Minggu, 27 Juni 2010
GEREJA DI MALAM HARI
Malam hari ini hari sudah menjelang pagi dan di gereja masih ada orang-orang yang begitu sibuk untuk merefleksikan, mengevaluasi, dan memikirkan perkembangan Gereja di masa depan. Syukur kepada Allah karena ada Gereja di malam hari, yang terus hidup untuk memikirkan dan untuk membangun persekutuan yang semakin bermakna bagi kehidupan di jaman ini. kehidupan yang senantiasa diusahakan untuk menjadi berkat bagi sesama dan alam ciptaan.
pada hari inilah, genaplah Keuskupan Agung Semarang juga mencapai usia yang ke-70 tahun. tentu telah banyak hal yang disumbangkan oleh Gereja Keuskupan, yaitu kita untuk ambil bagian dalam perjuangan bangsa dan negara Indonesia untuk mewujudkan Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila. Semoga Gereja Keuskupan Agung Semarang semakin menjadi Gereja yang terlibat dalam membangun bangsa dan negara ini, melalui berbagai macam peristiwa dan pengalaman yang dialami untuk turut serta berjuang dalam dinamika hidup berbangsa. Menjadi Relevan dan Signifikan....semoga!!
Kamis, 17 Juni 2010
Tanah Gereja: Memberi Tanpa Kembali
“Ah, kata siapa, Black?” timpal Jeng Maria dengan tenang.
“Jarene pak Kalingk, tadi malam setelah doa rosario lingkungan. Jarene lagi, panitia penggalangan tidak turun tangan ke lingkungan-lingkungan kayak dulu itu. Dan jarene lagi, duit yang buat mbayar pelunasan besok itu masih kurang banyak. Piye jal?”
Jeng Maria tetap tenang saja! “Jarene sapa to Black, dari tadi koq, jora-jarene ae! Lha dirimu sendiri sudah ikut andil belum? Sudah ikut nalangi? Atau malah nyumbang??” Jeng Maria balik malah mencecar pertanyaan pada si Black.
“Yo pasti to, Jeng! Aku dah nyumbang koq. Malah udah beberapa kali, pokoknya ada uang, aku sumbangkan buat bayar tanah itu. Aku juga sudah menjual barang-barangku yang dah ga kupakai, lalu uangnya aku sumbangkan buat Gereja. Pokoknya: yang masih bisa aku berikan, aku persembahkan kepada Yesus. Love Jesus!!! Apa sih yang ga buat Yesus!hehe…”
“Tenane, Black!!!” sahut Jeng Maria, sajak menyakinkan apa yang didengarnya dari si Black!
“Halah, Jeng! Mbok tanya sana sama istriku atau anak-anakku. Sakeluarga pokokmen seiya sekata, mbangun tekad menjadi berkat. Lha kapan lagi to Jeng, bisa membalas kebaikan Yesus? Mumpung masih bisa, Jeng. Ner ga?”
“Hmmm…”guman Jeng Maria, “Biasanya khan dirimu mung janji-njanji mulu ma Yesus, ‘sesuk nek aku wez duwe, yo!’. Nek dirimu dijadikan ga punya tenan, cilakak loh!” canda Jeng Maria.
“Kapan aku bisa memberi, kalau tidak dengan cara ini? Sebab, dengan menyumbang ke gereja, mungkin aku tidak akan menerima apapun untuk diriku, tapi aku yakin, balasannya bukan di dunia ini, tetapi di surga kelak. Yesus yang akan membalasnya.”
Jeng Maria cuma manggut-manggut mendengarkan ‘kotbah’ si Black, tampak menyetujui!
Belajar Dari PIALA DUNIA: Menjadi Tim Kerja Yang Memenangkan Program Kerja
Menarik memang, membicarakan sepak bola, nonton sepak bola. Orang saling menjagokan timnya masing-masing, bahkan ada pula yang sudah tertangkap karena berjudi sepak bola. Banyak orang akan menjadi korban pertandingan sepak bola ini. Kalau timnya menang akan bersorak gembira, tapi sebaliknya, kalau tim yang dijagokannya kalah...dunia seakan-akan kiamat, kerja saja menjadi tidak semangat, lha wong makan saja terasa jadi ga enak apalagi kerja.
Ngemeng-ngemeng sepak bola. Sebenarnya ada hal yang sungguh dapat menjadi contoh untuk kita sebagai Gereja yang mengembangkan pola pelayanan sebagai tim kerja, yach...andaikan saja “tim sepak kerja”. Quo vadis, tim-tim kerja dewan paroki? Itulah pertanyaannya. Cuma berandai-andai saja. Bila tim-tim kerja dewan paroki dapat saling berlomba untuk menge-gol-kan program kerja mereka yang telah direncanakan setengah tahun yang lalu, tentu dewan paroki menjadi ajang paling bergengsi dalam kancah keterlibatan hidup menjadi berkat dalam Gereja. Tapi dalam kenyataannya, belum seluruh “tim sepak kerja”, menjadi sebuah tim yang solid untuk memenangkan pertandingan RAPB dan Program Kerja dewan paroki tahun ini.
Tim-tim sepak bola dunia yang amat menarik kita tonton itu, memberikan petunjuk kepada kita, sebagai tim-tim kerja dewan paroki, bagaimana mustinya kita membangun semangat pelayanan sebagai tim kerja. Anggota tim sepak bola itu, yang pada kenyataannya berasal dari berbagai latar belakang kehidupan, berbagai club sepak bola di negaranya masing-masing, berbagai potensi dan keahlian, dan juga berbagai posisi dan peranan, tetapi mampu bekerja sama karena disatukan oleh tujuan yang sama dan jelas –cetakan-cetakan gol- untuk memenangkan pertandingan. Sungguh luar biasa! Sebagai tim, mereka mengesampingkan kepentingan masing-masing, meninggalkan arogansi dan ekslusifitas club di negaranya, dan menyatukan raga, keahlian, tekad dan semangat untuk satu tujuan yang sama dengan tetap memperhatikan aturan bersama yang jadi pegangan utamanya. Luarrr Biasaaaa!!!!
Kembali, cuma berandai-andai saja....mudah-mudahan musim piala dunia ini, menjadi inspirasi bagi kita semua untuk membangun sebuah paguyuban gerejawi, yang didalamnya ada aneka macam kelompok dan komunitas, tetapi saling bekerjasama dalam ke-anekaragam-an untuk mencapai tujuan yang sama: visi misi paroki, visi misi keuskupan, visi misi Tuhan kita Yesus Kristus, visi misi Allah Bapa sendiri.
Marilah kita, masing-masing, menjadi anggota tim yang penuh semangat dengan aneka keahlian dan potensi yang kita miliki, untuk kita “sumbangkan”, bukan untuk kita “jual”; untuk kita “bagikan”, bukan untuk kita “kumpulkan dan cuma disimpan” agar tercapai tujuan yang sama itu. Itulah hidup, inilah murid Yesus sejati.
Sudahkah anda melayani dengan tulus dan rendah hati hari ini???? Tidaklah lengkap kalau hari-hari yang kita jalani, tanpa melayani. Berkah Dalem!