Senin, 25 Oktober 2010

Kang Pitaya Nyebar Wewarta

Pagi itu, si BLACK (SB) dan Jeng Maria (JM) sedang bercengkerama setelah merayakan ekaristi hari minggu Evangelisasi, sambil menyantap soto coklat, yang ngangeni. Mereka berdua bicara ngalor-ngidul sampai akhirnya membicarakan soal perayaan ekaristi harian yang kerap kali lebih sedikit jumlah yang hadir, yaitu misa sabtu pagi bahasa jawa.

SB : Wah sotonya segerr yo, jeng yo……cocok karo hawane. Mendung-mendung gini, cuaca tidak menentu, sarapane soto. Hmmmm…..nak nan!

JM : Iya, Black…sotone memang ngangeni.

SB : Bar misa, njur sarapane soto…sampe di rumah khn tinggal ongkang-ongkang, klo tidak ada undangan manten.hehe..

JM : mesti wae, Black. Tapi lha aku ki pendhak minggu mesti ana undangan manten je, kepara ora mung siji. Wingi kae…undangane papat. Wah-wah….pokokmen akeh…. Ning ngomong-ngomong, iki lha dina minggu misi utawa minggu evangelisasi. Tegese minggu nyebar wewarta kabungahan alias injil. Jan-jane, BLACK, sapangertenmu, sapa ta sing nyebar wewarta iku?

SB : yo Gusti Yesus duuooonkkk!!

JM : mosok Gusti Yesus, khan udah di surga!!???

SB : para murid Dalem!!

JM : para murid khan juga sudah pada meninggal semua???!! Piye je? Ngerti ra?

SB : ya kita-kita ini, Jeng..yang masih hidup di dunia, dengan tantangannya.

JM : ahhh…tenane BLACK, ga boonk tuchh….nek kita-kita….emang kamu selalu membuat orang seneng atau gembira??

SB : (sambil berpikir)…wakz…apa hubungane, jeng antara mewartakan injil dengan membuat orang gembira?

JM : Ya jelaaaas gitu, BLACK. Mewartakan injil khan artinya mewartakan kegembiraan to….wuuuuuuu…!!!

SB : oh iya..iya, berarti mewartakan injil itu adalah bagaimana kita selalu menjadi kegembiraan bagi orang lain, alam ciptaan juga ya…hmmm….!!
JM : Njur sapa sing nyebar wewarta????

SB : wah nek kita-kita, ya aku juga sangsi je, Jeng. Aku sendiri ya masih banyak membuat orang lain tidak gembira je.

JM : Thiiiit….ga tau????

SB : Thiiit, jeng….aku ga tau…

JM : Sing nyebar wewarta iku Kang Pitaya.(KA.265)

SB : ????!!!@@#$$%%%

Celakalah kamu……………..

Luk 11: 42-46
Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya." Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya: "Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga." Tetapi Ia menjawab: "Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun.

Sabda Tuhan pagi hari ini, mengajak kita untuk menyadari sikap dan perbuatan kita terhadap orang lain atau sesama. Kisah yang ditampilkan Lukas dalam injilnya, yaitu Lukas 11:42-46, diawali dengan kata-kata “celakalah kamu…..” perkataan yang begitu keras terhadap orang farisi dan ahli taurat yang sikap hidupnya tidak benar dalam kacamata Yesus. Sabda ini diberikan Yesus ketika ada seorang farisi yang mengundang-Nya datang ke rumah. Yesus lalu duduk dan segera makan tanpa mencuci tangan, dan itu diperhatikan oleh orang farisi yang mengundang-Nya. Dengan kata lain, orang farisi tersebut mengawasi gerak-gerik Yesus dalam tata cara makan. Orang farisi itu heran, karena cara Yesus makan tidak menuruti aturan taurat.

dalam sabda ini, Yesus memberitakan apa yang terpokok dalam sikap hidup manusia berhadapan dengan aturan. Aturan dibuat demi keselamatan manusia, bukan untuk membelenggu manusia. Sehingga, yang utama adalah bagaimana manusia mencapai keselamatannya yang penuh dan utuh, keselamatan jasmani dan rohani. Oleh karena itu, kerap kali Yesus, pada hari sabat “melanggar” aturan sabat (bdk Luk 6:9): "Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?" Dalam kacamata ini, aturan menjadi sarana, bukan tujuan. Aturan dibuat dan ditaati demi mencapai keselamatan manusia, bukan untuk menghalanginya. Aturan bukan tujuannya. Apabila aturan menjadi tujuan, maka manusia dapat melakukan aneka macam “kejahatan” demi “yang penting” tidak melanggar aturan. Contoh yang paling konkrit untuk jaman sekarang ini dan sekaligus menjadi keprihatinan kita semua adalah: korupsi. Mengapa korupsi susah diberantas, bukan hanya karena mentalitas manusianya saja, tetapi juga karena paradigm terhadap aturan. Kerapkali dalam korupsi yang terjadi adalah, orang “membuat” laporan keuangan sesuai aturannya, bukan sesuai data-data yang ada, atau bahkan data-datanya pun “dibuat”.
Oleh karena itu, kita dapat merasakan, mengapa Yesus mengatakan dengan keras kepada orang farisi dan ahli taurat “celakalah kamu…” sebab, apabila orang membangun sikap hidup demi aturan atau aturan menjadi tujuan, orang pada dasarnya tidak mencapai tujuan yang sebenarnya, yaitu keselamatan. Orang baru sampai pada taat aturan. Padahal aturan dibuat demi keselamatan.
dengan demikian kita semakin disadarkan oleh Yesus sendiri dengan sabda-Nya. Terhadap orang farisi dan ahli taurat, Yesus menegaskan mereka celaka karena mereka mengabaikan keadilan dan kasih Allah, yang menjadi dasar keselamatan. Gambaran keadilan dapat kita lihat misalnya dalam Luk 6:31: “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” Orang farisi dan ahli taurat dalam kisah tersebut melakukan ketidakadilan karena pertama, mereka suka duduk di tempat terdepan dan menerima penghormatan. Dengan kata lain, mereka tidak peduli kepada sesamanya, atau bahkan menyingkirkan sesamanya demi “duduk di tempat terdepan dan memperoleh penghormatan”. Dan semakin jelas, ketika mereka meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang tetapi mereka sendiri bahkan tidak menyentuh dengan jarinya. Orang yang berbuat tidak adil, sekaligus juga orang tidak melakukan perbuatan kasih. Mengapa, perbuatan tidak adil sekaligus merupakan perbuatan yang tidak mengasihi. Kita dapat mendasarkannya pada Yoh 15:13: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Orang yang mengasihi adalah orang yang berani berisiko, berani masuk ke zona tidak aman, berani berkorban dan menderita, “memberikan nyawanya” demi sesama.
sungguh indah sabda Tuhan hari ini. Marilah kita, dengan sabda Tuhan ini mewujudkan keadilan dan kasih Allah supaya kita tidak celaka dan sebaliknya, kita mengalami keselamatan-Nya yang utuh dan penuh, serta membawa sesama dan juga alam ciptaan-Nya ini mengalami keselamatan-Nya juga.


“Tuhan, Ajarlah kami berdoa………..”

Lukas 11:1-4
Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: "Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya." Jawab Yesus kepada mereka: "Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan."

berdoa merupakan salah satu kegiatan kita sebagai manusia yang beriman. Manusia yang hendak senantiasa terbuka pada kekuatan dan daya ilahi yang mengatasi kekuatan manusiawi kita. Berdoa merupakan salah satu tiang penyangga hidup manusia, untuk memenuhi kebutuhan atau dimensi keilahian manusia. Seperti layaknya bekerja, sebagai tiang penyangga pemenuhan kebutuhan atau dimensi hidup jasmani. Dengan demikian, sebenarnya berdoa merupakan kebutuhan yang tidak bisa tidak, harus juga dilakukan oleh setiap manusia yang hidup dalam keterbatasannya. Apabila manusia tidak berdoa, manusia tidak dapat makanan: tidak dapat memenuhi “sandang, pangan, dan papan” bagi jiwanya. Manusia menjadi miskin dan melarat harta surgawi, seperti juga manusia yang malas-malasan, tidak mau bekerja, juga tidak akan mengalami kesuksesan/keberhasilan.

para murid sungguh menyadari akan apa yang menjadi kebutuhan dasariah manusia, selain bekerja, yaitu berdoa. Di dalam usaha mencapai keberhasilan berdoa, para murid pun menyadari bahwa memerlukan bantuan. Dan bantuan itu tidak lain, tidak bukan hanyalah berasal dari Tuhan sendiri. Bantuan untuk menolong jiwanya agar mengalami keberhasilan/kesuksesan hidup, yaitu hidup yang kekal, kebahagiaan abadi. Oleh karena itu, para murid dengan tepat dan benar, memohon kepada Yesus untuk mengajar mereka bagaimana berdoa.
Dalam injil, Yesus pun dengan cepat menanggapi permintaan para murid, tanpa banyak tuntutan. Artinya, Yesus pun sungguh menyadari dan tentu juga bangga kepada para murid yang sadar akan kebutuhan dasariah hidupnya. Sehingga, Yesus segera mengajar dan sekaligus memberi contoh “rumusan” doa. “apabila kamu berdoa, katakanlah…………”
pertama-tama, Yesus mengajar berdoa kepada Allah sebagai Bapa. Bapa yang tentu lain dengan bapak kita baik dalam hubungan darah maupun juga dalam sifat dan tingkah lakunya. Bapa yang diperkenalkan Yesus untuk kita sapa dalam doa-doa kita adalah bapa yang maha baik dengan segala kemurahan dan belaskasihnya yang luar biasa. Kita boleh mengingat bagaimana gambaran bapa yang diceritakan Yesus lewat perumpamaan dalam Luk bab 15. Bapa yang hendaknya kita sapa dalam doa-doa kita, adalah bapa yang tetap dalam kasihsetianya, tetap dalam kemurahannya, dan tetap dalam belaskasihnya. Bapa yang kekal.
Oleh karena itu, Allah sebagai Bapa diajarkan oleh Yesus untuk senantiasa diistimewakan, senantiasa dikhususkan oleh para murid ….dikuduskanlah nama-Mu. Ketika manusia mengistimewakan, mengkhususkan Allah dalam hidupnya, akan senatiasa terasa kerinduan manusia akan Allah sebagai Bapa yang baik, murah hati, penuh belaskasih dan cinta. Sifat Allah yang adalah Bapa yang melindungi, penuh dalam kemurahan, belaskasih dan cinta diajarkan oleh Yesus untuk senantiasa diharapkan kehadirannya, datanglah kerajaan-Mu. Agar yang dialami oleh para murid dan juga tentu kita, seperti layaknya disurga….hanyalah kebahagiaan dan kegembiraan yang senantiasa bertahta di dalam seluruh diri kita, meskipun hidup penuh perjuangan, beban dan tanggungjawab serta tuntutan duniawi. Bapa yang diajarkan Yesus dalam doa, menjadi sumber permohonan: datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, berikanlah kami setiap hari rejeki, ampunilah kesalahan kami, janganlah membawa kami……
melalui injilnya, Lukas mengingatkan kita dalam hal berdoa. Pertama, sebagai murid-murid Tuhan Yesus, kita diajar berdoa dengan menyebut Allah sebagai Bapa. Di dalam doa-doa kita, sebutlah Allah dengan nama Bapa. Kedua, kita juga diajar untuk mengistimewakan Allah di dalam hidup kita, tentu saja melalui doa-doa kita dan juga pertimbangan sikap hidup kita. Menguduskan nama-Nya berarti, kita menjadikan Allah Bapa sebagai yang teristimewa, terkhusus di dalam hidup kita. Dengan demikian sekaligus, kita menomorsatukan Allah dalam hidupkita, dan dengan demikian, harus disadari menomorsatukan Allah berarti juga menomorsatukan kehidupan ilahi…atau hidup dituntun oleh daya ilahi (Roh Kudus). Ketiga, dengan tuntunan hidup ilahi, kita semakin rindu untuk mengalami kepenuhan hidup, “makanan yang secukupnya” untuk dapat mengampuni, untuk menghindari dosa, untuk bebas dari pencobaan, lepas dari yang jahat, dan siap sedia menantikan kerajaan-Nya.





Senin, 18 Oktober 2010

SPIRITUALITAS EVANGELISASI

Dari mana seorang penginjil memperoleh hikmat dan kuasa.

1. Kuasa karismatik
Yaitu kuasa yang diberikan oleh kehadiran dan tindakan Roh Kudus dan kekuatan Allah. Yesus mengalami hal ini, bukan hanya dari ketergantungannya dan keterbukaanNya yang tak bersyarat, tetapi juga karena Ia menerima perutusan dari Allah sendiri.
Kita jangan bimbang dan ragu untuk menginjil. Yesus sendiri bersabda: ”Sesungguhnya Aku telah memberikan kamu kuasa untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh.”

2. Kitab Suci sumber kekuatan.
Dalam Kitab Suci ada gambaran yang pantas dan lengkap tentang spiritualitas evangelisasi. Kepada nabi Yehezkiel Tuhan bersabda:”Makanlah gulungan kitab ini dn isilah perutmu dengan itu.” (Yeh 3:1-3)
Bagaimana kita mau mewartakan Kabar Baik, tentang Yesus jika kita tak mengenal Kitab suci. Di paroki Maria Bunda Karmel, manfaatkanlah pertemuan Kerasulan Kitab Suci yang diselenggarakan tiap Kamis malam; kursus Pendalaman Kitab Suci KAJ yang terdiri dari beberapa modul dan Kursus Evangelisasi Pribadi/PDKK.

3. Jauhilah kejahatan.
Jangan kita menyembah Allah dengan bibir saja sedangkan perbuatan tidak mendukung . Bukan pahala dari surga yang kita peroleh tetapi hukuman yang akan menjemput kita.
Jangan merasa sok suci. Bertobatlah terus menerus. Santo Paulus yang melakukan tiga perjalanan besar mewartakan Injil Tuhan masih mengakui:”diantara orang yang berdosa, akulah yang paling berdosa.”
Kita perlu mengosongkan diri dan menjauhi kelekatan dengan tawaran dunia dan mau hidup bagi Tuhan saja.

4. Allah adalah kasih
Aristoteles mengatakan: ”Allah menggerakkan dunia sejauh Ia dicintai”
Sebelum mewartakan Yesus kepada dunia, kita harus mewartakan cinta kasih Allah kepada dunia. Terlebih lagi “ membagikan kasih Bapa yang menjadi manusia ”Suka cita dan cinta kasih terkandung dalam amanat agung Kristus.

5. Mintalah Pantekosta baru.
Daya dan kuasa yang berhasil guna hanya berasal dari tindakan Roh Kudus yang langsung dan berdaulat yang diperlengkapi dengan kuasa dari tempat tinggi. Yesus yang memiliki kepenuhan Roh Kudus mau dibaptis oleh Yohanes Pemandi yang seorang awam. Injil tanpa Roh Kudus adalah huruf mati.

(Sumber: SAWI 1994)

Pesan Paus Minggu Misi 84 tanggal 24 Oktober 2010

PESAN BAPA SUCI BENEDIKTUS XVI
untuk
HARI MINGGU MISI (EVANGELISASI)
24 Oktober 2010
MEMBANGUN PERSEKUTUAN GEREJANI
ADALAH
KUNCI MISI



Saudara- Saudari terkasih,
Bulan Oktober dengan perayaan Hari Minggu Evangelisasi, memberi kesempatan kepada keuskupan-keuskupan, paroki-paroki, tarekat-tarekat hidup bakti, serikat-serikat gerejani dan kepada seluruh umat untuk membarui komitmen mereka terhadap pewartaan Injil dan kegiatan pastoral dengan semangat misioner yang lebih besar.

Peristiwa tahunan ini mengajak kita untuk menghayati liturgi, katekese, karya sosio-karitatif-kultural secara lebih intensif yang semuanya merupakan ajakan Tuhan Yesus agar kita berhimpun pada meja Sabda-Nya dan Ekaristi, sebab Ia menghendaki kita merasakan kehadiran-Nya, bimbingan-Nya, supaya kita semakin bersatu dengan Dia sebagai Guru dan Tuhan.

Yesus menyatakan,"Barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya." (Yoh 14:21). Hanya berpangkal pada perjumpaan dengan kasih Allah ini - yang berdaya mengubah seluruh eksistensi kita - kita bisa hidup bersatu dengan Dia dan rukun di antara kita serta memberi kesaksian yang meyakinkan "kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kita tentang pengharapan yang ada pada kita" (1Ptr 3:15). Hanya iman yang dewasa - yang berpegang pada Allah seperti anak terhadap bapanya, yang dihidupi oleh doa, oleh renungan atas sabda Allah dan dengan memperlajari tentang kebenaran-kebenaran iman - akan mampu membangun masyarakat baru berdasarkan Injil Yesus Kristus.

Juga pada bulan Oktober, banyak negara melakukan berbagai aktivitas gerejani setelah masa liburan musim panas. Gereja mengajak kita semua untuk belajar dari Bunda Maria memperhatikan rencana kasih Allah Bapa atas umat manusia, sehingga kita pun mencintai umat manusia seperti Bapa mencintai mereka. Dan ini bukan lain dari pada tujuan misi Gereja.
Allah Bapa memanggil kita menjadi anak-anak-Nya dalam diri Anak-Nya yang terkasih Yesus Kristus dan memanggil kita hidup sebagai saudara satu sama lain. Yesus dikaruniakan oleh Bapa untuk menyelamatkan umat manusia yang terpecah belah oleh pertengkaran dan dosa, dan untuk menghadirkan wajah Allah yang benar "yang begitu besar kasih-Nya akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Yoh 3:16).

Dalam injilnya, Yohanes mencatat bahwa di antara masyarakat yang naik ke Yerusalem untuk merayakan Paskah terdapat beberapa orang Yunani. Mereka pergi kepada Filipus dan minta,"Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus." (Yoh 12:21). Permintaan mereka bergema juga dalam hati kita di bulan Oktober ini, untuk mengingatkan bahwa tanggung jawab dan tugas perutusan mewartakan Injil, yaitu membantu manusia bertemu dengan Yesus, merupakan tugas utama perutusan seluruh Gereja. (Ad gentes, 2).

Di tengah-tengah masyarakat multi-etnik zaman ini yang mengalami kekosongan batin dan ketakpedulian terhadap sesama yang memrihatinkan, murid-murid Yesus terpanggil menampilkan tanda-tanda harapan dan menjalin suatu persaudaraan yang universal (=Katolik) dengan menerapkan nilai-nilai luhur yang membarui sejarah. Selain itu, secara nyata dan dengan berani, mereka terpanggil menjadikan bumi ini rumah semua orang.

Manusia zaman ini, seperti peziarah-peziarah Yunani 2000 tahun yang lalu, mungkin tanpa menyadarinya, meminta supaya umat beriman jangan hanya ‘berbicara' tentang Yesus, melainkan supaya ‘memperlihatkan' Yesus, wajah Sang Penyelamat, di setiap penjuru dunia kepada generasi millennium ini, terutama kepada kaum muda di masing-masing benua, sebab merekalah pendengar dan pewarta injil yang terpilih. Manusia zaman ini harus mengalami bahwa kaum Kristiani mewartakan Sabda Kristus sebab Dialah kebenaran, sebab dalam Dialah orang-orang Kristiani telah menemukan jawaban dan makna bagi hidup mereka.
Pengarahan saya ini bermaksud memfokuskan tugas perutusan yang dilimpahkan kepada seluruh Gereja dan kepada masing-masing anggotanya. Tugas perutusan Gereja akan menyentuh hati manusia hanya kalau mekar dari pertobatan pribadi, komuniter dan pastoral yang sejati.

Tugas perutusan mewartakan Injil mendesak setiap murid Yesus, semua keuskupan dan paroki untuk menjalankan suatu pembaruan diri yang mendalam dan membuka hati pada kerja sama antar Gereja-gereja lokal agar pesan Injil sampai pada hati setiap orang, setiap bangsa, budaya, suku di seantero dunia.

Kerja sama antar Gereja-gereja lokal menjadi nyata dan berkembang melalui karya Imam-imam Fidei donum, serikat-serikat misioner, para biarawan-biarawati, awam-awam misioner yang mengarah pada suatu persatuan gerejani yang semakin mantap di mana pluralitas budaya pun menemukan keharmonisan. Dalam pluralitas budaya, Injil berpeluang bekerja sebagai ragi bagi berkembangnya kebebasan dan kesejahteraan, serta sebagai sumber persaudaraan, kerendahan hati dan damai (Ad gentes 8). Dalam Kristus, Gereja menjadi sakramen, yaitu tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia. (Lumen gentium, 1)

Kesatuan Gereja lahir dari perjumpaan dengan Yesus Kristus, Putra Allah. Melalui pewartaan Gereja, Kristus menjangkau semua orang dan menciptakan kesatuan dengan diri-Nya, dengan Bapa dan Roh Kudus (1Yoh 1:3). Kristus menciptakan hubungan yang baru antara manusia dengan Allah. Ia mewahyukan bahwa "Allah adalah kasih" (1Yoh 4:8) dan sekaligus Ia menetapkan ‘perintah baru cinta kasih' sebagai hukum utama bagi kesempurnaan manusiawi - dan karena itu - untuk pembaruan dunia. Dan Kristus menjamin kepada semua orang yang percaya akan kasih sayang ilahi," bahwa jalan cinta kasih terbuka bagi semua orang, dan bahwa usaha untuk membangun persaudaraan universal tidak akan percuma. (Gaudium et spes, 38).

Gereja dibentuk menjadi ‘Persekutuan' oleh Ekaristi, di mana Kristus, yang hadir dalam roti dan anggur, berkat kurban cinta kasih-Nya mendirikan Gereja sebagai tubuh-Nya, dengan menyatukan kita dengan Allah Tritunggal dan menyatukan kita satu sama lain. (1Kor 10:1dst). Sebagaimana sudah saya tulis dalam Anjuran apostolik Sacramentum Caritatis,"Kita tidak bisa menyimpan bagi diri kita saja cinta kasih yang kita rayakan dalam sakramen, karena hakekatnya cinta itu dibagikan kepada semua orang. Apa yang dibutuhkan dunia adalah cinta kasih Allah, adalah perjumpaan dengan Kristus dan percaya kepada-Nya."(n.84). Oleh karena itu Ekaristi bukan hanya sumber dan tujuan kehidupan Gereja, tetapi juga sumber dan tujuan misi Gereja, Gereja yang ekaristis sejatinya adalah Gereja yang misioner, Gereja yang mampu mewartakan secara meyakinkan bahwa, "Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami." (1Yoh 1:3)

Saudara sekalian yang terkasih, pada hari Minggu Misi ini di mana mata hati kita terbuka untuk menjangkau luasnya tugas misi, hendaknya kita memastikan diri sebagai pelaku dalam melaksanan tugas Gereja mewartakan Injil. Semangat misioner tetap merupakan tanda vitalitas Gereja-Gereja Lokal kita (R.M, 2) dan kerjasama antar Gereja-Gereja Lokal menjadi bukti kokoh kesatuhan, persaudaraan dan solidaritas. Ciri-ciri ini merupakan jaminan bagi dunia bahwa pewartaan Kasih Yang Menyelamatkan sungguh dapat dipercaya!

Sekali lagi saya ajak saudara sekalian untuk berdoa dan - kendati dunia dilanda krisis ekonomi - membantu juga secara konkrit Gereja-Gereja muda. Bantuan tanda kasih ini akan diserahkan kepada Karya Kepausan untuk Evangelisasi (kepadanya saya haturkan terima kasih saya), yang kemudian akan diteruskan untuk membantu pembinaan para imam, seminaris-seminaris, katekis-katekis di daerah-daerah misi dan untuk mendukung komunitas-komunitas Gereja muda.

Sebagai penutup pesan tahunan ini untuk Hari Misi (Evanglisasi) sedunia, saya ingin menyatakan cinta kasih dan pengharaan saya bagi semua misionaris, laki-laki dan perempuan, yang menjadi saksi Kerajaan Allah di daerah terpencil dan sulit yang kadangkala menuntut penyerahan hidup. Bagi merekalah persaudaraan dan dukungan dari seluruh kaum beriman! Semoga Allah "yang mengasihi orang yang memberi dengan sukacita" (2Kor 9:7) menganugerahi mereka semangat dan kebahagiaan yang mendalam.
Sebagaimana Maria, demikian pula setiap komunitas gerejani yang mengakatan "ya' kepada panggilan Ilahi untuk melayani sesama dalam kasih, akan menjadi suatu komunitas dengan corak keibuan dan rasuli (Gal 4 : 4. 19.26), yang karena terpesona oleh misteri kasih Allah - "yang setelah genap waktunya, mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan" (Gal 4 : 4) - ia akan melahirkan rasul-rasul baru yang penuh semangat dan berani. Tanggapan akan kasih Allah itu akan menjadikan komunitas Kristiani "bersukacita dalam pengharapan" untuk membangun rencana Allah yang menghendaki "agar segenap umat manusia mewujudkan satu Umat Allah, bersatu-padu menjadi satu Tubuh Kristus serta dibangun menjadi satu kenisah Roh Kudus" (Ad gentes, 7).


Dari Vatikan, 6 Februari 2010
BENEDIKTUS PP. XVI