes Salamto, Fransiscus Xaverius Samno, Y. Suwito, A.J. Suhardjo, Sumardjan, Sumantri, Gregorius Hardopadmono, dan Felix Yohanes Surachmad.

2. Stasi Menuju Paroki (1964 – 1970)
Berkat pertumbuhan dan perkembangan umat yang membanggakan, pada tahun 1964 umat Katolik Kartasura mendapat status Stasi dari Paroki St. Petrus Purwosari dan Rama Franciscus Paulus Huneker, MSF berkenan menetap di rumah Kel. A.J. Suhardjo. Sedangkan sebagai ketua stasi adalah Fransiskus Xaverius Tirtosudarmo dibantu oleh SY. Sumardi, Franciscus Xaverius Suharto dan Felix Yohanes Surachmad.

2.1 Perayaan Ekaristi Pertama
Karena sesuatu hal, tempat pembinaan iman dipindah di pendopo rumah keluarga Reksohardjono (orangtua Y. Suyamji dan Christina Hedwigis Elisabeth Sri Hetmi), 100 meter sebelah barat GKI Kartasura. Di tempat itulah Perayaan Ekaristi yang pertama kali diadakan untuk umat Katolik Kartasura. Rama Franciscus Paulus Huneker, MSF berkenan memimpin Ekaristi yang dihadiri oleh umat dari Kartasura dan sekitarnya.

2.2 Di atas batu karang ini, Ku-dirikan Gereja-Ku.
Rencana pembentukan Paroki secara resmi disampaikan Rama Franciscus Paulus Huneker, MSF kepada Bapak Kardinal Yustinus Darmoyuwono di Semarang. Sebagai tindak lanjut dibelinya tanah seluas 1.250 m2 di sebelah utara Beteng Kartasura (sebelah Timur SMP Muhammadiyah Kartasura).
Selanjutnya pada th 1967 dibelinya tanah seluas 200 m2 di jalan Slamet Riyadi 25 Kartasura, yang pada waktu itu ditempati oleh Sekolah ST-2 dan STM Pancasila. Setelah diperoleh kesepakatan antara Rama Franciscus Paulus Huneker, MSF dan Kepala Sekolah, bangunan sekolah dipindahkan ke tanah milik PGPM yang berada di sebelah utara Beteng Kartasura dan untuk sementara bisa dipergunakan untuk kegiatan belajar-mengajar ST-2 dan STM Pancasila. Kesepakatan ini dikuatkan oleh pihak Keuskupan Agung Semarang yang memberikan izin Hak Guna Bangunan (HGB).
Hal tersebut tentu saja tidak melupakan usaha keras Franciscus Xaverius Suharto selaku wakil dari Gereja dan Takyin Suwarno dari Yayasan Pancasila Kartasura yang diutus secara khusus ke Semarang untuk membicarakannya. Izin HGB diberikan untuk waktu yang tidak terbatas dengan syarat jika ditelantarkan akan dicabut oleh yang berwenang, yaitu Keuskupan Agung Semarang. Dalam perkembangan selanjutnya STM Pancasila berubah menjadi SMK Pelayaran Kartasura.

2.3 Pembentukan Dewan Paroki
Pada tanggal 16 Juni 1968 terbentuklah Dewan Paroki Kartasura yang diketuai oleh I. Sumantri dengan pastor Paroki Franciscus Paulus Huneker, MSF. Sekretaris I: A. Subadi, Sekretaris II: Karel Yosef Moehardjo, Bendahara: V. Hadisumarto. Saat itu paroki Kartasura terdiri dari 7 wilayah yaitu: Kartasura, Banyudono, Gembongan, Gebyok, Pucangan, Kompleks RPKAD dan Kompleks AURI-Colomadu dan sekitarnya.
Kemudian berdasarkan surat pernyataan Front Katolik Kartasura tertanggal 1 Desember 1968 dan pernyataan Dewan Paroki pada sidangnya tertanggal 8 Desember 1968, maka diputuskan untuk penyegaran Pengurus Dewan yang lama dan dipilih Dewan yang baru dengan pelindung/penasehat: Pastor paroki (Franciscus Paulus Huneker, MSF) dan dr. Kristiawan Sidharta. Sedangkan, Ketua I adalah AH. Soewito, ketua II : Fransiscus Xaverius Soetartono, Sekretaris I: Karel Yosef Moehardjo, Sekretaris II: J. Goenawan dan Bendahara; V. Hadisoemarto.

2.4 Pembangunan Gedung Gereja
Pada tanggal 10 Pebruari 1970 dengan Surat Kuasa no: SK-03-KAT/2/1970 Dewan Paroki Kartasura memberikan kuasa kepada Ignatius Soemedi sebagai Ketua Pembangunan Gereja Katolik Kartasura. Selanjutnya pada tanggal 14 Pebruari 1970, Panitia Pembangunan Gereja mengajukan Surat Permohonan Izin membangun gereja kepada Bupati Sukoharjo. Dan pada tanggal 2 Mei 1970 diterimalah surat balasan dari Bupati Sukoharjo yang menyatakan bahwa Pemerintah Daerah Sukoharjo tidak berkeberatan untuk dilaksanakannya pembangunan gereja Kartasura.
Pada tanggal 1 Desember 1969 dimulai pembangunan gedung gereja yang disiapkan oleh Yosef Suratno selaku Ketua Panitia Pelaksana pembangunan dan pemilik CV. Daryono, Surakarta. Sebagai sumber dana awal diperoleh dari Rama Franciscus Paulus Huneker, MSF dan hasil penjualan kalender Gereja serta sumbangan donatur dari kalangan intern umat.
Peletakan batu pertama gedung gereja dan pastoran dilaksanakan oleh Rama Franciscus Paulus Huneker, MSF pada tanggal 17 Maret 1970, dan pada awal bulan Oktober 1970 pembangunan fisik dinyatakan selesai. Sebagaimana biasa dialami di banyak daerah, pembangunan gereja Kartasura juga menghadapi masalah yang berhubungan dengan perizinan. Hubungan yang memanas antara pihak Gereja dan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Sukoharjo sempat membuat kemarahan sebagian umat katolik; bahkan Bapak Ignatius Soemedi dari Kopassus pernah memerintahkan anak buahnya untuk menjaga gereja dari pembongkaran yang akan dilakukan oleh pihak DPU.

2.5 Pemberkatan dan Peresmian Gedung Gereja
Pada tanggal 20 Desember 1970 dibentuklah Panitia Pemberkatan gereja Katolik Kartasura dengan Ignatius Soemedi sebagai Ketua I dan J. Husein Wiradarma sebagai Ketua II. Sedang sekretaris dipegang oleh Karel Yosef Moehardjo dan AJ. Soehardjo, Bendahara : AH. Soewito dan Fransiscus Xaverius Samno.
Pemberkatan dan peresmian gereja Santa Maria Kartasura dipimpin oleh Uskup Agung Semarang Bapak Kardinal Yustinus Darmoyuwono pada tanggal 9 Januari 1971. Tamu undangan yang hadir adalah : Bapak dan Ibu Bupati Kepala Daerah Sukoharjo yang berkenan menerima kunci dari Pastor Paroki kemudian membuka pintu gereja dan memberikan sambutan, Kepala KUA Kabupaten Sukoharjo yang berkenan memberikan sambutan.

3. Paroki Santa Maria Kartasura
Pada tanggal 9 Januari 1971, Gereja Santa Maria Kartasura secara resmi lepas dari Paroki Santo Petrus Purwosari dan Rama Franciscus Paulus Huneker, MSF ditunjuk sebagai Pastor Kepala Paroki yang pertama kali. Mulai hari itu juga semua urusan dan pencatatan administrasi paroki menjadi tanggungjawab sendiri. Terhitung mulai tanggal 1 Agustus 1971 Dewan paroki Kartasura mengalami perubahan dengan Ketua: Rama Franciscus Pau-lus Huneker, MSF dan Wakil Ketua: Ignatius Soemedi, Sekretaris: G. Zaeni dan JP. Soenarjo, Keuangan: Karel Yosef Moehardjo. Paroki Santa Maria Kartasura mulai berkembang menjadi 10 wilayah yaitu: Kartasura I, Kartasura II, Kartasura III, Gembongan, Gebyok, Colomadu, Banyudono, Pucangan, Kompleks AURI dan Sawit, dan 3 stasi yaitu: stasi Jati (Gawok), Mayang dan Blulukan. Stasi Mayang dan Gawok ini diserahkan oleh Paroki St. Petrus Purwosari pada tahun 1972. Sedangkan Stasi Sawit diserahkan oleh Paroki St. Yohanes Rasul Delanggu pada tahun 1976. Stasi Banyudono diserahkan oleh Paroki Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria Boyolali pada tahun 1976.

3.1 Paroki dalam Reksa Pastoral Tarekat MSF (1971-1993)
Sejak awal berdirinya, Paroki Santa Maria Kartasura dilayani oleh rama-rama dari Tarekat Misionaris a Sacra Familia (MSF). Mereka adalah: Rama Franciscus Paulus Huneker, MSF; Q van der Bosch, MSF (yang melayani selama Rama Franciscus Paulus Huneker, MSF cuti pulang ke negeri Belanda); A. Tjokroatmojo, MSF; Robertus Bellarminus Pranatasurya, MSF; Franciscus Assisi Tedjasuksmana, MSF; Franciscus Xaverius Darmosuwito, MSF; Franciscus Assisi Suryosunaryo, MSF; Stanislaus Cahyo Yosoutomo, MSF; Adrianus Van Der Peet, MSF; Johanes Hardiwiratno, MSF dan Paulus Yasa Widharta, MSF.
Pada masa Rama Adrianus Van Der Peet, MSF menjabat sebagai pastor kepala paroki (1992), bangunan fisik gereja dilengkapi dengan Gedung Pertemuan yang diberi nama: “Ruang Adrianus”. Adrianus adalah nama baptis Rama Adrianus Van Der Peet, MSF. Bangunan gedung yang berada di belakang bangunan gereja induk ini cukup kuat, sangat dikenal dan bermanfaat untuk umat. Umat sering menggunakannya sebagai tempat pertemuan dan kegiatan-kegiatan lain.

3.3 Paroki dalam Reksa Pastoral Imam Diosesan KAS (1993 – 2008)
Pada bulan September 1993 reksa pastoral diserahkan kepada Keuskupan Agung Semarang, dan Rama Laurentius Wiryadarmaja, Pr. adalah pastor diosesan pertama yang berkarya di paroki ini. Bulan April 1999, Rama Laurentius Wiryadarmaja, Pr. memasuki masa pensiun dan tetap tinggal di Pastoran Kartasura. Jabatan Pastor Kepala Paroki Santa Maria Kartasura berturut-turut diberikan kepada rama-rama: Medardus Sapta Margana, Pr., Maternus Minarto. Pr, Franciscus Xaverius Suyamta Kirnasucitra, Pr. dan Robertus Hardiyanta, Pr.
Pada tahun 1999, lingkungan gereja diperluas lagi dengan membeli tanah baru di sebelah utara gereja. Di atas tanah yang dibeli dari warga ini dibangun gedung pastoran yang baru menggantikan ruang pastoran lama yang berada di sebelah timur gedung gereja induk. Untuk mengenang Rama Laurentius Wiryadarmaja, Pr. yang bertempat tinggal di Pastoran Kartasura selama 13 tahun, bangunan pastoran yang baru ini diberi nama: “Pastoran Laurentius”. Laurentius adalah nama baptis Rama Laurentius Wiryadarmaja, Pr.
Kehadiran Rama-rama diosesan di Paroki Kartasura dirasakan sebagai angin segar bagi umat. Banyak umat diberi kesempatan untuk terlibat dalam hidup menggereja sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Berkat kerja sama yang baik antara rama paroki dan umat dimungkinkan kehidupan umat lebih tertata, sebagaimana juga terlihat dari bangunan-bangunan di kompleks gereja yang nampak semakin rapi dan menarik. Ruang-ruang direhab supaya bisa dimanfaatkan (ruang misdinar, ruang dapur, kamar mandi dan WC), termasuk pembangunan kembali gua Maria, yang diberi nama: “Gua Maria Ratuning Katentreman” (tahun 2007).

4. Wajah Paroki Santa Maria Kini.
Secara geografis wilayah Paroki Kartasura meliputi sebagian dari 3 Kabupaten, yaitu Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Karanganyar. Dalam perkembangannya, Paroki Santa Maria Kartasura dibagi dalam wilayah-wilayah yang terdiri dari 13 wilayah, yakni Colomadu, Adisumarmo, Blulukan, Gonilan, Gembongan, Kartasura 1, Kartasura 2, Kartasura 3, Banyudono, Sawit, Gawok, Gebyok dan Mayang.
Pada tahun 2002 wilayah khusus Adisumarmo, yang hampir semua umatnya adalah anggota TNI, mengalami penurunan jumlah secara drastis karena mutasi. Umat di daerah Mangu mulai memisahkan diri dari wilayah Adisumarmo dan membentuk wilayah baru yang dinamakan wilayah Panasan Baru, yang pada bulan Januari 2008 berganti nama menjadi wilayah Ngemplak. Selanjutnya sebagian umat wilayah khusus Adisumarmo yang masih tersisa bergabung menjadi satu dengan wilayah Colomadu. Dengan demikian Paroki Santa Maria Kartasura tetap terdiri dari 13 wilayah.
Pada akhir tahun 2006 wilayah Colomadu dimekarkan menjadi dua wilayah, yaitu menjadi Wilayah Colomadu I dan Colomadu II, sehingga menapaki tahun baru 2007 Paroki Santa Maria Kartasura mempunyai 14 wilayah. Dari 14 wilayah tersebut ada 6 wilayah yang memiliki bangunan kapel, yaitu: Colomadu, Mayang, Blulukan, Gawok, Banyudono dan Sawit.
Pada awal tahun 2006 umat Katolik di Paroki Santa Maria Kartasura berjumlah 3.850 orang, terdiri dari berbagai tingkat pendidikan, yaitu: pendidikan dasar, lanjutan dan sarjana. Mereka ini bekerja sebagai petani, wiraswasta, pegawai negeri sipil dan TNI/POLRI. Pada awal tahun 2007, jumlah umat Katolik bertambah menjadi 3.889 orang. Jumlah umat Katolik terus bertambah, dengan adanya baptisan baru dan orang-orang yang karena pernikahan kemudian berpindah memeluk agama Katolik. Awal tahun 2008, jumlah umat Katolik Paroki Santa Maria Kartasura ada 3.952 orang.


PROFIL PAROKI SANTA MARIA KARTASURA.

Profil paroki merupakan uraian mengenai paroki yang memberikan gambaran umum bagaimana hidup dan dinamika umat Allah Paroki Santa Maria Kartasura. Dalam profil ini akan diuraikan gambar teritorial, sosial dan ekonomi umat, gambaran gereja Paroki, gambaran tata penggembalaan dan tata kelola keuangan,dan gambaran dinamika iman umat.

1. GAMBARAN TERITORIAL, SOSIAL DAN EKONOMI UMAT.

Secara geografis, wilayah Paroki Santa Maria Kartasura memiliki jarak bentangan (ditarik garis lurus) utara-selatan sekitar 20km, dan barat-timur 25km, dan gereja Paroki terletak di tengah-tengahnya sehingga pelayanan pastoral di lingkungan-lingkungan cukup dekat kurang lebih 10km dari gereja Paroki. Keadaan alam di wilayah Kartasura cukup aman baik dari bahaya banjir dan tanah longsor. Sebagian besar wilayah merupakan dataran yang banyak dijadikan perumahan, dan sebagian lain masih berupa lahan persawahan. Jalan-jalan di wilayah Paroki sebagian besar atau hampir seluruhnya sudah dalam keadaan beraspal dan cukup mudah untuk dijangkau dalam memenuhi pelayanan kepada umat. Akan tetapi, jalur transportasi umat untuk ke Gereja Paroki tidaklah mudah. Umat di wilayah Blulukan, Colomadu, Ngemplak, Gonilan, Banyudono, Sawit, Gawok dan Mayang serta Gebyok, sebagian yang tidak memiliki kendaraan pribadi cukup kesulitan karena harus menempuh transportasi beberapa kali. Hal ini yang menjadikan sebagian kecil umat kesulitan untuk mengikuti perayaan Ekaristi setiap hari minggu atau memilih mengikuti perayaan Ekaristi di Paroki lain. Akan tetapi, hal yang mendukung sebagian besar umat dapat mengikuti perayaan Ekaristi dan kegiatan-kegiatan di tingkat Paroki adalah bahwa mereka banyak yang memiliki kendaraan pribadi baik sepeda onthel, sepeda motor, maupun mobil.
Secara teritorial, wilayah Paroki Kartasura terletak di tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Karanganyar. Hal ini berpengaruh dalam pelayanan pastoral umat pada khususnya pelayanan perkawinan sipil, yang kadangkala antar kabupaten memiliki kebijakan yang berbeda satu dengan yang lain.
Secara ekonomi dan sosial, wilayah Paroki menjadi pintu masuk ke kota solo pada khusunya dari arah Semarang maupun dari Yogyakarta. Hal ini didukung dengan jalur jalan raya antar kota yang bertemu di wilayah Paroki Santa Maria, yaitu jalur segitiga emas, Yogyakarta-Solo-Semarang (YSS). Jalur ini tentu saja berpengaruh bagi kehidupan masyarakat maupun juga umat paroki, yang sebagian besar adalah karyawan swasta dan PNS yang bekerja di sekitar Sukoharjo, Karangayar maupun Solo. Sebagian kecil yang lain adalah wiraswasta baik pertokoan maupun perusahaan tertentu; dan sebagian lagi yaitu petani. Umat yang bermata pencaharian sebagai petani sebagian besar berdomisili di wilayah bagian selatan dan Barat Paroki yaitu wilayah Gebyok, wilayah Mayang, wilayah Gawok, dan wilayah Sawit, serta sebagian wilayah Banyudono. Sedangkan umat yang bermatapencaharian sebagai karyawan, PNS dan pengusaha berada di wilayah “perkotaan” kecamatan Kartasura, Colomadu, Ngemplak dan sebagian Banyudono. Situasi perekonomian umat pada umumnya adalah menengah, sebagian kecil masuk golongan kaya, dan sebagian lainnya lagi masuk dalam golongan miskin.
Selain itu, di wilayah Paroki Kartasura juga terdapat dua kekuatan militer Nasional yaitu Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dan Angkatan Udara (AU), serta bandara yang telah bertaraf Internasional.

2. GAMBARAN GEREJA PAROKI

Menurut data statistik paroki pada awal 2009, jumlah umat Paroki Santa Maria ada 4.031 orang, yang berada dalam empatpuluh satu lingkungan di empatbelas wilayah.

1 KARTASURA I
Lingkungan Maria – Pucangan
Lingkungan Ignatius – Perum Pucangan Baru I dan II
2 KARTASURA II
Lingkungan Yosep – SedahRama Ngalun-alun
Lingkungan Paulus – Kertonatan
Lingkungan Ignasia – Kebonan
3 KARTASURA III
Lingkungan Yosef – Widyapura
Lingkungan Paulus – Singopuran
Lingkungan Yohanes – Wikarta
4 GEBYOK
Lingkungan Paulinus – Ndaratan
Lingkungan Yohanes – Ngemplak
5 MAYANG
Lingkungan Filipus – Mayang Timur
Lingkungan Petrus – Mayang Utara
Lingkungan Xaverius – Mayang Tengah
Lingkungan Stefanus – Buda Mayang
Lingkungan Yohanes – Nampan Mayang
6 GAWOK
Lingkungan Antonius – Bedodo
Lingkungan Ignasius – Jati
Lingkungan Albertus – Krajan
7 SAWIT
Lingkungan Yohanes – Bendosari
Lingkungan Paulus – Gombang
8 BANYUDONO
Lingkungan Stanislaus – Banyudono Utara
Lingkungan Fransiskus Xaverius – Banyudono Selatan
9 NGEMPLAK
Lingkungan Matias – Mangu
Lingkungan Andreas – Dibal
10 COLOMADU I
Lingkungan Lukas – Gajahan
Lingkungan Agustinus – Banukan
Lingkungan Mikael – Klegen
Lingkungan Yustinus – Bolon
11 COLOMADU II
Lingkungan Cicilia – Maduasri
Lingkungan Fransiskus – Gedongan
Lingkungan Antonius – Gawanan
Lingkungan Thomas – Paulan
Lingkungan Elisabet – Krambilan
12 BLULUKAN
Lingkungan Maria – Sanggung
Lingkungan Yosef – Blulukan
13 GONILAN
Lingkungan Maria – Nilasari
Lingkungan Fransiskus – Nilagraha
14 GEMBONGAN
Lingkungan Benediktus – Jahidan
Lingkungan Bernardinus – Tegal Mulyo
Lingkungan Yohanes – Tembangan
Lingkungan Laurentius – Ngadijayan

Paroki Santa Maria memiliki enam kapel yang berada di wilayah, yaitu Kapel Santo Yohanes di wilayah Banyudono, Kapel Santo Yosef di wilayah Mayang, Kapel Kristus Raja di wilayah Gawok, Kapel Santo Petrus di wilayah Colomadu, Kapel Santo Paulus di wilayah Blulukan, dan Kapel Santa Maria Goretti di wilayah Sawit. Dari kapel-kapel tersebut, empat kapel telah mendapatkan pelayanan rutin Perayaan Ekaristi hari Minggu setiap bulan, yaitu Kapel Santo Petrus Colomadu (setiap hari Sabtu I pukul 19.00), Kapel Santo Yosef Mayang (setiap hari Minggu II pukul 07.00), Kapel Kristus Raja Gawok (setiap hari Minggu III pukul 07.00), dan Kapel Santo Paulus Blulukan (setiap hari Minggu I pukul 07.00). Paroki Santa Maria memiliki satu tempat devosi kepada Santa Maria, yaitu Gua Maria Ratuning Katentreman yang terletak di kompleks gereja.
Gereja Paroki memiliki lima kelompok kategorial yaitu Paduan Suara Signum Magnum, Paduan Suara Gruppe Talenta, Persekutuan Doa Karismatik Santo Mikael, Kelompok Janda-Janda Santa Monika, dan Paguyuban Orang Tua Terpanggil; serta satu organisasi yaitu Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI). Karya pastoral khusus yang menjadi tanggungjawab Paroki, melalui Yayasan Santa Maria adalah Kelompok Bermain Santa Maria dan Sekolah Taman Kanak-Kanak Kanisius Santa Maria, Kartasura dan Sekolah Taman Kanak-Kanak Kanisius, Mayang dan Sekolah Dasar Kanisius, Mayang. Melalui sekolah ini secara khusus pengenalan iman Katolik dan pembinaanya sungguh efektif. Hal ini ditandai dengan adanya baptisan-baptisan baru melalui sekolah ini.

3. GAMBARAN TATA PENGGEMBALAAN DAN TATA PENGELOLAAN KEUANGAN PAROKI.

Pengembangan pelayanan pastoral umat mulai ditingkatkan dalam perjalanan waktu tahun 2007 yang ditandai dengan efektifitas pengurus-pengurus umat di tingkat lingkungan dan Dewan Paroki. Efektifitas kepengurusan tingkat lingkungan didukung oleh pelayanan misa lingkungan setiap dua bulan sekali untuk masing-masing lingkungan. Efektifitas pengurus lingkungan ditandai pula dengan kelengkapan pengurus lingkungan baik dalam kepengurusan harian maupun juga tim-tim kerja yang diperlukan dalam lingkungan. Berbagai pelayanan pastoral khususnya sakramental juga dilakukan lewat prosedur di tingkat lingkungan seperti surat-surat pengantar dan surat keterangan umat untuk penerimaan sakramen-sakramen Gereja. Informasi-informasi kegiatan tingkat Paroki juga dilakukan melalui lingkungan-lingkungan. Hal ini semakin menunjukkan dinamika hidup pelayanan dan iman umat yang semakin tumbuh dan berkembang dalam keterlibatan serta usaha bersama membangun gereja yang komunio serta seturut teladan Santa Maria, mengembangkan pelayanan yang rendah hati dan murah hati. Gerak bersama melalui lingkungan-lingkungan sungguh efektif dan efesien sehingga termasuk program-program Dewan Paroki yang akan dilaksanakan menjadi semakin terdukung olehnya.
Pada tingkat Dewan Paroki, kelengkapan personalia Dewan Paroki juga menjadi salah satu target yang telah berhasil agar melalui personalia yang lengkap, pelayanan pastoral semakin berdaya guna dan melibatkan banyak orang. Bersama dan dalam pendampingan Romo Paroki, Dewan Paroki berusaha mewujudkan Gereja yang signifikan dan relevan selaras dengan Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki Santa Maria Kartasura, yang telah disahkan pada tanggal 30 Juli 2008 yang lalu. Usaha tersebut diwujudkan melalui peningkatan tata penggembalaan yang mengembangkan, memberdayakan dan melibatkan; tata kelola keuangan yang transparan dan akuntabel yang ditandai dengan sistem pelaporan keuangan dengan menggunakan General Ledger (GL) Paroki, sistem perencanaan, pelaporan dan evaluasi pertanggungjawaban program kerja oleh kepanitiaan maupun tim-tim kerja; serta juga pertemuan-pertemuan rutin yang secara kontinu dilaksanakan untuk memonitor gerak dan langkah Dewan Paroki dari waktu ke waktu.
Dalam usaha-usaha tersebut senantiasa mengarah pada gerak dan langkah Keuskupan Agung Semarang pada khususnya pada fokus-fokus pastoral tahunan, yang dicanangkan oleh Keuskupan Agung Semarang, dalam seluruh dinamika kehidupan umat dan keterlibatannya. Dan Pada tahun 2010 ini, gerak dan langkah Dewan Paroki bersama umat juga berusaha untuk mengarah pada fokus pastoral Tahun Syukur, “Terlibat Berbagi Berkat” yang senantiasa digaungkan dalam berbagai macam kesempatan baik melalui perayaan Ekaristi maupun juga pertemuan-pertemuan di tingkat lingkungan, wilayah dan Paroki. Kesadaran sebagai bagian dari Keuskupan Agung Semarang juga ditunjukkan dengan pengiriman Dana Solidaritas Paroki (DSP) serta kewajiban-kewajiban khusus paroki dengan tepat waktu.

4. GAMBARAN DINAMIKA IMAN UMAT.

Dinamika iman kehidupan umat sendiri sungguh tampak nyata, khususnya kehidupan menggereja yang kelihatan dalam setiap perayaan Ekaristi yang diikuti. Baik perayaan Ekaristi di tingkat lingkungan, wilayah maupun juga Paroki serta misa ujub, umat yang hadir semakin banyak. Keterlibatan umat dalam perayaan Ekaristi juga semakin meningkat baik dalam pelayanan kor tingkat lingkungan, paguyuban pemazmur dan lektor, maupun juga tema-tema misa yang diajukan oleh lingkungan-lingkungan dalam perayaan Ekaristi lingkungan. Hal ini tentu menjadi tanda yang nyata bahwa umat semakin bertumbuh dan berkembang dalam iman, harapan dan kasih untuk mewujudkan Kerajaan Allah yang memerdekakan berdasar iman yang mendalam, seperti termaktub dalam visi paroki.
Hal lain yang patut disyukuri dalam usaha pengembangan iman umat, pada khususnya pengetahuan iman, tim liturgi paroki juga telah mengembangkan panduan perayaan Ekaristi hari Minggu dalam format buku kecil, yang disebut “Pepadhang”. Pengembangan buku panduan ini dimulai pada hari komunikasi sedunia tahun 2008 tepatnya hari Minggu tanggal 04 Mei 2008. Dalam “Pepadhang” ini selain tercantum Tata Perayaan Ekaristi hari minggu, juga berbagai macam pengetahuan iman dituliskan baik oleh tim liturgi paroki (tim kerja pepadhang) maupun juga dari umat. Pengetahuan iman tersebut antara lain, ulasan kitab suci hari Minggu yang bersangkutan, cerita-cerita rohani yang inspiratif, kisah santo-santa, surat-surat gembala, doa-doa bersama seperti doa syukur tahun imam, doa syukur Keuskupan Agung Semarang, juga pengetahuan iman sakramental seperti seputar perayaan Ekaristi, Perkawinan, katekese dan lain sebagainya. Memang belum diteliti secara serius bagaimana dampak dari “Pepadhang” ini. Namun, dari beberapa umat yang pernah mengungkapkannya, sebagian umat merasa terbantu dan bahkan “Pepadhang” ini menjadi “bacaan rohani” yang inspiratif, sehingga banyak umat yang mengumpulkan “Pepadhang” ini. Hal ini berdampak positif pula bagi gereja, bahwa tidak ada kertas yang terbuang percuma (berserakan di dalam gereja setiap kali usai perayaan Ekaristi), tetapi sungguh dipelihara dan disimpan oleh umat sebagai sarana pengembangan iman.
Pendampingan-pendampingan anak-anak (PIA), remaja (PIR) dan kaum mudai (OMK) juga terus digalakkan melalui program-program kerja Dewan Paroki. Setiap hari Minggu baik di tingkat Paroki maupun lingkungan pendampingan PIA secara rutin dilakukan. Pendampingan PIR selama ini masih melalui pendampingan Misdinar baik di tingkat wilayah maupun Paroki. Baru pada tahun 2010 ini secara khusus tim kerja PIR diisi personalianya. Sedangkan pendampingan OMK lebih hidup di tingkat wilayah dan lingkungan. Pendampingan-pendampingan yang lain, khususnya persiapan penerimaan sakramen seperti baptis, krisma, komuni pertama dan perkawinan juga secara rutin dilaksanakan. Pendampingan persiapan baptis bayi dilakukan setiap tiga bulan sekali yaitu pada hari Minggu Pertama. Pelaksanaan baptisan bayi dilaksanakan pada setiap tiga bulan sekali pada hari Minggu kedua. Sedangkan untuk pendampingan baptis dewasa, dilaksanakan sepanjang tahun baik ditingkat lingkungan, wilayah dan paroki pada hari Minggu sesudah perayaan Ekaristi. Pendampingan persiapan komuni pertama juga dilaksanakan sepanjang tahun setiap hari Minggu setelah perayaan Ekaristi. Pendampingan persiapan Perkawinan secara khusus telah dimulai pada pertengahan tahun 2009 yang ditandai dengan terbentuknya tim Kursus Persiapan Perkawinan (KPP). Kursus Persiapan Perkawinan dilaksanakan dua bulan sekali pada minggu kedua, hari Senin sampai dengan hari Rabu.
Pendampingan-pendampingan ini sungguh sangat membantu umat di dalam persiapan menerima sakramen-sakramen Gereja. Melalui pendampingan tersebut umat sungguh dipersiapkan secara rohani dimana iman ditumbuh-kembangkan dan pengetahuan iman diperluas. Dalam dinamika pendampingan tersebut, keterlibatan umat juga tampak baik dari orangtua, peserta maupun dari tim pendamping sendiri.

5. POTENSI DAN KEPRIHATINAN PAROKI.

Paroki Santa Maria Kartasura menurut data statistik awal tahun 2009 mempunyai jumlah umat sebanyak 4.031 orang. Umat sejumlah itu, menurut komposisi usia terdiri dari 306 anak-anak usia 0 – 7 tahun [7,80%]; 224 remaja usia 8 – 13 tahun [5,56%]; 613 Orang Muda Katolik usia 14 – 35 tahun [15,20%]; dan 2.888 orang tua dan lansia [71,64%]. Hal ini menunjukkan bahwa hampir sepertiga dari jumlah umat adalah anak-anak, remaja, dan orang muda [28,35%].
Dari sejumlah umat yang terus bertambah tersebut, harapan ke depan Gereja Paroki tampaknya akan terus meningkat dengan terus adanya baptisan baru yang setiap tahunnya terjadi antara 35-50 orang baptisan dewasa, dan sekitar 40-50 baptisan bayi, dibandingkan dengan jumlah kematian dan perpindahan umat paroki. Keterlibatan umat di dalam kehidupan menggereja yang terus tumbuh juga semakin menambah semarak dan kehidupan Gereja baik di tingkat lingkungan, wilayah maupun juga paroki. Hal ini tampak dalam kepengurusan-kepengurusan mulai dari tingkat lingkungan sampai dengan Dewan Paroki yang semakin memperlihatkan semangat kerjasama dalam tim-tim kerja yang melibatkan serta memberdayakan semua umat.
Masyarakat yang pluralis di mana Gereja Santa Maria hidup dan ikut terlibat merupakan hal yang pantas pula disyukuri di mana relasi yang baik serta kerjasama yang terjalin menjadi harapan yang besar untuk semakin membuat Gereja Santa Maria tumbuh dan ikut serta membagikan berkatnya bagi masyarakat. Hal ini sangat tampak dalam kesediaan warga sekitar, khususnya warga RT Giringan dan RT Pucangan yang setiap hari Sabtu dan Minggu bersedia lahannya menjadi tempat untuk parkir kendaraan umat selama umat merayakan perayaan Ekaristi, termasuk juga ketika hari-hari raya dan ulang tahun paroki. Hal ini berkaitan dengan semakin tidak memadahinya ruang parkir bagi kendaraan umat di lahan gereja, dimana sebagian besar kendaraan umat berada di luar kompleks gereja.
Situasi lahan untuk parkir yang semakin tidak memadahi ini di satu pihak menjadi keprihatinan Gereja yang telah dirasakan selama beberapa tahun terakhir ini. Di lain pihak, Gereja juga tetap memiliki pengharapan akan teratasinya keprihatinan ini dengan adanya tawaran-tawaran dari warga sekitar gereja (sebelah timur dan barat batas kompleks Gereja) yang telah menawarkan tanahnya untuk Gereja. Tentu saja, ini menjadi pengharapan yang besar bahwa tanah-tanah tersebut dapat dimilliki oleh Gereja. Harapan tersebut mulai direalisasikan dengan pembelian pertama tanah baru pada awal tahun 2008 yang lalu. Semenjak itu, umat terus menggalang dana untuk pembelian-pembelian tanah berikutnya meskipun sungguh disadari, dana yang terus digalang masih jauh dari cukup untuk merealisasikan pengharapan itu.
Kerjasama, keterlibatan dan pemberdayaan yang terus menerus ditumbuhkan dalam diri umat merupakan kekuatan yang besar untuk tercapainya kehidupan Gereja serta sarana dan fasilitas pendukung yang semakin memadai. Kehidupan umat pun dirasakan semakin dinamis dan guyub dalam berbagai kegiatan yang semakin meningkat baik di tingkat paroki maupun juga lingkungan. Kegiatan-kegiatan rutin telah menjadi habitus dalam kehidupan menggereja umat di tingkat lingkungan. Semua lingkungan menggunakan hari Selasa dan Kamis, atau Jumat khusus untuk kegiatan menggereja seperti pendalaman iman, pendalaman kitab suci, latihan kor, PIA, OMK dan pertemuan lingkungan. Sedangkan di tingkat paroki, hari Rabu menjadi hari paroki, yang digunakan untuk rapat-rapat atau pertemuan di tingkat paroki.
Semuanya itu tentu tidak bisa dilepaskan dari semangat dan spiritualitas yang terus dikembangkan dalam diri umat yang meneladan Santa Maria, khususnya yang rendah hati dan murah hati dalam pelayanan. Semangat dan spiritualitas itulah yang memberikan kekuatan dalam diri umat untuk membangun kehidupan menggereja terus meningkat dan juga keterlibatan di tengah-tengah masyarakat semakin berdaya guna. Semoga, tahun syukur ini semakin membawa berkat bagi Gereja Santa Maria dan khususnya bagi masyarakat sekitar agar Gereja sungguh terlibat dan membagikan berkat-Nya bagi semua orang karena Allah baik kepada semua orang.

6. STATUS KELEMBAGAAN GEREJAWI

Pada tanggal 9 Januari 1971, Gereja Santa Maria Kartasura secara resmi lepas dari Paroki Santo Petrus Purwosari dan Rama Franciscus Paulus Huneker, MSF ditunjuk sebagai Pastor Kepala Paroki yang pertama kali. Sejak saat itu juga semua urusan dan pencatatan administrasi paroki menjadi tanggungjawab sendiri. Dalam perjalanan sejarah, paroki telah mengalami pergantian, baik romo paroki maupun kepengurusan Dewan Paroki. Salah satu bagian sejarah paroki yang penting adalah bahwa pada bulan September 1993, reksa pastoral Paroki diserahkan oleh Tarekat Misionaris a Sacra Familia (MSF) kepada Keuskupan Agung Semarang, dengan Rm. Laurentius Wiryadarmaja, Pr sebagai romo paroki yang pertama.
Umat Allah Paroki Santa Maria Kartasura adalah bagian dari Umat Allah Keuskupan Agung Semarang (KAS) yang membangun persekutuan (communio) umat beriman yang disatukan berdasarkan kesatuan Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Sebagai bagian dari Keuskupan Agung Semarang, persekutuan umat Allah Paroki Santa Maria berada dalam batas-batas teritorial tertentu. Batas paroki Santa Maria Kartasura dengan paroki-paroki lain adalah sebagai berikut:
a. Di bagian Timur dan Tenggara, Paroki Santa Maria berbatasan dengan Paroki Santo Inigo Dirjodipuran, tepatnya yaitu Stasi Kristus Raja Solobaru.
b. Di bagian Timur dan Timur Laut, Paroki Santa Maria berbatasan dengan Paroki Santo Paulus Kleco.
c. Di bagian Utara, Barat dan Barat Laut, Paroki Santa Maria berbatasan dengan Paroki Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria Boyolali, dan Paroki administratif Hati Kudus Tuhan Yesus Simo.
d. Di Bagian Barat Daya dan Selatan, Paroki Santa Maria berbatasan dengan Paroki Santo Yohanes Rasul Delanggu.

Dalam batas teritorial pemerintahan, Paroki Santa Maria Kartasura yang terdiri dari empat belas wilayah dengan empatpuluh satu lingkungan berada dalam enam kecamatan di tiga Kabupaten, yaitu Kabupaten Boyolali, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo.

A. Kabupaten Boyolali:
a. Kecamatan Banyudono yaitu Wilayah Banyudono, yang terdiri dari lingkungan Stanislaus dan lingkungan Fransiskus Xaverius),
b. Kecamatan Ngemplak yaitu Wilayah Ngemplak, yang terdiri dari lingkungan Mateas dan lingkungan Andreas,
c. Kecamatan Sawit yaitu Wilayah Sawit yang terdiri dari lingkungan Paulus dan lingkungan Yohanes).

B. Kabupaten Karanganyar:
a. Kecamatan Colomadu, yaitu
- Wilayah Colomadu 1, yang terdiri dari lingkungan Yustinus, lingkungan Agustinus, lingkungan Mikhael, dan lingkungan Lukas;
- Wilayah Colomadu 2 yang terdiri dari lingkungan Elisabeth, lingkungan Antonius, lingkungan Thomas, lingkungan Fransiskus, dan lingkungan Sisilia.
- Wilayah Blulukan, yang terdiri dari lingkungan Maria dan Yoseph.

C. Kabupaten Sukoharjo:
Kabupaten Sukoharjo merupakan tempat di mana Gereja Paroki berdomisili. Sebagian besar wilayah Paroki Santa Maria Kartasura berada dalam teritorial Kabupaten Sukoharjo.
a. Kecamatan Kartasura, yaitu
- Wilayah Kartasura 1, yang terdiri dari lingkungan Ignatius dan lingkungan Maria;
- Wilayah Kartasura 2 yang meliputi lingkungan Yoseph, lingkungan Paulus dan lingkungan Ignatia;
- Wilayah Kartasura 3 yang meliputi lingkungan Yohanes, lingkungan Paulus dan lingkungan Yoseph;
- Wilayah Gembongan yang meliputi lingkungan Laurentius, lingkungan Benedictus, lingkungan Bernardinus dan lingkungan Yohanes;
- Wilayah Gonilan yang meliputi lingkungan Maria dan lingkungan Fransiskus;
b. Kecamatan Gatak, yaitu
- Wilayah Gebyok yang meliputi lingkungan Yohanes dan lingkungan Paulinus;
- Wilayah Mayang yang meliputi lingkungan Petrus, lingkungan Stefanus, lingkungan Yohanes, lingkungan Xaverius dan lingkungan Philipus;
- Wilayah Gawok yang meliputi lingkungan Antonius, lingkungan Albertus, dan lingkungan Ignatius.

7. KEPENGURUSAN DEWAN PAROKI SANTA MARIA.

Pada tahun 2010 ini, Paroki Santa Maria Kartasura memiliki Dewan Paroki yang baru masa bhakti 2010 – 2012, yang dilantik pada tanggal 24 Januari 2010, yang lalu. Personalia Dewan Paroki pun semakin disempurnakan dengan tim-tim kerja yang lengkap. Dengan pelantikan oleh Rm. Pius Riana Prapdi, Pr sebagai Administrator Diosesan Keuskupan Agung Semarang, Dewan Paroki baru memulai pelayanan dan tanggungjawabnya untuk membuat program kerja dan RAPB dengan langkah-langkah programasi yang visioner, yang ditawarkan oleh Keuskupan Agung Semarang. Dalam usaha tersebut, disadari bahwa Dewan Paroki Santa Maria masih dalam taraf pengenalan dan pembelajaran. Namun yang lebih pokok adalah bahwa usaha tersebut merupakan perwujudan kehendak baik yang merupakan benih yang akan dan mulai dihidupi oleh Dewan Paroki Santa Maria Kartasura, yang baru. Hal ini tampak dengan kesungguhan yang diperlihatkan oleh seluruh anggota Dewan Paroki yang sejak dilantik sampai dengan tanggal 21 Februari, setiap hari minggu bertemu bersama untuk merencanakan program-program kerja pada tahun 2010 ini, bahkan pada hari-hari lain tim-tim kerja bersama ketua bidang mengadakan pertemuan demi terwujudnya program kerja yang visioner tersebut. Dalam waktu yang mendesak, Dewan Paroki menunjukkan tekad dan menyatukan visi yang sama agar semakin menunjukkan Gereja yang Visioner pada tahun 2010 ini.

8. RUMUSAN VISI DAN MISI PAROKI

Umat Allah Paroki Santa Maria Kartasura bercita-cita semakin terlibat dalam mewartakan Kerajaan Allah yang memerdekakan dan hendak mewujudkannya dengan semakin membangun relasi persahabatan dengan Allah yang semakin erat, mengangkat martabat pribadi manusia serta melestarikan keutuhan alam ciptaan.
Kerajaan Allah yang hendak dibangun di Paroki Santa Maria Kartasura ini tetap terarah pada apa yang menjadi visi dan misi Keuskupan Agung Semarang 2006-2010, dengan tetap memperhatikan konteks, spiritualitas paroki, potensi dan keprihatinan, serta kekhasan umat Allah di Paroki Santa Maria. Umat Allah Paroki Santa Maria hendak menanggapi dan terlibat secara aktif untuk mewujudkan Kerajaan Allah tersebut pada tahun 2010 ini, secara khusus dalam usaha membangun syukur atas habitus baru yang telah tumbuh di dalam umat sebagai benih yang akan terus menerus ditumbuhkembangkan agar semakin berdaya dan berbuah bagi kehidupan. Tema “terlibat berbagi berkat” merupakan slogan yang senantiasa menjadi semangat.
Harapannya, dengan menanggapi dan membangun keterlibatan seluruh umat, teristimewa dengan memberikan kesempatan serta menumbuhkan keterlibatan anak-anak, remaja dan orang muda Katolik, umat Allah Paroki Santa Maria Kartasura semakin menjadi Gereja yang sungguh dapat dipercaya, bertanggungjawab serta sungguh berarti dan bermakna bagi Gereja dan masyarakat di sekitarnya.
Oleh karena itu, visi dan misi keuskupan, fokus pastoral 2010, potensi dan keprihatinan paroki, serta spiritualitas Santa Maria, dicerna dalam visi dan misi Paroki Santa Maria Kartasura. Hal itulah yang menjadi dasar yang kemudian diwujudkan dalam bentuk program kerja tahun 2010 sebagai acuan hidup menggereja selama tahun ini, yang dibuat berdasarkan data dan keprihatinan pastoral yang muncul dari proses refleksi dan evaluasi Dewan Paroki Harian pada khususnya dan seluruh umat pada umumnya.


8.1. ARAH DASAR UMAT ALLAH KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG 2006 – 2010.

Umat Allah Keuskupan Agung Semarang dalam bimbingan Roh Kudus berupaya semakin menjadi persekutuan pagugyuban-paguyuban murid-murid Yesus Kristus yang mewujudkan Kerajaan Allah yang memerdekakan (bdk.Luk 4:18-19). Mewujudkan Kerajaan Allah berarti bersahabat dengan Allah, mengangkat martabat pribadi manusia, dan melestarikan keutuhan ciptaan.
Dalam konteks masyarakat Indonesia yang sedang berjuang mengatasi korupsi, kekerasan, dan kerusakan lingkungan hidup, umat Allah Keuskupan Agung Semarang terlibat secara aktif membangun habitus baru berdasarkan semangat Injil (bdk. Mat 5-7). Habitus baru dibangun bersama-sama: dalam keluarga dengan menjadikannya basis hidup beriman; dalam diri anak, remaja, dan kaum muda dengan melibatkan mereka untuk pengembangan umat; dalam diri yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir dengan memberdayakannya.
Untuk mendukung upaya tersebut, umat Allah Keuskupan Agung Semarang mengembangkan pola penggembalaan yang mencerdaskan umat beriman, melibatkan perempuan dan laki-laki, memberdayakan paguyuban-paguyuban pengharapan, memajukan kerjasama dengan semua yang berkehendak baik, serta melestarikan keutuhan ciptaan.
Umat Allah Keuskupan Agung Semarang dengan tulus hati bertekad bulat melaksanakan upaya tersebut, dan mempercayakan diri pada penyelenggaraan ilahi dengan setia dan rendah hati seturut teladan Maria, hamba Allah dan bunda Gereja.
Allah yang memulai pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (bdk.Flp 1:6).

8.2. RUMUSAN VISI DAN MISI PAROKI SANTA MARIA KARTASURA.

Visi dan misi Paroki Santa Maria Kartasura yang hendak diwujudkan dalam kehidupan menggereja dan seluruh karya pastoral paroki adalah sebagai berikut:

8.2.1. Visi Paroki

Umat Allah Paroki Santa Maria Kartasura, dengan bimbingan Roh Kudus dan teladan Santa Maria, bertekad mewujudkan Kerajaan Allah yang memerdekakan berdasarkan iman yang mendalam dengan melibatkan seluruh umat dalam dinamika pastoral yang hidup, sehingga terwujud umat Allah yang mandiri, mengutamakan yang kecil, lemah, miskin, tersingkir serta difabel, serta memiliki kepedulian terhadap keutuhan ciptaan.

8.2.2. Misi Paroki

2.2.2.1. Mengubah pola pikir dari Gereja Hirarkis menuju Gereja sebagai Komunio.
2.2.2.2. Memfungsikan dan mengoptimalkan peran pengurus-pengurus umat di tingkat lingkungan.
2.2.2.3. Mengubah pola pelayanan yang individual menuju pola pelayanan kerjasama sebagai tim kerja.
2.2.2.4. Melibatkan seluruh umat terutama anak-anak, remaja dan kaum muda untuk membangun gerakan cinta lingkungan hidup, serta kepedulian terhadap kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel.
2.2.2.5. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan atas dasar pelayanan yang rendah hati dan murah hati.

8.3. STRATEGI PASTORAL

Strategi pastoral yang hendak dibangun dalam kehidupan menggereja di Paroki Santa Maria Kartasura ini tetap berpedoman pada pola penggembalaan yang dikembangkan oleh Gereja Keuskupan, yaitu pola penggembalaan yang mengikutsertakan, mengembangkan dan memberdayakan seluruh umat Allah. Dalam pola penggembalaan tersebut, pelayanan pastoral diarahkan untuk semakin mencerdaskan umat beriman, meningkatkan keterlibatan perempuan dan laki-laki, memberdayakan paguyuban-paguyuban pengharapan, memajukan kerjasama dengan semua pihak yang berkehendak baik, dan melestarikan keutuhan serta kepedulian terhadap lingkungan hidup.
Cara berpastoral yang hendak dikembangkan selaras adalah berpastoral berdasarkan data, baik melalui cara baru berpastoral dari tradisi menuju opsi, maupun melalui metode dinamika pastoral. Umat Allah Paroki Santa Maria Kartasura menyadari bahwa cara baru berpastoral ini merupakan cara pastoral yang sangat baik dan hendak dikembangkan terus dalam pelayanan pastoral agar kehidupan berjemaat menjadi semakin hidup dan berkembang selaras dengan visi dan misi paroki serta selaras dengan visi dan misi Keuskupan Agung Semarang.


9. TUJUAN PAROKI.

Paroki Santa Maria Kartasura mendasarkan diri dari fokus pastoral Keuskupan Agung Semarang, Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang 2006-2010, serta visi – misi paroki, spiritualitas paroki dan potensi – keprihatinan paroki, hendak mencapai tujuan-tujuan paroki sebagai berikut.

9.1. Tujuan Jangka Panjang.
Tujuan jangka panjang Paroki Santa Maria yang hendak dicapai selama lima tahun (tahun 2010 – 2015) mendatang adalah:
- Umat Allah Paroki Santa Maria Kartasura menjadi Gereja yang mewujudkan Kerajaan Allah yang memerdekakan berdasar iman yang mendalam, yang ditandai dengan kepedulian terhadap kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel; serta terhadap keutuhan ciptaan melalui gerakan-gerakan cinta lingkungan hidup dan pemberdayaan KLMTD.
- Umat Allah Paroki Santa Maria Kartasura menjadi Gereja communio, yang ditandai dengan keterlibatan seluruh umat dalam dinamika pastoral yang hidup selaras dengan Arah dan Dasar Keuskupan Agung Semarang dan spritualitas Santa Maria.
- Umat Allah Paroki Santa Maria Kartasura menjadi Gereja yang mandiri, yang ditandai dengan tata kelola keuangan yang transparan dan akuntabel selaras dengan pedoman tata kelola keuangan Keuskupan Agung Semarang; serta tata penggembalaan yang mengikutsertakan-mengembangkan-memberdayakan selaras dengan Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang dan berdasarkan data.

9.2. Tujuan Jangka Menengah.
Tujuan jangka menengah Paroki Santa Maria Kartasura yang menjadi arah pastoral selama tiga tahun mendatang atau selama periode Dewan Paroki Santa Maria 2010 – 2012 adalah sebagai berikut:
- Umat Paroki Santa Maria Kartasura menjadi Gereja yang terlibat dalam bidang-bidang pelayanan Gereja yaitu liturgi, pewartaan dan pelayanan kemasyarakatan, yang ditandai dengan peningkatan partisipasi umat dalam bidang-bidang tersebut.
- Umat Allah Paroki Santa Maria Kartasura menjadi Gereja yang murah hati dan rendah hati dalam pelayanan, yang ditandai dengan kinerja dari tim-tim kerja Dewan Paroki, pamong umat di tingkat lingkungan dan wilayah yang berorientasi pada pola pelayanan kerjasama dengan melibatkan anak-anak, remaja dan kaum muda.
- Umat Allah Paroki Santa Maria Kartasura menjadi Gereja yang visioner, yang ditandai dengan tata kelola keuangan yang benar selaras dengan pedoman keuangan Keuskupan Agung Semarang dan Pedoman Pelaksanaan Keuangan Paroki; serta perencanaan, pelaksanaan, pelaporan dan evaluasi program-program kerja yang sesuai dengan tahapan programasi dan RAPB Keuskupan Agung Semarang serta metode spirale pastorale.
- Umat Allah Paroki Santa Maria menjadi Gereja yang peduli dan menjadi berkah bagi masyarakat terutama kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir serta difabel, yang ditandai dengan alokasi dana yang jelas, transparan dan akuntabel serta tepat sasaran.

9.3. Tujuan Jangka Pendek.
Tujuan jangka pendek atau tujuan tahun 2010 yang akan dicapai oleh umat Allah Paroki Santa Maria yang didasari juga dengan fokus pastoral Keuskupan Agung Semarang tahun ini, yang dicanangkan sebagai Tahun Syukur Atas Habitus Baru serta tema tahun syukur: Terlibat Berbagi Berkat adalah sebagai berikut:
- Umat Allah Paroki Santa Maria Kartasura menjadi Gereja yang penuh syukur melalui pemberdayaan dan peningkatan keterlibatan umat lingkungan dan paguyuban-paguyuban dalam pelayanan liturgi Gereja baik di tingkat lingkungan, wilayah maupun paroki; serta kepedulian terhadap lingkungan hidup.
- Umat Allah Paroki Santa Maria Kartasura menjadi Gereja yang signifikan, yang ditandai dengan tata kelola keuangan yang transparan-akuntabel dan tata penggembalaan yang mengembangkan-melibatkan-memberdayakan mulai dari tingkat lingkungan, wilayah dan paroki khususnya Dewan Paroki.
- Umat Allah Paroki Santa Maria Kartasura menjadi Gereja yang berbagi dan berbela rasa (relevan) terhadap kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel yang ada dalam lingkup Paroki melalui pemanfaatan Dana Aksi Puasa Pembangunan dan Dana Papa-Miskin yang tepat sasaran, tertata, transparan dan akuntabel.


10. CAPAIAN-CAPAIAN PROGRAM KERJA 2009 DAN HARAPAN.

Tahun 2009 merupakan Tahun Orang Muda Katolik. Titik fokus utama tahun ini adalah bagaimana Gereja melibatkan Orang Muda Katolik dalam pengembangan iman umat Allah Paroki Santa Maria Kartasura. Fokus pastoral ini sungguh tampak dalam gerak dan dinamika pastoral seluruh umat juga secara khusus Dewan Paroki periode yang lalu. Program-program kerja diarahkan untuk bagaimana Orang Muda Katolik diberi kesempatan dan mengambil kesempatan untuk melibatkan diri dalam kehidupan menggereja dan melalui Gereja kepada masyarakat. Capaian-capaian yang telah didapatkan selama tahun 2009 antara lain sebagai berikut:

10.1. Pendataan Orang Muda Katolik selama masa Adven 2008, dengan hasil data sebagai berikut.
Jumlah OMK Santa Maria akhir tahun 2008 ada 613 orang, yang terdiri dari:
a. OMK pria = 295 orang dan OMK wanita = 318 orang
b. Tingkat pendidikan= SMP (88 orang); SMA (189 orang); Perguruan Tinggi (245 orang); dan 91 orang sudah tidak menempuh pendidikan.
c. OMK yang tinggal di paroki=459 orang, dan yang berdomisili di paroki lain= 154 orang.
d. OMK yang sudah mulai terlibat aktif di tingkat lingkungan sampai paroki= 143 orang.
e. OMK yang masuk dalam kepengurusan di tingkat lingkungan sampai paroki= 79 orang.
10.2. Program-Program Kerja Dewan Paroki yang menjadi tempat keterlibatan Kaum muda:
a. Panitia Hari Santa Pelindung Paroki yang terlaksana pada tanggal 13 September 2009 dengan sungguh melibatkan umat yang banyak dalam seluruh elemen umat dari anak-anak; remaja, OMK sendiri dan Orang Tua Katolik (orangtua).
b. Panitia Pesta Paduan Suara tingkat Lingkungan, yang melibatkan 34 lingkungan dari 41 lingkungan yang ada di paroki, pada tanggal 28-29 Agustus 2009.
c. Perayaan Ekaristi Kaum Muda Paroki, yang terlaksana tiga kali dalam satu tahun yang dilaksanakan dan disiapkan oleh OMK bersama dengan tim liturgi paroki.
d. Lomba cerdas cermat Kitab Suci dan menyanyikan Mazmur, yang diikuti oleh 42 OMK, 36 anak-remaja, dan 34 orang tua, dengan tujuan untuk menjaring OMK agar terlibat dalam pelayanan Lektor dan Pemazmur Paroki.
e. Pelatihan-Pelatihan dan pemberdayaan KLMT yang diadakan oleh tim kerja APP dan PSE serta LitBang Paroki yang juga melibatkan OMK Paroki dalam persiapan dan pelaksanaannya.
f. Hari Raya Natal 2008 dan Hari Raya Paskah 2009, juga melibatkan OMK Paroki untuk terlibat dalam persiapan liturgi baik dalam tugas kor, lektor, misdinar, dan juga among tamu.

10.3. Pemberdayaan OMK melalui kelompok-kelompok kategorial:
a. Pembentukan kor OMK.
b. Pemberdayaan dan Pendampingan KLMT, dalam program “sampah menjadi berkah” dimana OMK dilibatkan dalam kepanitiaan.
c. Pengembangan Lektor dan Pemazmur Paroki, yang sebagian anggotanya adalah OMK.
d. Live-in OMK di Paroki St. Theresia Lisieux, Boro.

Itulah sebagian usaha Dewan Paroki Santa Maria dan umat untuk memberikan kesempatan kepada OMK Santa Maria untuk melibatkan diri dan belajar menjadi penggerak dan pelayan dalam kehidupan menggereja dan memasyarakat. Banyak hal yang telah bertumbuh dan berkembang sebagai “benih” yang tentu saja masih menjadi tugas besar seluruh umat, terutama Dewan Paroki yang baru untuk terus memupuk dan memelihara benih itu agar semakin tumbuh, berkembang dan berbunga, sehingga pada akhirnya menghasilkan buah-buah melimpah bagi Gereja dan masyarakat.
Selain itu tahun 2009 merupakan tahun dimulainya perubahan secara struktural dalam pengelolaan umat. Pada bulan Juli dan Agustus 2009 diadakan pergantian pengurus umat lingkungan dan pergantian ketua-ketua wilayah. Pengurus umat lingkungan ini dilantik serentak pada ekaristi puncak hari pelindung paroki yang diselenggarakan pada tanggal 13 September 2009. Menyusul pergantian pengurus lingkungan adalah pergantian prodiakon paroki. Proses pergantian prodiakon paroki ini pun melibatkan seluruh umat mulai dari pencalonan, ditindaklanjuti dengan wawancara masing-masing calon dengan Rama paroki, diajukan ke Keuskupan Agung Semarang, disiapkan dengan rekoleksi tiga hari (Triduum) dan dilantik pada ekaristi Pesta Keluarga Kudus: 27 Desember 2009. Akhirnya kegiatan penting yang terjadi pada tahun 2009 adalah pergantian Dewan Paroki. Proses ini pun melibatkan seluruh umat mulai dari pencalonan, dilanjutkan dengan pemilihan Wakil Ketua 2 dan Ketua-ketua Bidang. Pemilihan tersebut dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 2009. Setelah dilengkapi dengan tim-tim kerja, Dewan Paroki yang baru itu dilantik dalam ekaristi pada tanggal 24 Januari 2010 oleh Rama Pius Riana Prabdi, Administrator Diosesan Keuskupan Agung Semarang.
Harapan utama terhadap Dewan Paroki yang baru tentu saja tetap memberikan kesempatan bagi OMK untuk terlibat dan secara serius mendampingi OMK dalam kancah kehidupan menggereja, serta memberikan dukungan baik finansial, moral maupun support agar sungguh OMK yang menjadi “generasi penerus/penentu” Gereja tidak hanya menjadi slogan yang kerap disuarakan, melainkan menjadi konkrit dalam perhatian yang penuh tanggungjawab dari Dewan Paroki dan seluruh umat (khususnya orangtua) untuk mendukung dan mendorong OMK menjadi warga Gereja seperti yang dicita-citakan tersebut. Sungguh disadari bahwa keterlibatan OMK yang memiliki potensi yang besar yang sudah dirasakan oleh seluruh umat, akan terus berkembang dan tumbuh, sangat dipengaruhi oleh perhatian Dewan Paroki dan orangtua. Tanpa kedua unsur tersebut, OMK akan menghadapi tantangan besar sebagai “generasi penerus/penentu” Gereja, terlebih juga di dalam tanggungjawabnya sebagai penerima warisan iman dari Gereja sekarang (orangtua, Dewan Paroki). Dengan terus menerus memberikan perhatian kepada OMK dan tentu saja anak serta remaja, Dewan Paroki dan seluruh umat menunjukkan tanggungjawabnya serta kesadarannya bahwa anak-anak (anak, remaja, dan OMK) merupakan penerus dan generasi Gereja yang perlu disiapkan.

Selasa, 11 Mei 2010

BERDOA KEPADA ROH KUDUS

Sebentar lagi, Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus akan kita kenangkan bersama, yaitu pada hari Kamis, 13 Mei 2010 ini. Ada banyak cara untuk meengenangkan Hari Raya ini. Baik secara pribadi maupun bersama-sama sebagai Gereja, dengan mengikuti Perayaan Ekaristi Hari Raya tersebut, yang disamakan dengan hari minggu, maupun dengan mendalami iman kita kepada Tuhan Yesus yang bangkit dan akhirnya menjadi yang sulung duduk di sisi kanan Allah Bapa di Surga. Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga membawa harapan baru kepada kita, bahwa hidup kita di dunia ini tidak berhenti di dunia, melainkan akan terarah dan menuju kepada kehidupan ilahi yaitu "naik ke surga" bersama Yesus, bersatu dengan Allah yang kita imani.

Ketika Yesus hendak naik ke surga, Ia menubuatkan dan menjajikan Roh Penghibur, yang akan menyertai dan bersama-sama dengan pengikut-Nya, yaitu Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang kemudian melaksanakan karya penyelamatan selanjutnya di dalam Gereja dan setiap orang yang percaya kepada-Nya. Gereja sendiri mempersiapkan Hari Pentakosta, hari pencurahan Roh Kudus, hari pemenuhan janji Tuhan Yesus akan Roh Penghibur itu, dengan novena Roh Kudus. Ada banyak ragam doa kepada Roh Kudus. Oleh karena itu, di sini disediakan beberapa doa kepada Roh Kudus, yang harapannya dapat membantu kita semua mempersiapkan diri sekaligus mengenangkan karunia Roh Kudus yang telah dicurahkan Tuhan melalui pembaptisan kita. Semoga dengan berdoa dan mempersiapkan diri, serta mengenangkan dengan penuh syukur karunia Roh Kudus ini, kita semakin dapat merasakan penyelamatan Allah dalam hidup kita di dunia ini.

Untuk menikmati doa-doa Roh Kudus tersebut, silahkan anda mendownload link-link di bawah ini, yang disediakan dalam format ms word dan pdf.


format microsoftword:
1. Rosa Mistika Roh Kudus.doc
2.Devosi Roh Kudus.doc
3.Doa Novena Roh Kudus.doc
4.Doa Kepada Roh Kudus.doc
5.Doa Mohon Roh Kudus Tetap Tinggal Di Hati.doc
6.Doa Persatuan Dengan Roh Kudus.doc
7.Doa Roh Kudus.doc
8.Litani Roh Kudus.doc
9.Rosario Roh Kudus.doc
10.Tujuh Karunia Roh Kudus.doc

Format PDF:
1.Rosamistika Roh Kudus
2.Devosi Roh Kudus
3.Doa Novena Roh Kudus
4.Doa Kepada Roh Kudus
5.Doa Mohon Roh Kudus tetap tinggal di hati
6.Doa Persatuan Dengan Roh Kudus
7.Doa Roh Kudus
8.Litani Roh Kudus
9.Rosario Roh Kudus
10.Tujuh Karunia Roh Kudus

Jumat, 07 Mei 2010

Gereja Kartasura Mengembangkan Liturgi Lingkungan

Bulan Mei merupakan bulan yang dikhususkan oleh Gereja sebagai bulan Maria. Bulan Mei juga secara khusus, oleh Gereja Keuskupan Agung Semarang, dijadikan sebagai Bulan Katekese Liturgi (BKL). Oleh karena itu, dalam rangka semakin meningkatkan keterlibatan umat yang membawa berkat khususnya dalam liturgi Gereja Lingkungan, maka saya memberikan usulan-usulan yang mudah-mudahan semakin memberikan kesadaran kepada kita, apa itu liturgi dan bagaimana mengembangkan liturgi sebagai pusat kehidupan Gereja dan sekaligus mewujudkan Gereja itu sendiri.

1. Apa itu Liturgi?
Liturgi, dari asal katanya, leitourgia (bhs Yunani), dari akar kata ergon, yang berarti karya, dan leitos, yang merupakan kata sifat untuk kata benda laos (=bangsa). Maka, kata liturgi memiliki kata dasar leitos + ergon (karya yang dibaktikan untuk kepentingan bangsa). Leitourgia berarti sebagai kerja bakti atau kerja pelayanan tanpa dibayar. Leitourgia dalam arti kultis (keagamaan), yaitu perayaan misteri karya keselamatan Allah dalam Kristus, yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus, Sang Imam Agung, bersama Gereja-Nya di dalam ikatan Roh Kudus.
Dari akar kata tersebut jelas dimaksudkan, bahwa liturgi merupakan sebuah perayaan bersama. Secara vertical, merupakan perayaan Gereja bersama Kristus; secara horizontal, perayaan iman Gereja. Perayaan bersama ini merupakan salah satu ciri pokok dalam liturgi. Dan dalam liturgi, Gereja dibangun dan diwujudkan sebab Gereja adalah persekutuan umat (manusia-manusia) yang dipanggil Allah untuk memuliakan Dia.



2. Apa saja yang termasuk dalam Liturgi?
Ada tiga macam liturgi Gereja, yaitu liturgi Sakramen, liturgi Sabda, dan liturgi Harian.
2.1. Liturgi Sakramen.
Kata “sakramen” berasal dari bahasa latin “sacramentum”, terjemahan dari kata Yunani: mysterion, yang dalam Perjanjian Lama hendak menunjuk pada Allah yang mewahyukan diri-Nya dalam sejarah. Mysterion (dalam Perjanjian Baru) menunjuk pada rencana keselamatan Allah yang terlaksana dalam Yesus Kristus (bdk Ef 1:9; Kol 1:26; Rm 16:25).
2.2.1. Perayaan Liturgi Sakramen.
Perayaan liturgi sakramen menunjuk pada perayaan-perayaan ketujuh sakramen Gereja, dengan tingkatan-tingkatan yang berbeda. Perayaan Sakramen ini dibagi dalam dua kelompok yaitu, sacramenta maiora (Sakramen Ekaristi dan Sakramen Baptis) dan sacramenta minora (Sakramen Krisma, Sakramen Tobat, Sakramen Pengurapan Orang Sakit, Sakramen Tahbisan dan Sakramen Perkawinan).
a. Sakramen Ekaristi.
Sakramen ini merupakan puncak dan pusat seluruh perayaan sakramen dan seluruh liturgi Gereja, bahkan menjadi sumber dan puncak seluruh hidup kristiani (Lumen Gentium art.11).
b. Sakramen Baptis.
Sakramen ini merupakan jalan masuk atau sakramen pertama yang harus diterima seseorang untuk penerimaan sakramen-sakramen yang lain. Melalui baptis, seseorang dimasukkan ke dalam Gereja dan dilahirkan kembali menjadi anak-anak Allah.
c. Sakramen Krisma atau Penguatan.
Sakramen ini menguatkan orang beriman dengan kurnia Roh Kudus untuk menjadi saksi Kristus dan orang kristiani dewasa.

Ketiga sakramen tersebut (Ekaristi, Baptis dan Krisma), biasa disebut sakramen inisiasi. Melalui ketiganya, seseorang telah menjadi umat beriman dan warga Gereja yang penuh, serta berhak merayakan Ekaristi secara aktif.

d. Sakramen Tobat atau Rekonsiliasi atau Pengampunan.
Sakramen ini mengembalikan umat beriman yang jatuh ke dalam dosa (sakit rohani); mendamaikan kembali mereka dengan Allah dan Gereja; serta menganugerahkan pengampunan dosa. Dengan sakramen ini, memungkinkan umat beriman merayakan Ekaristi dengan pantas.
e. Sakramen Pengurapan Orang Sakit atau Perminyakan Suci.
Umat beriman yang sakit fisik dikuatkan dengan sakramen ini, yang menganugerahkan kekuatan hidup iman dan pengampunan dosa kepada yang sakit. Melalui sakramen ini, orang sakit diserahkan kepada Tuhan yang bersengsara dan mulia agar Dia menyembuhkan dan menyelamatkannya.
f. Sakramen Tahbisan dan Sakramen Perkawinan.
Kedua sakramen ini disebut juga sakramen sosial Gereja karena hendak mengungkapkan dimensi dan fungsi sosial Gereja. Melalui sakramen tahbisan, terlaksanalah pengudusan atas orang-orang yang mendapat tugas dan jabatan dalam kepemimpinan, pengudusan dan pengajaran bagi umat Allah. Melalui sakramen perkawinan, memungkinkan berdirinya dasar dan pengudusan keluarga yang merupakan sel terkecil dan pembangun umat Allah dari masa ke masa.

Ketiga sakramen ini, yaitu Baptis, Penguatan dan Tahbisan, merupakan sakramen kekal tak terhapuskan, apabila sudah diterima oleh seseorang. So, ketiganya hanya diterimakan sekali seumur hidup.

2.1.2. Liturgi Sakramentali.
Sakramentali ialah “tanda-tanda suci, yang memiliki kemiripan dengan sakramen-sakramen. Sakramentali menandakan kurnia-kurnia, yang bersifat rohani dan yang diperoleh berkat doa permohonan Gereja.” (Sacrosanctum Concilium art.60). Termasuk sakramentali antara lain: pemberkatan air suci, berkat bathuk, berkat roti, buah atau doa sebelum sesudah makan, doa orang sakit, upacara pertunangan, upacara tobat, aneka ibadat berkat, pengusiran setan, dan aneka doa.

2.2. Liturgi Sabda.
Pusat dan pokok dari liturgi sabda adalah Kitab Suci. Konsili Vatikan II mengajarkan dengan jelas bahwa, “supaya tampak dengan jelas bahwa dalam liturgi, upacara dan sabda berhubungan erat, maka: (1) dalam perayaan-perayaan suci hendaknya dimasukkan bacaan Kitab Suci yang lebih banyak, lebih bervariasi, dan lebih sesuai; (2) dalam rubrik-rubrik hendaknya dicatat juga, sejauh tata upacara mengizinkan, saat yang lebih tepat untuk kotbah, sebagai bagikan perayaan liturgi. Dan pelayanan pewartaan hendaknya dilaksanakan dengan amat tekun dan seksama. Bahannya terutama hendaknya bersumber pada Kitab Suci dan Liturgi, sebab kotbah merupakan pewartaan keajaiban-keajaiban Allah dalam sejarah keselamatan dan misteri Kristus, yang selalu hadir dan berkarya di tengah kita, teristimewa dalam perayaan-perayaan liturgi” (SC 35,1 dan 2).
2.2.1. Susunan Pokok Liturgi Sabda.
Bacaan I
Mazmur Tanggapan
Bacaan II
Bait Pengantar Injil: Alleluia
Bacaan Injil
Homili/Kotbah
Credo
Doa Umat

2.3. Liturgi Harian
Liturgi ini merupakan ibadat harian atau ofisi yang mengungkapkan dimensi pokok “Gereja yang berdoa” (ecclesia orans) –bdk Kis 1;14; 2:42. Tekanan liturgi harian adalah pengudusan hari dan waktu. Hal ini ditegaskan oleh Konsili Vatikan II, “Berdasarkan tradisi kuno, Ibadat Harian disusun sedemikian rupa, sehingga seluruh kurun hari dan malam disucikan dengan pujian kepada Allah” (SC art.84).
2.3.1. Macam Ibadat Harian.
Pembukaan ibadat harian (Invitatorium)
Ibadat Bacaan (Matutinum)
Ibadat Pagi (Laudes)
Ibadat Siang
Ibadat Sore (Vesper)
Ibadat Penutup (Kompletorium)

3. Bagaimana Merayakan Liturgi?
Pada prinsipnya, merayakan liturgi berarti merayakan iman bersama akan Kristus, Wahyu Allah, dan Penyelamat dalam persekutuan Roh Kudus. Merayakan liturgi adalah ‘kerja bakti’ memuliakan Allah. Namanya saja kerja bakti, tentu di dalamnya unsur “gotong royong” yang menjadi ciri khas budaya bangsa kita, bukanlah sesuatu yang asing dan sulit untuk kita lakukan. Hanya bedanya, ke’gotong-royong’an itu kita tempatkan dalam kerangka perayaan keagamaan yaitu perayaan iman.
Gotong royong, atau kerja bakti tentu modal utamanya adalah kehendak dan kemauan untuk terlibat serta kesadaran bahwa saya adalah bagian dari warga, yang sadar hak serta kewajiban untuk terlibat di dalamnya dengan sukahati dan kerelaan. Oleh karena itu, jelas pula bahwa perayaan liturgi juga menganut semangat yang sama dengan gotong royong / kerja bakti itu.

4. Target Sasaran Konkrit “Merayakan Liturgi”?
Perayaan liturgi yang baik akan mendukung terwujudnya “terlibat-berbagi-berkat”, dimana masing-masing warga Gereja ikut serta ambil bagian untuk “kerja bakti” dalam liturgi, sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing. Dengan kata lain, perayaan liturgi itu sendiri mewujudkan Gereja.
4.1. Merayakan Liturgi Lingkungan.
Sejak tahun 2008, lingkungan-lingkungan di Paroki Santa Maria ini sudah mulai diberdayakan baik dari segi kegiatan-kegiatan lingkungan, kemandirian lingkungan, maupun juga pelayanan liturgi. Ekaristi Lingkungan sudah dijadwalkan secara rutin, Ekaristi Ujub juga mulai dikembangkan dan sungguh berkembang dengan baik, kor lingkungan juga mulai diberdayakan (2009), devosi-devosi mulai berkembang, tim-tim kerja dan pengurus harian lingkungan mulai dibentuk dan diberdayakan. Kiranya hal-hal itu, antara lain, menjadi potensi yang sangat besar untuk semakin mengembangkan lingkungan sebagai Gereja konkrit di tengah masyarakat.
Oleh karena itu, supaya potensi-potensi di lingkungan semakin bertumbuh dan berkembang efektif, kiranya pada tahun 2010 ini perlu target konkrit agar apa yang hendak kita capai, selaras dengan visi-misi Gereja kita, dapat terwujud nyata. Salah satu yang hendak saya usulkan adalah dalam bidang liturgi, khususnya adalah Pemberdayaan Tim Kerja Liturgi Lingkungan.
Tim Kerja liturgi lingkungan mencakup tugas-tugas yang berkaitan dengan perayaan liturgi di lingkungan seperti ekaristi, ibadat, doa dan devosi, pendalaman iman dan kitab suci, kor, dan paramenta. Perayaan ini tentu saja adalah perayaan bersama seluruh umat lingkungan. Oleh karena itu, tim kerja liturgi lingkungan sangat berperan untuk mendukung terciptanya Gereja Lingkungan yang mandiri.
4.1.1. Dalam Hal Persiapan Perayaan Liturgi.
Tim liturgi lingkungan hendaknya melakukan koordinasi untuk mempersiapan perayaan liturgi lingkungan dengan sebaik-baiknya, seperti mempersiapkan peralatan liturgi seperti peralatan misa/ibadat/doa, buku-buku dan panduan, kor, petugas, tema-tema liturgi yang dirayakan, pelatihan-pelatihan liturgi (kerjasama dengan tim liturgi paroki) dan lain-lainnya.
4.1.2. Dalam Hal Pelaksanaan Perayaan Liturgi.
Tim liturgi lingkungan hendaknya mengkoordinasi pelaksanaan perayaan liturgi lingkungan misalnya memimpin doa persiapan, pengecekan peralatan, buku dan panduan, petugas, dan lain sejenisnya.
4.1.3. Dalam Hal Evaluasi Pelaksanaan Perayaan Liturgi.
Tim liturgi lingkungan hendaknya perlu untuk mengevaluasi setiap kegiatan liturgi lingkungan agar dapat dikembangkan lebih baik lagi untuk semakin mengarah pada sasaran dan tujuan perayana liturgi tersebut, yaitu tercapainya keterlibatan seluruh umat dan tercapainya iman yang menda
lam.



---000---

Rabu, 05 Mei 2010

PESAN BAPA SUCI BENEDIKTUS XVI PADA HARI KOMUNIKASI SEDUNIA ke-44

Imam dan Pelayanan Pastoral di Dunia Digital: Media Baru demi Pelayanan Sabda

Saudara dan Saudariku Terkasih,

1. Tema Hari Komunikasi Sedunia tahun ini – Imam dan Pelayanan Pastoral di Dunia Digital: Media Baru demi Pelayanan Sabda- disampaikan bertepatan dengan perayaan Gereja tentang Tahun Imam. Tema ini memusatkan perhatian pada komunikasi digital, suatu bidang pastoral yang peka dan penting, yang memberikan kemungkinan baru bagi para imam dalam menunaikan pelayanan kegembalaannya demi dan untuk Sabda. Berbagai komunitas Gereja sebenarnya telah menggunakan media modern untuk mengembangkan komunikasi, melibatkan diri dalam masyarakat serta mendorong dialog pada tingkat yang lebih luas. Akan tetapi penyebarannya yang tak terbendung serta dampak sosial yang besar pada jaman kini, media itu semakin menjadi penting bagi pelayanan imam yang berhasilguna.

2. Tugas utama semua imam adalah mewartakan Yesus Kristus, Sabda Allah yang inkarnasi dan mengkomunikasi rahmat penyelamatan-Nya melalui sakramen-sakramen. Dihimpun dan dipanggil oleh Sabda, Gereja menjadi tanda dan sarana persekutuan yang Allah ciptakan dengan semua orang. Setiap imam dipanggil untuk membangun persekutuan dalam Kristus dan bersama Kristus. Disinilah terletak martabat yang luhur dan indah perutusan seorang imam, yang secara istimewa menjawabi tantangan yang ditampilkan oleh Rasul Paulus: ’Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.’…Sebab barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya jika mereka tidak percaya kepada Dia? Dan bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia jika mereka tidak mendengarkan tentang Dia? Bagaimana mereka mendengarkan tentang Dia jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya jika mereka tidak diutus? (Rom 10:11, 13-15).

3. Menggunakan tekonologi komunikasi baru merupakan hal yang perlu dilakukan dalam menjawab secara tepat tantangan-tantangan yang dirasakan kaum muda di tengah pergeseran budaya masa kini. Dunia komunikasi digital dengan kemampuan ekspresi yang nyaris tak terbatas mendorong kita untuk mengakui apa yang disampaikan oleh St.Paulus:’celakalah aku jika aku tidak mewartakan Injil (1Kor 9:16). Kemudahan mendapatkan teknologi baru yang kian berkembang menuntut tanggungjawab yang lebih besar dari orang-orang terpanggil untuk mewartakan Injil serta termotivasi, terarah dan efisien menunaikan usaha-usaha mereka. Para imam berada di ambang ‘era baru’: karena semakin intensifnya relasi lintas batas yang dibentuk oleh pengaruh media komunikasi, demikian pula para imam dipanggil untuk memberikan jawaban pastoral dengan menempatkan media secara berdaya guna demi pelayanan Sabda.

4. Penyebaran komunikasi multimedia dengan ragam ‘menu pilihan’ tidak dimaksudkan untuk sekadar menghadirkan para imam di internet atau sekadar menjadikan internet ruang untuk diisi. Para imam diharapkan menjadi saksi setia terhadap Injil di dalam dunia komunikasi digital dengan menunaikan perannya sebagai pemimpin-pemimpin komunitas yang terus menerus mengungkapkan dirinya dengan ‘suara yang berbeda’ yang dihadirkan oleh pasaraya digital. Dengan demikian, para imam ditantang untuk mewartakan Injil dengan menggunakan generasi teknologi audiovisual yang paling mutakhir (gambar, video, fitur animasi,blog dan website) berdampingan dengan media tradisional dapat membuka wawasan baru dan luas demi dialog evangelisasi dan katekese.

5. Dengan menggunakan teknologi komunikasi baru, para imam dapat memperkenalkan kehidupan menggereja kepada umat dan membantu orang-orang jaman sekarang menemukan wajah Kristus. Hal ini akan dicapai dengan baik apabila mereka belajar –sejak dari masa pembinaan mereka- bagaimana memanfaatkan teknologi komunikasi secara kompeten dan cocok dengan pemahaman teologis yang mendalam dan spiritualitas imam yang kokoh, berakar pada dialog terus menerus dengan Tuhan. Dalam dunia komunikasi digital, para imam -lebih dari sekadar sebagai ahli media- seharusnya mengungkapkan kedekatannya dengan Kristus untuk memberikan ‘jiwa’ baik bagi pelayanan pastoralnya maupun bagi aliran komunikasi internet yang tak terbendung.

6. Kasih Allah kepada semua orang dalam Kristus mesti diungkapkan dalam dunia digital bukan sekadar sebagai benda purba atau teori orang terpelajar tetapi sebagai sesuatu yang sungguh nyata, hadir dan melibatkan diri. Oleh karena itu, kehadiran pastoral kita di dalam dunia yang demikian harus bermanfaat untuk memperkenalkan orang-orang pada jaman sekarang teristimewa mereka yang mengalami ketidakpastian dan kebingungan, ‘bahwa Allah itu dekat, bahwa di dalam Kristus kita semua saling memiliki’ (Benediktus XVI, Address to the Roman Curia,21 December 2009)

7. Siapakah yang lebih baik dari seorang imam, yang sebagai abdi Allah dan melalui kemampuannya di bidang teknologi digital dapat mengembangkan dan menunaikan pelayanan pastoralnya , menghadirkan Allah secara nyata di dunia jaman sekarang dan menampakkan kebijaksanaan rohani masa lampau sebagai harta yang mengilhami usaha kita untuk hidup layak dimasa kini sambil membangun masa depan yang lebih baik? Kaum laki-laki dan perempuan religius yang bekerja di bidang media komunikasi memiliki tangggjawab istimewa untuk membuka pintu bagi berbagai pendekatan baru, mempertahankan mutu interaksi manusia, menunjukkan perhatiannya bagi individu serta kebutuhan rohaninya yang sejati. Dengan demikian, mereka dapat menolong kaum laki-laki dan perempuan pada jaman digital ini untuk merasakan kehadiran Tuhan, menumbuhkan kerinduan dan harapan serta mendekatkan diri pada Sabda Allah yang menganugrakan keselamatan dan membangun manusia secara utuh. Dengan demikian, Sabda Allah dapat berjalan melintasi berbagai persimpangan yang tercipta oleh simpangsiurnya aneka ragam ‘jalan tol’ yang membentuk ‘ruang maya’ dan menunjukkan bahwa Allah memiliki tempat-Nya yang tepat pada setiap jaman, termasuk di jaman kita ini. Berkat media komunikasi baru, Tuhan dapat menapaki jalan-jalan perkotaan kita sambil berhenti di depan ambang rumah dan hati kita dan mengatakan lagi: Lihatlah, Aku berdiri de depan pintu dan mengetuk, Jika ada yang mendengar suaraku dan membukakan pintu, Aku akan masuk ke dalam rumahnya dan makan bersama dia dan dia bersama aku” (Why.3:20)

8. Dalam Pesan tahun lalu, saya telah mendorong para pemimpin di dunia komunikasi untuk memajukan budaya menghormati demi nilai dan martabat manusia. Ini merupakan salah satu cara dimana Gereja dipanggil untuk menunaikan ‘palayanan terhadap budaya-budaya’ di ‘benua digital’ jaman sekarang. Dengan Injil di tangan dan di hati, kita mesti menegaskan lagi tentang perlunya mempersiapkan cara mengantar orang kepada Sabda Allah sambil memberikan perhatian kepada mereka untuk terus mencari bahkan kita harus mendorong pencarian mereka sebagai langkah awal evangelisasi. Kehadiran pastoral di dunia komunikasi digital justru mengantar kita untuk berkontak dengan penganut agama lain, dengan orang-orang tak beriman dan orang-orang dari berbagai budaya, menuntut kepekaan terhadap orang yang tidak percaya, putus asa dan yang memiliki kerinduan mendalam dan tak terungkapkan akan kebenaran abadi dan mutlak, Demikianlah seperti yang diramalkan oleh Nabi Yesaya tentang sebuah rumah doa bagi segala bangsa (bdk Yes 56:7), dapatkah kita tidak melihat internet sebagai ruang yang diberikan kepada kita – semacam ‘pelataran bagi orang-orang bukan Yahudi’ di Bait Allah Yerusalem- yakni mereka yang belum mengenal Allah?

9. Perkembangan dunia digital dan teknologi baru merupakan sumber daya yang besar bagi manusia secara keseluruhan dan setiap individu sebagai daya dorong untuk perjumpaan dan dialog. Akan tetapi perkembangan ini juga memberikan peluang besar bagi orang beriman. Tidak ada pintu yang dapat dan harus ditutup bagi setiap orang yang atas nama Kristus yang bangkit, memiliki komitmen untuk semakin mendekatkan diri kepada orang lain. Secara khusus bagi para imam, media baru ini memberikan kemungkinan pastoral yang baru dan kaya, mendorong mereka untuk melibatkan diri ke dalam universalitas perutusan Gereja, membangun persahabatan yang luas dan konkrit serta memberikan kesaksian di dunia jaman kini tentang hidup baru yang berasal dari mendengar Injil Yesus, Putra Abadi yang datang demi keselamatan kita. Seiring dengan itu, para imam mestinya mengingat bahwa keberhasilan utama dari pelayanan mereka datang dari Kristus sendiri, yang ditemukan dan didengar dalam doa, diwartakan dalam kotbah dan dihidupi lewat kesaksian; dan diketahui, dicinta dan dirayakan dalam sakramen-sakramen, khususnya sakramen ekaristi dan rekonsiliasi.

10. Untuk para imamku yang terkasih, sekali lagi saya mendorong anda untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan unik yang disumbangkan oleh komunikasi modern. Semoga Tuhan menjadikan kalian bentara-bentara Injil yang bersemangat di ‘ruang publik’ baru media dewasa ini.

11. Dengan penuh keyakinan, saya memohonkan perlindungan Bunda Maria dan Santo Yohanes Maria Vianey (Pastor dariArs, Pelindung para imam) dan dengan penuh kasih saya memberikan kepada anda sekalian berkat apostolikku.

Vatikan, 24 Januari 2010, Pesta Santo Fransiskus de Sales.

Paus Benediktus XVI