Sabtu, 19 Februari 2011

TERIMA KASIH UMATKU

15 November 2007 – 19/20 Februari 2011, tak terasa 3th 3bln 5hr, si BLACK singgah diperhentian ini. Banyak sekali kegembiraan, tapi tak dipungkiri pula ada keprihatinan yang masih berkecamuk dalam hatinya. Pikirannya mencoba meloncati awan-awan hitam yang menutup langit biru, berharap menggapai bintang kejora nun jauh di lubuk semesta. Hatinya bergejolak, membentuk asa yang bergantung di awang-awang, siapakah yang akan meraihnya? Jeng Maria hanya bisa melihat, tuk rengkuh hatinya, ada apa dengan dia? Jeng Maria tahu bahwa kepergian si BLACK, memunculkan rasa kehilangan bagi banyak orang. Kehadirannya sungguh memberikan: semangat tuk terlibat, asa untuk berdaya, rasa tuk mencinta, tetapi tak dipungkiri pula, kehadirannya menjadi alang-alang bagi kecenderungan hidup yang hanya menuruti rasa senang. Jeng Maria mencoba tuk menerka-nerka, apakah yang berkecamuk di dalam hatinya????
“Black, koq pindah to??? Mbok jangan pindah!” Sapaan akrab Jeng Maria kepadaku, untuk menyebutku, romo! Sambil mimblik-mimblik menahan tangis, dikuatkanlah hatinya. “Maluu banget khan nangis di hadapan romoku yang nggantheng iki. Aku harus kuat! Meski kusadar aku begitu kehilangan!” Batin Jeng Maria sembari mengusap matanya yang mulai mrebes mili. “Koq cepat sekali, BLACK! Baru saja aku mulai dekat, mendadak sekali kamu pindah!” lanjut Jeng Maria sajak tidak rela dengan kepindahanku.


Itulah sekelumit kisah dari beberapa umatnya Jeng Maria, yang mewakili banyak yang lain, yang terekam dalam otakku saat aku mulai pamitan di lingkungan-lingkungan dan kapel dan ketika umat mulai tahu bahwa aku pindah. Meski sekali lagi, akupun mendengar bahwa kepindahanku juga membuat “senang” (klo tidak mau dikatakan “nyokurke”), bagi beberapa orang. Aku sadar itu, dan aku tidak akan memungkirinya. Kehadiranku tentu membawa pengaruh positif dan pula bisa jadi negatif, bagai dua sisi mata uang yang tak terpisah. Tidakkah begitu pula, dengan Yesus? Kehadiran dan karya-Nya pun tidak luput dari pro-kontra banyak orang Yahudi, pada waktu itu. Akan tetapi, visi dan misi tetap harus ditegakkan, jalan Tuhan harus diluruskan, yang tidak laras dengan semangat dan visi misi paroki, harus dibenarkan, seperti semangat Yohanes Pembaptis: “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan, dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.” (lih.Luk 3:4-6; Mat 3:3; Mrk 1:3)
“Wah, ya gimana ya, Jeng! Penginku sih juga mau berlama-lama di sini. Aku pun merasa sangat krasan dan gembira bisa hidup dan berbagi dengan seluruh umat. Banyak kisah yang penuh kasih, aku terima dari umat; banyak kasih yang penuh kisah, semakin meneguhkan arah dan gambaran imamatku. Tapi…..ya inilah yang namanya ketaatan, Jeng! Kadangkala, kita menginginkan sesuatu, tetapi kenyataan memberi yang lain….di sinilah ketaatan menjadi nyata. Seperti kata Yesus: bukan kehendakku yang terjadi, melainkan kehendakmu. Kayak kata-katamu juga, khan?” jawabku, untuk menenangkan hatinya.
“Tapi, njur sing ngopeni pepadhang sopo? Lha kamu tuh nganeni je, kotbahe ga marai ngantuk!” lanjut Jeng Maria, tetap belum mau terima. Tiga tahun, tiga bulan, lima hari sampai detik ini, aku berada di sini. “Romo koq imut to? (ireng mutlak –maksudnya)”, batin Jeng Maria waktu pertama kali melihatku, dari bangku tengah gereja, saat aku mimpin misa pertama kalinya. “Romo koq masih muda, baru lagi…! Wah..jan! sak pantarane anaku mbarep, je! Apalagi nek klecas-klecis ngrokok LA merah kesanyangannya…. ckckck….kaget aku! Romo koq ngrokok, ki loh! Bennnn….tak sembahyangke wae ben ngurangi le ngrokok!” batin Jeng Maria. Banyak komentar-komentar muncul saat kehadiran perdanaku di sini. Itulah tanda kasih dan perhatian dari umat yang hendak momong dan ngemong aku, sebab aku adalah romo baru, masih balita kayak bayi yang baru lahir, dan langsung berhadapan dengan dinamika umat yang mulai bangkit dan berkembang, waktu itu.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan….tiga tahun lebih telah berlalu. Pepadhang itu semakin tampak jelas. Aku pun semakin dekat dengan umat, berdinamika bersamanya. Begitu semangatnya aku, rasa-rasanya jangan sampai aku kalah dengan umat yang begitu bersemangat dalam membangun iman dan mengembangkan Gereja: dengan keterlibatan mereka, dengan pengorbanan tenaga, waktu dan bahkan harta mereka, demi melayani Yesus sebaik-baiknya. Aku yakin, pengorbanan umat tidak terhitung lagi jumlahnya untuk aku, untuk Gereja, untuk Yesus, meski aku tidak melihatnya, tapi aku bisa mendengar dan merasakannya: Pengorbanan waktu yang sebenarnya diperlukan untuk bercanda tawa dengan isteri, anak maupun tetangga, namun diberikannya dengan tulus, demi undanganku untuk rapat, untuk pelayanan Gereja, untuk hadir dalam ibadat dan ekaristi, dalam kegiatan-kegiatan Gereja. Pengorbanan tenaga dan pikiran diberikan pula, meski hampir-hampir lelah dan kantuk karena seharian bekerja keras memenuhi tanggungjawabnya, menghidupi keluarga dan anak-anak, agar dapur tetap mengepul. Pengorbanan harta, bahkan sampai-sampai menangung hutang atau menjual harta milik satu-satunya, demi dapat terlibat, ambil bagian dalam melayani Yesus. “Sungguh…luar biasa, Jeng! Umatmu ini!” ungkapku pada Jeng Maria, yang tampak tersenyum dan mulai terhibur karena kepergianku.
“Emang, BLACK, aku juga mengakuinya, umat kita ini, luar biasa!” kata Jeng Maria, sambil menatapku tegas. Matanya begitu indah dan berbinar-binar. Tatapannya begitu menggetarkan, dan itulah yang kerapkali membuatku terpesona. Dialah perempuan idaman…aku pun tergoda. Tatapannya membuat hatiku luluh tak berdaya untuk berkata tidak. Aku semakin mencintai Dia. Umat yang begitu luar biasa itulah yang membuatku untuk mengimbanginya dengan penuh kegembiraan. Aku pun sering melayani ekaristi, bahkan tiga/empat kali pun, kulakoni meski melanggar aturan….permintaan-permintaan dari luar paroki pun seringkali aku tolak, supaya aku bisa meladeni semangat umat yang begitu luar biasa itu…..sampai-sampai virus cinta mendatangiku…. cinta dari si cantik nan seksi. Dialah aides aigepti, perempuan sebelah yang sering menggodaku, mengintip dan mencumbuku dengan sengatnya yang tajam, saat aku terlena. Dialah si nyamuk demam berdarah, yang membuatku terkapar tak berdaya di rumah sakit sampai dua kali. Inilah kali pertama aku nginep di rumah sakit…inilah kedua kalinya aku terkulai lemas di sana….
“akankah aku mati, di sini, Jeng?” kataku kepada Jeng Maria yang waktu itu begitu setia menungguiku. “Sakit ini adalah anugerah, BLACK! Lihat saja, ntar!” hibur Jeng Maria. Benar saja, dengan peristiwa itu, pepadhang pun semakin jelas terlihat, sakit tidak perlu disesali, sakit perlulah dimaknai sebagai anugerah…sebagai karunia Allah yang menyapa…. dan menegaskanku bahwa aku… membutuhkan umat, demi keseimbangan. Aku tidak berarti apa-apa tanpa umat. Sebaliknya, imamatku menjadi berarti karena umat. Inilah pula yang mengubahku… menjadikanku untuk setia melayani dengan gembira, meski kadangkala nggrundel juga, saat lelah itu hinggap di ragaku; saat kemalasan dan kesombongan mudaku menggunduli semangatku. Namun, perjuangan untuk setia dalam pelayanan ….meski nggrundel pada awalnya, pada akhirnya membuahkan kegembiraan karena perjumpaan dengan umat yang tulus, sederhana dan begitu berharap akan kehadiranku sebagai imam, lebih-lebih ketika melayani sakramen minyak suci, melayani pemberkatan jenazah…melayani Ekaristi. Rasa bahagia bertumbuh ketika aku dan kehadiranku memberikan kekuatan dan penghiburan bagi mereka yang berduka; memberikan pepadhang bagi mereka yang sedang berada dalam kegelapan.
“Trimakasih, Jeng! Kamu selalu ada untuk aku, mau mendengarkan curhatku, mau mendengarkan pula luapan kegembiraanku! kataku kepadanya. “Pergilah, kamu diutus! Seperti motto imamatmu khan: pergilah dan wartakanlah Injil!” sahut Jeng Maria sambil menjabat erat tanganku…lalu memelukku dengan kasih. Itulah sekelumit kisah yang penuh kasih, yang kurasakan; dan kasih yang tersamar dalam kisah yang aku alami. Tidak mewakili seluruhnya, tetapi semoga ini menjadi bintang-bintang yang terlihat di malam hari nan cerah, maupun bintang-bintang yang tersamar di siang hari nan terik, namun setia untuk memancarkan sinarnya.
Oleh karena itu,
Hanya ucapan terimakasih dan syukur, aku persembahkan kepada Allah Bapa, kepada Tuhan Yesus, dan kepada Roh Kudus pemelihara, atas keselamatan dan kehidupan; atas kekuatan dan karunia sehingga aku dapat menyelesaikan tugasku di paroki ini. Dia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kita, dan Dia pula yang pasti akan menyelesaikannya dengan sempurna. (bdk Flp 1:6).
Hanya ucapan terimakasih dan syukur, aku haturkan kepada seluruh umat: ibu dan bapak, atas perhatian, sapaan, perlindungan, kebersamaan dan persaudaraan. Kalian adalah bapak simbokku di sini. Aku bersyukur untuk itu. Terimakasih, teman-temanku, para sahabat, yang kerap kali menghabiskan waktu hingga larut malam denganku, untuk memikirkan Gereja, untuk diskusi, curhat dan sharing. Kalian adalah kakak-adikku di sini, yang membangkitkan kreatifitas dan kecintaan akan hidup yang dinamis. Terimakasih pula untuk kalian, adik-adikku misdinar, para remaja, dan teman-teman kecilku…meski kalian masih kecil, tapi kalian menjadi adik-adikku, yang mengajariku untuk melaksanakan tugas dengan gembira.
Aku katakan “hanya” karena ucapan terimakasih dan syukur rasa-rasanya tidak cukup untuk membalas kasih dan kebaikan yang telah Allah tritunggal anugerahkan kepadaku. Tidak cukup rasa-rasanya, kehadiranku di paroki ini, untuk membalas kasih dan kebaikan bapak-simbok, para sahabat dan teman-teman kecilku selama ini.
Akhir cerita,
Tetangga sebelah, anaknya menawan.
Kalo ada salah, aku mohon pengampunan.
Tetangga sebelah, berambut putih.
Selamat berpisah, dan terima kasih.



Kartasura, 19-20 Februari 2011
J-Christ
Berkah Dalem

Jumat, 18 Februari 2011

MATRIKS ROADMAP ARDAS KAS 2011 - 2015

Umat Allah Keuskupan Agung Semarang pada Tahun 2011 ini memulai dan mengarahkan diri pada terwujudnya umat Allah yang semakin signifikan dan relevan bagi seluruh umat dan masyarakat, serta dunia dimana umat hidup dan berdinamika dalam menegakkan kesejahteraan, keadilan, perdamaian dan demokrasi. Umat Allah berkehendak untuk semakin mampu terlibat dalam kancah kehidupan yang semakin baik, di dalam pluralitas masyarakat Indonesia dan keanekaragaman hayati yang dianugerahkan Allah bagi umat manusia.

Dalam rangka itu, Umat Allah Keuskupan Agung Semarang, bersama dengan masyarakat Indonesia hendak terlibat mewujudkan tatanan masyarakat yang semakin berkeadilan, penuh rasa perdamaian dan kerukunan, mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang demokratis, serta memiliki kepedulian pada kesejahteraan masyrakat dan alam semesta. Oleh karena itu, hal baru yang dikembangkan untuk mencapai tujuan tersebut, Umat Allah menggunakan metode dan tahap-tahap pelaksanaan Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang dengan ROADMAP atau peta jalan selama lima tahun ke depan (2011-2015) agar menjadi gerakan bersama seluruh Umat Allah Keuskupan Agung Semarang dalam keterlibatannya bersama seluruh masyarakat Indonesia.Adapun matriks ROADMAP yang hendak dikembangkan adalah sebagai berikut:









MENILAI KARAKTER PELAYANAN

Bercermin dari Yesus dan Keduabelas Rasul-Nya

Memandang Yesus dengan kacamata “manusia biasa seperti kita”.

Yesus adalah manusia biasa seperti kita, yang dilahirkan, tumbuh dan berkembang dengan segala karunia Allah yang diberikan, berkomunitas, dan akhirnya juga mati, seperti kita. Sebagai manusia biasa, istimewanya adalah Yesus sangat menyadari dirinya dan sungguh yakin sebagai yang diutus oleh Allah ke dunia, untuk menjadi pelayan (bdk Mat 20:28; Mrk 10:45), yaitu melayani umat manusia dan bahkan memberikan nyawanya menjadi tebusan bagi banyak orang. Itulah semangat awal yang ada pada Yesus sekaligus juga kesadaran diri yang sempurna akan martabat panggilan yang diberikan Allah kepada-Nya.

Sebagai manusia biasa seperti kita, Yesus pun menyadari akan lebih efektif dan efisien apabila pelayanan yang akan dilakukan-Nya, menyertakan dan melibatkan banyak orang. Apakah karena Yesus tidak mampu? Apakah karena Yesus tidak berani sendiri? Tidak diceritakan dalam injil. Tampaknya para penginjil, hendak mengajak kita memandang secara positif –sebab injil adalah kabar baik– bagaimana kita dapat meneladan Dia secara sempurna dalam karya pelayanan kita. Bahwa melibatkan dan menyertakan orang lain dalam karya pelayanan adalah hal yang positif dan amat sangat berdaya manfaat yang besar.

Sebagai manusia biasa seperti kita, Yesus di dalam usaha-Nya untuk melibatkan dan menyertakan orang lain menggunakan strategi atau “memilih” bukan untuk membeda-bedakan atau menyingkirkan yang lain, melainkan sekali lagi, secara positif, pilihan atau seleksi yang dilakukan Yesus supaya sungguh karya pelayanannya dapat dilakukan sesuai dengan visi misi hidup-Nya. Dengan memilih, kita boleh menebak-nebak bahwa orang-orang yang dipilihnya tersebut adalah pribadi-pribadi yang berkarakter, dan mendukung tercapainya tujuan pelayanan-Nya. Di sini kita boleh mengistilahkan bahwa pemilihan orang-orang yang dilibatkan Yesus merupakan seleksi strategis yang visioner. Hal ini dilakukan Yesus mengingat –kita tahu dalam injil– bahwa target waktu pelayanan yang dilakukan Yesus hanya tiga tahun. Maka, Yesus sungguh-sungguh sejak awal berupaya untuk membuat keputusan-keputusan yang visioner, yang sesuai dengan visi dan misi karya pelayanan-Nya tersebut, supaya –sekali lagi, tetap efektif dan efisien– dengan cara memilih orang-orang dan membuat mereka selama tiga tahun tersebut menjadi optimal dalam karya pelayanan-Nya.

Sebagai manusia biasa seperti kita, Yesus tidak memilih langsung banyak orang alias membabi buta. Yesus mencoba memilih orang-orang yang Dia kenal dan jumpai, yang Dia sapa dalam kerangka relasi-Nya dengan Allah. Ketika Yesus hendak memilih orang-orang yang akan terlibat dalam karya pelayanan-Nya, Dia berdoa semalam-malaman (Luk 6:12). Mengapa demikian? Inilah yang kita sebut sebagai discernment spirit (pembedaan Roh), supaya sungguh-sungguh pilihan yang dibuat oleh Yesus memang adalah kehendak Allah, melibatkan Allah dan dibimbing oleh Roh sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang Yesus pilih, pertama-tama bukan berdasarkan keinginan atau kecenderungannya sendiri –biasalah kecenderungan manusiawi kita khan kerap kali kita dasarkan pada suka/tidak suka; untung/rugi; dan sejenisnya– melainkan pertama-tama adalah kehendak Allah.


Sebagai manusia biasa seperti kita, Yesus tidak memilih langsung sesuai kuota, melainkan dari yang sedikit menuju banyak; dari hanya empat orang saja menuju dua belas orang, tujuh puluh orang, tujuh puluh dua orang dan seterusnya. Di sini kita boleh memaknai bahwa Yesus berupaya untuk menghidupkan dan memelihara dengan setia yang sedikit, yang kawanan yang kecil (bdk Luk 16:10). Sebab, Yesus tentu sangat menyadari bahwa dari yang kecil, yang sedikit, akan didapatinya yang banyak, yang besar.


Sebagai manusia biasa seperti kita, Yesus tidak memonopoli karya pelayanannya meskipun Dia yang memiliki tanggungjawab penuh tercapainya secara sempurna tujuan pelayanan-Nya. Yesus menyadari bahwa karunia Allah diberikan kepada siapa saja, termasuk kelompok kecil murid-murid yang dipilih-Nya tersebut. Oleh karena itu, Yesus pun kerap kali share dan berdiskusi dengan murid-murid-Nya dan bahkan dengan kelompok-kelompok lain, seperti ahli Taurat, pemuka Farisi dan pemuka Yahudi, meskipun kelompok-kelompok lain tersebut bertujuan untuk menyerang atau menghalang-halangi karya pelayanan Yesus. Hal ini tampak misalnya ketika Yesus meminta pendapat Simon Petrus mengenai Raja yang memungut pajak (Mat 17:25); atau tentang domba yang hilang (Mat 18:12) atau tentang siapakah Dia (Mrk 8:27-30); dengan tua-tua bangsa Yahudi dan imam-imam kepala (Mat 21:23-32); dengan orang-orang Farisi dan ahli Taurat (Mat 22:34-46). Yesus terbuka pada siapapun di dalam karya pelayanannya meskipun tidak semua orang mendukung dan bangkan mencoba untuk menyerang Dia. Keterbukaan inilah, tampaknya yang menjadikan Yesus semakin mampu mengambil sikap yang tepat, bijaksana sekaligus tegas dalam melakukan karya pelayanan-Nya.


Sebagai manusia biasa seperti kita, Yesus pun tidak melupakan yang namanya kontinuitas (regenerasi pelayan). Dalam melaksanakan karya pelayanan-Nya, Yesus sekaligus juga mengajar murid-murid-Nya untuk siap menjadi pelayan yang mandiri –dan jangan lupa– visioner!, baik sebagai pribadi maupun sebagai kelompok murid. Secara khusus dan intern, Yesus melatih para muridnya untuk mengetahui secara pasti apa yang menjadi tujuan karya pelayanan-Nya supaya sungguh-sungguh para murid tahu dan paham betul –consientia– (bdk Mrk 8:31-33; Mrk 9:30-32; serta juga melatih mereka dengan praktek pengalaman konkrit (bdk Mat 11:1; Mrk 6:7; Luk 10:1). Hal ini dilakukan Yesus karena Dia sungguh menyadari bahwa karya pelayanan tidak berhenti hanya pada Dia, melainkan pelayanan yang menyejarah, yang terus berlangsung dalam ruang dan waktu, sampa seluruh umat manusia memperoleh buah penebusan-Nya.


Dan sebagai manusia biasa seperti kita, Yesus melakukan karya pelayanannya sampai tuntas..tas…tas!! Totalitas karya pelayanan-Nya tidak hanya terlihat dalam waktu yang Dia gunakan, di mana di setiap kesempatan, Yesus melakukan karya pelayanan: ketika dalam perjalanan, ketika berkunjung ke rumah orang, dalam kesempatan ibadat di sinagoga, siang dan malam; atau dalam ruang yang Dia manfaatkan: di gunung, di danau, di dataran, di tengah jalan, di Sinagoga atau di Bait Allah; melainkan juga totalitas itu tampak dalam finishing life –hidup yang diselesaikannya– yaitu ketika menjelang wafat-Nya Dia mengatakan “sudah selesai!” (Yoh 19:30).

J-Christ

Rabu, 16 Februari 2011

Katekese Untuk Katekis dan Pengajar Gereja

Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang 2011-2015 mengajak kita semua, Umat Allah Keuskupan Agung Semarang, menjadi murid-murid Yesus Kristus yang militan dan misioner, yang ditandai dengan salah satunya adalah tumbuh dan berkembangnya iman yang mendalam dan tangguh di tengah-tengah dinamika kehidupan zaman ini. Menumbuhkan iman yang mendalam dan tangguh serta menggembangkannya menjadi tugas utama kita semua baik imam, kaum religius dan umat awam. Di sinilah peran imam, yang dibantu oleh para katekis-katekis paroki serta pengajar-pengajar Gereja menjadi salah satu kunci utama, selain peran seluruh umat dalam optimalisasi peranan masing-masing dalam kehidupan Gereja. Imam, katekis dan pengajar-pengajar Gereja menjadi "Nabi" Gereja yang mengenalkan, mengakarkan serta membantu umat beriman semakin memiliki iman yang mendalam dan tangguh.

Oleh karena itu, tulisan ini mudah-mudahan membantu sedikit dalam meningkatkan peranan serta semangat bagi para imam, katekis dan pengajar Gereja untuk terlibat aktif secara tulus dan rendah hati, dengan meneladan bagaimana Kristus sendiri mengajar dan mewartakan Kerajaan Allah bagi murid-murid-Nya serta semua orang yang disapa-Nya. Kristus menjadi Guru sejati Kita, yang tentu saja sekaligus contoh sempurna supaya kita pun mampu hadir secara signifikan dan relevan bagi umat sekarang.